MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Senjata Imut


__ADS_3

Dominique membekap mulut dengan kedua tangannya.


Dominique berjalan pelan menghampiri Justin, tangan dan tubuhnya bergetar hebat, tak terasa airmatanya jatuh berderai.


"Kenapa bisa sampai seperti ini Pak" dengan isak pelan yang terdengar Dominique bertanya.


"Kami hanya tahu, ada sebuah truk yang menabraknya, setelah diperiksa polisi, pengemudi truk positive mabuk, si pengemudi akan bertanggung jawab menanggung semua biaya, jadi dia dibebaskan dari jeratan hukuman" jelas Pak Dave yang mengetahui sedikit kronologi kecelakaan yang menimpa Justin.


Dominique tak sanggup berkata-kata, dadanya terasa sesak, bagaimanapun Dominique mengharap dan menantikan sesuatu yang berakhir bahagia dengan Justin.


Dominique berencana menerima Cinta Justin kalau dia mengutarakannya,


Dominique mungkin saja akan bersedia menikah dengan Justin apabila Justin memintanya untuk menjadi istrinya, Dominique juga ingin bahagia.


"Maaf, jam besuk habis" seorang perawat memberitahu.


Kami pun segera keluar ruangan.


Pak Dave mengantarkan Dominique, jam menunjukkan pukul sepuluh malam.


Dominique meminta diturunkan di depan nasi goreng langganannya. Perutnya terasa lapar dan lelah setelah menguras energinya seharian, ia ingin segera mengubur dirinya dibalik selimut.


Dominique memesan nasi goreng seperti biasanya, setelah pesanan selesai, ia segera berjalan pelan menuju rumah sewaannya.


Dominique membuka pintu, dan menutup pintunya kembali, melempar tasnya sembarangan ke kursi dan saat akan menaruh nasi goreng di meja makannya,


matanya takjub dengan yang ada didepan matanya,


meja makan Kecilmya sudah disulap menjadi dinner table lengkap dengan makanan dan lilin romantisnya.


Dinner table???



Mata Dominique membulat lebar dan segera berbalik.


please, jangan bilang itu dia.


Bungkusan nasi goreng yang Dominique pegang terjatuh dilantai.


Mata Dominique tepat bertatapan dengan Haiden yang sudah duduk dikursi memegangi tas yang dilempar Dominique sembarangan tadi, dan John ada dibelakangnya.


Tatapan marah dan kesal langsung terpancar dari wajah Haiden.


"Kau sedang apa, bagaimana kau bisa masuk ke dalam rumahku" Dominique kesal menghampiri Haiden.


"Rumahmu? Kau tidak salah?" seringai Haiden.


"OMG, jangan bilang kau" Dominique menepuk jidatnya,


segera mengeluarkan ponsel dari saku jeansnya, Walau terlihat tidak sopan malam-malam menghubungi seseorang,


tapi harus Dominique lakukan untuk memastikan semua yang ada dalam benak Dominique.


Setelah sambungan terjadi Dominique hanya bisa menatap lemas Haiden. Mengecek sesuatu dalam ponselnya.


Hari ini Dominique benar-benar lelah dengan semua yang terjadi.


Ya__tuhan, sikap posesif dan diktatornya masih saja sama, selalu seenaknya.


Dominique hanya menggeleng tidak percaya.


"Bagaimana" tatap Haiden tajam pada Dominique yang Haiden rasa Dominique sudah mengertahui jawabannya.


Dominique di beritahu pemilik rumah sewaannya bahwa dia telah menjual rumahnya kepada seseorang, tentu saja dengan bayaran yang sangat besar,


dan pemilik rumah mengembalikan uang sewa Dominique yang telah diterimanya.

__ADS_1


Dominique terjatuh lemas dilantai, Haiden menghampiri Dominique, dagu Dominique ditarik paksa untuk menatap wajah Haiden.


"Jangan bermain lagi, apa hadiahku di rumah sakit masih belum cukup untukmu" ucap Haiden dengan Nada penuh ancaman.


hadiahku, di rumah sakit?? Jadi semua yang terjadi pada Justin adalah ulahnya.


Mataku mendelik hebat, bulu kuduk disekujur tubuhku kembali berdiri, tubuhku bergetar hebat.


Aku mengeleng pelan tidak percaya, sedang Haiden menganguk perlahan dengan tatapan membunuhnya.


Haiden melepaskan pegangan di dagu Dominique.


"Cepat bersihkan dirimu" Haiden berjalan kearah meja makan kecil Dominique dan duduk di salah satu kursi makan,


meninggalkan Dominique dengan tubuhnya yang masih bergetar hebat.


"Dominique" teriak Haiden penuh tekanan,


"Kau pasti tahu hukuman apa untuk seorang pembangkang" ancaman Haiden mengintimidasi Dominique.


Dominique melirik John yang di hadapannya, John bahkan tidak terusik dengan pertunjukan kecil Tuannya itu.


oh, Aku hampir lupa kalau dia sama saja dengan Tuannya. umpat Dominique kesal.


Dominique bangkit dari keterpurukkannya, ia berjalan malas menuju kamarnya.


Aggrrhh...rasanya ingin kucabik-cabik wajahnya.


Matanya kembali membulat lebar ketika melihat kamar kecilnya yang sudah dirubah menjadi kamar yang romantis.



(Visual kamar Dominique sebelumnya)



(Setelah di rubah Haiden)



"Haideeennn.... kau gila yaa" teriak Dominique penuh kegilaan.


"Apa kau ingin yang lebih gila lagi" saut Haiden.


Dominique keluar kamarnya, membawa handle dan isi kotak tadi, mulut Dominique manyun tidak karuan, mengumpat kesal, kulirik John sudah tidak Ada.


Kemana perginya manusia itu, disaat orang gila ini memulai penyiksaan, dia malah pergi. Seringaiku.


"kenapa masih berdiri, apa kau memintaku untuk menemanimu, kalau begitu memohonlah"


Dominique memutar bola matanya, meninggalkan Haiden masuk kamar mandi.



(Dominique)


Baru saja Dominique membuka pintu, Haiden sudah berdiri di hadapannya.


"Kenapa lama sekali" Haiden yang tidak sabaran.


"Aku tidak memintamu untuk menunggu" saut Dominique akan meninggalkan haiden, dia malah meraih tangan Dominique, "kau pasti tahu, hukuman apa untuk seseorang yang telah membiarkanku menunggu" tatapan haiden tajam.


"Kau suka sekali menghukumku, kita ini bukan anak sekolah lagi" Dominique tidak Mau kalah.


"Wah, wah, kau sudah mulai berani sekarang, semenjak kenal dengan lelaki brengsek itu, isi otakmu juga ikut dicuci hah, apa kau sudah lupa akan janjimu"


"Dia punya nama bukan lelaki brengsek, dia Justin" sautku tambah kesal.

__ADS_1


"Dominique" teriak Haiden


"Diaamm" Dominique menghempaskan kasar tangan Haiden.


Haiden yang ikut kesal, menjambak kasar rambut Dominique sehingga kepalanya terbalik menatap Haiden, "Kau cari mati, hah" intimidasi dan ancaman Haiden.


"Aw, sakit, lepas"


Bukan melepaskan, Haiden malah makin menjadi, amarah dan eratan dari giginya terdengar jelas.


"Maaf, maafkan Aku.. iden.. " hampir tak terdengar isak dari Dominique, mengiba pengampunan.


"Aku tidak mendengar apapun" hentak Haiden.


dasar malah pura-pura tidak mendengar.


Dominique malah menangis sejadinya.


Sial, dia mengeluarkan senjata imutnya, Aku jadi tidak akan tega.


Haiden mengendurkan jambakan rambut Dominique,


"maaf, maafkan Aku" sekali lagi Dominique meminta maaf, walaupun dia merasa tidak bersalah.


Haiden melepaskan rambut Dominique, dan menarik Dominique dalam pelukannya.


"Kau sejak dahulu selalu saja membuatku marah, kenapa kau tidak bersikap seperti wanita pada umumnya,hah" bisik di telinga Dominique tangan Haiden sudah mencengkram di leher Dominique sehingga Dominique sesak nafas.


Dominique mengepakkan tangannya pada tubuh Haiden.


Aku bisa mati kalau begini terus.


Setelah Haiden merasa puas menikmati penderitaan Dominique, ia melepaskan cengkraman leher Dominique.


Dominique menghirup udara sedalam dalamnya, tangannya memegangi lehernya.


Dia sungguh gila, Aku tidak percaya masih bisa bertemu kesialan seperti ini lagi.


Napas Dominique terdengar tidak beraturan.


"Mau berapa lama lagi Aku menunggu, apa yang barusan masih belum cukup"


Dominique menatap Haiden dengan Mata merahnya, lalu bangkit dan menghampiri Haiden yang sudah duduk menunggunya.


Dominique baru menarik kursinya, "Siapa bilang kau duduk di situ" Haiden mendorong bangkunya sedikit, memberi kode dengan tepukan pada pahanya.


Hah, Aku duduk disitu.


Aku menggelengkan kepala, Haiden membalasnya dengan anggukan.


Mau apa lagi dia, belum puas dia menyiksaku.


.. .. ..


...Bersambung...


Hallo semua Aku Aleena ,


baca cerita lainku yang berjudul :


✔ Dua Hati


✔ Elegi Cinta Yuki


✔ Silence


dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.

__ADS_1


Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.


Terimakasih dan selamat membaca


__ADS_2