
"Geledah semua ruangan jangan sampai ada yang terlewat" perintah Haiden sambil menatap lekat-lekat Willy yang duduk santai sambil mengepulkan asap rokoknya.
Beberapa menit berlalu mereka semua kembali dan memberi isyarat tak menemukan apapun. Willy berdiri dengan santainya menghampiri Haiden.
"Apa yang kau lakukan, katakan" amarah Haiden berkobar menarik kembali kerah kemeja Willy.
"Hah, apa aku tidak salah dengar, kau tanya kepadaku, harusnya aku yang bertanya padamu, kenapa dia bisa pergi meninggalkan-mu," Willy menepis tangan Haiden, kali ini dia mulai membalas tatapan kemarahan yang sama dengan Haiden.
"Jaga bicara-mu, katakan dimana dia, kau jangan berbohong, aku jelas mengecek ponselnya, terakhir kali orang yang menghubunginya adalah kau... " mendelik dengan api cemburu dan marah.
"Hahaha... hahaha... " tawa Willy bergema merauk wajahnya dengan kasar, " Seandainya itu benar terjadi dan dia berlari kearahku, dia akan kudekap, dan tak akan pernah aku melepaskannya..." ucapan Willy penuh kegilaan.
"Brengsek!!" Haiden meninju kembali wajah Willy hingga tubuhnya tersungkur di lantai, Ramon dan para pengawal Willy pun geram tidak terima Tuannya di perlakuan seperti itu, namun Willy tetap melarangnya untuk memberikan serangan balik.
"Aku tidak akan menyerah, sekali saja kutemukan kau ikut andil dalam masalah ini aku tak akan segen untuk membunuh-mu" ancam Haiden di atas tubuh Willy, menarik kerah baju Willy, Willy hanya membalas dengan tawanya yang bergema di seluruh ruangan.
"Tuan, tenanglah ..." John melerai, menarik tubuh Tuannya dari tubuh Willy, membawa Haiden pergi dari kediaman Willy.
Willy bangkit, menghapus darah yang keluar dari bibirnya, melihat kepergian Haiden, Willy tersenyum puas.
"Tuan" Ramon menepuk pundak Tuannya.
"Bagaimana kondisi-nya?"
"Tuan Carlos bilang sudah stabil, hanya saja dia masih belum sadar" lapor Ramon.
"Brengsek, cari tahu apa yang wanita gila itu katakan, laporkan padaku, tanganku sendiri yang akan menghabisinnya" perintah Willy geram dengan tatapan membunuh.
"Wanita gila tak berguna, berani sekali dia mengusik dan membuat wanitaku terluka, rupanya kau sudah bosan hidup." Umpat Willy penuh kemarahan.
.
__ADS_1
.
.
Haiden kembali ke apartemennya, ia berharap Dominique sudah pulang dan menyambut kedatangan-nya. Namun saat dia membuka pintu apartemennya tak ada seorang pun yang menyambut, semua terasa gelap, sepi dan hatinya kosong.
John menyaksikan lagi keterpurukan Tuannya sama dengan 10 tahun lalu saat dia harus meninggalkan Dominique pergi, ia bahkan tidak akan menyangka untuk kedua kalinya dia melihat sisi terburuk Tuannya lagi.
"Dominique sayang..., dimana kau, maafkan aku... yang belum bisa menjagamu dengan baik..." tangis Haiden pecah sambil memeluk baju Dominique di dalam kamar mereka, "Kembalilah sayang... aku merindukanmu.. " Haiden yang terlihat hampir gila.
John menutup pintu kamar Tuannya perlahan. Tangannya menarima telpon dari seseorang yang melaporkan sesuatu dan mengirimkan beberapa foto padanya. John menyuruh beberapa pengawal berjaga di depan pintu Haiden dan apartemennya sementara dia pergi.
John menerima laporan terakhir dari orang yang terus mengawasi Dominique, saat ini dia tak mungkin menyampaikan berita tersebut kepada Tuannya, John tidak ingin Tuannya emosi terhadap berita tersebut. Dengan marah John meninggal apartemen Haiden. John mendatangi hotel seseorang.
Pintu bel hotel berbunyi, seseorang membuka pintu, Rebecca berdiri di ambang pintu bersama Terry.
"Saya sudah peringatkan untuk menjaga sikap anda Nona, jangan melampaui batas kesabaran saya" John mencekik leher Rebecca hingga tersungkur ke tembok. Rebecca berusaha keras melepaskan cengkraman erat John dari lehernya. John menghempaskan Rebecca yang sudah kesulitan bernafas.
"Anda jangan pura-pura bodoh Nona, anda pasti mengerti arah pembicaraan saya" menatap tajam Rebecca yang tubuhnya masih bergetar.
"Apa salahkan-ku, hah... apa aku salah mempertahankan apa yang seharusnya aku miliki. Hakku. Aku sudah cukup lama bersabar, apa aku salah kalau sekarang aku memperjuangkan cintaku" ucap Rebecca penuh kemarahan, dadanya bergetar sakit.
"Aku juga wanita... yang ingin dicintai, salahkah aku memperjuangkannya?" teriak Rebecca bercucuran airmata.
"Saya tidak bilang anda tidak boleh memperjuangkan apapun, tapi anda tahu dengan jelas posisi anda, bagaimana tuan memperlakukan anda sampai saat ini, tuan masih membiarkan anda tetap disisinya hanya karena almarhum kakaknya, jika bukan karena beliau, anda pasti tahu bagaimana nasib anda" seluruh tubuh Rebecca bergetar tak menyangka akan mendapatkan perlakuan seperti ini dari John yang dia anggap hanya seekor pelihara Haiden.
"Diam, tutup mulut-mu, aku tidak mau mendengarnya!" teriak Rebecca menjambak rambutnya sendiri.
"Saya tidak akan bermurah hati seperti tuan, Nona pasti tahu saya seperti apa" John berdiri setelah memberi ancaman kepada Rebecca. Rebecca mengeratkan gigi dan menggigit bibirnya, tangannya mengepal penuh kemarahan.
"Diam! Diam! Aku bilang tutup mulut-mu" Mata mendelik kemerahan karena menahan emosinya.
__ADS_1
"Dan satu lagi, jangan gunakan Tuan Terry untuk mengancam Nyonya Dominique lagi, anda pasti tahu... jika sampai Tuan Haiden tahu masalah ini, saya yakin anda tidak akan pernah membayangkan hal buruk apa yang menimpa anda" John meninggalkan Rebecca yang matanya memendam amarah yang besar terhadap karena John sudah mengetahui rencananya.
Kau itu hanya seekor pelihara, berani sekali mengigit Tuannya, aku pastikan suatu hari nanti aku pasti akan membunuhmu. Ancam Rebecca.
.
.
.
Di negara N.
Willy duduk gelisah sambil memegangi tangan Dominique di sudut ranjang kamarnya, sudah hampir satu minggu ini dia terus berada di samping Dominique menjaganya dengan penuh perhatian dan kasih sayang, namun sedikit pun Dominique belum menunjukkan tanda-tanda kesadaran.
"Istirahat-lah, biar aku gantian yang menjaganya, kau tak perlu khawatir dia sudah melewati masa kritisnya" suara seseorang menepuk pundak Willy.
"Istirahat, bahkan kau memberi ide yang tidak masuk akal" Willy mengangkat wajahnya, rahangnya mengeras seketika menyipitkan matanya dengan tajam kepada orang tadi, "Kau pikir aku bodoh Carlos, dia sudah melewati krisis katamu, tapi kenapa sampai saat ini dia belum sadar" hardik Willy.
"Tenanglah... jangan emosi, ini karena keadaan jiwanya yang menolak untuk sadar, dia tidak berkeinginan untuk hidup, jadi kita hanya bisa menunggu keajaiban dari Tuhan, Dominique sendiri yang berjuang untuk sadar... " jelas lelaki yang bernama Carlos tadi.
"Kau gila Carlos, aku membawamu kesini bukan untuk mengatakan hal seperti itu, aku ingin dia sadar dan sembuh, sekarang!!" teriak Willy matanya memerah mengeluarkan amarah.
"Dari bicara-mu, kau meremehkan aku?" Carlos yang tersulut emosi oleh Willy.
"Dengan Carlos, Dia wanitaku. Wanita pertama dalam hidupku yang berani menghancurkan tembok kuat yang kubangun, jadi aku mohon..., selamatkan lah dia" pinta Willy memohon, memelas dengan putus asa dan ketulusannya.
Pertama kalinya bagi Ramon dan Carlos melihat teman yang juga atasannya, biasanya terkenal dingin terhadap semua wanita, dan kini mereka tidak menyangka wanita yang di sukai temannya itu adalah seorang perempuan lemah dan biasa...
.
.
__ADS_1
. Bersambung