MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Raja Budak Cinta


__ADS_3

“Dulu, aku begitu miskin dan melarat. Untuk bisa makan setiap haripun sangat kesulitan. Aku mengandalkan diriku sendiri hingga bisa mendapatkan posisi tertinggi seperti ini. Aku tidak akan pernah melupakan semua penghinaan keluarganya. Dia bahkan lebih tega, memilih keluarganya dan akan membawamu pergi. Aku tidak terima dan aku menculikmu. Aku juga ingin dia tahu bagaimana rasanya kehilangan harapan untuk hidup!” lanjut ayahnya bercerita. Sambil matanya menerawang jauh. Mengenang masa kelamnya.


“Aku sungguh mencintainya, dengan segenap jiwaku. Bahkan nyawaku ini, aku rela menyerahkannya. Namun, penghiantannya membuatku benci dan tak mempercayai lagi akan ketulusan cinta. Dia sudah berkhianat padaku dan memilih laki-laki ketimbang diriku, ayah kandungmu!” penekanannya masih dengan sorot mata penuh dengan kebencian.


Dia membenci orang yang paling dicintainya. Andai saja dia tahu jarak benci dan cinta itu tidak terlihat. Kadang mereka tersamarkan. Setidaknya itulah yang kini sedang dirasakan oleh Willy. Dia sangat mencintai istrinya, tapi karena satu kesalahan yang fatal. Walaupun begitu dlaam istrinya mencintai, tetap saja masih ada rasa kebencian yang tertanam.


“Lalu dimana dia sekarang? Dimana ibuku?” tatapan penuh dengan kebimbangan ayahnya. Sepertinya diapun tak bisa menjawab pertanyaan anaknya itu.


“Aku hampir gila mencarinya dulu saat kau terus menanyakan dirinya. Entah kenapa dia seakan menghilang tanpa ada jejak sedikitpun!” jelasnya lagi. Will tak mampu berkata. Dia bergeming sesaat. Mencoba mengerti dan memperbaiki perasaannya. Perasaan tentang kebenaran dirinya yang tersembunyi.


“Apa kau masih mencintainya?” pertanyaan abigu membuat ayahnya mengerutkan dahinya. Dia pun bingung menjawab pertanyaan dari anaknya.


“Entahlah, mungkin saja saat ini dia sudah hidup sangat baik dan bahagia dengan orang itu. Tak ada gunanya juga aku mencintainya kan?”


“Hah, pantas saja!” Will menghela nafasnya. Dia sekarang memahami sesuatu dalam dirinya. Ayahnya kembali mengerutkan dahinya saat menatap wajah anaknya, “Iya, pantas saja aku begitu mudah menjadi budak cinta. Ternyata raja budak cintanya ada dihadapanku!” sindirnya sambil menaikan satu ujung bibir. Mencibir ayahnya.


“Dasar anak tidak tahu diri! Berani sekali kau mengejekku. Dan menyamakan cintaku dengan cinta receh murahanmu itu!” dengusnya.


“Hah, setidaknya aku selangkah lebih maju darimu. Aku tidak pernah akan meninggalkan istri dan anakku!” Will membanggakan diri sambil menepuk dadanya. Menyombongkan diri dihadapannya ayahnya.


Ayahnya hanya bisa tersenyum melihat putranya yang memang tumbuh lebih baik dari kehidupannya. Walaupun selama ini dia mendidik anaknya dengan keras. Tanpa kasih dan sayang seorang ibu.


Dia pun berpikir mungkin itu adalah salah satu alasannya kenapa sampai sekarang anaknya terus bersikeras memperjuangkan istri dan anaknya. Dia dapat merasakan belaian dan sentuhan kasih sayang seorang ibu dari menantunya itu.


“Maafkan aku, Will. Sungguh mungkin jika waktu masih bisa diputar, aku tidak akan melakukan ini. Aku akan membiarkan dirimu tumbuh besar bersama keluarga lengkap!” Baron berkata tulus dari lubuk hatinya.


“Terima kasih sudah menerima istriku, Pah. Aku berharap kau pun mengerti jika aku lebih mengurusi hidup nyataku dibandingkan kehidupan gelapku!”


Ya, ayahnya pun mengerti semua ucapan dari anaknya. Dia, memilih mundur dari semua rencana yang sudah ayahnya susun.


“Aku mengerti. Mungkin aku juga akan pensiun. Aku pun ingin masa tua—ku diisi sesuatu yang berharga. Selama ini tanganku sudah banyak berlumuran darah orang yang tak bersalah!”


“Aku akan kembali. Jalanilah hidupmu dengan baik, ikuti kata hatimu, Nak!” menepuk pundak putranya pelan.

__ADS_1


Will merasakan haru. Pertama kali dihidupnya ayahnya memanggil dengan sebutan yang sangat lembut. Membuat hatinya tenang.


Will yang sudah mengetahui jati dirinya kini tak di selimuti rasa penasaran lagi. Dia tahu bagaimanapun sikap ayahnya. Semua demi masa depan dan kebaikannya.


"Apa kau mau membawakan sesuatu untuk istrimu?" dia bertanya sebelum benar-benar beranjak dari duduknya.


"Dia itu sangat menyukai sesuatu yang diluar perkiraan. Aku mencarikan menantu yang tak suka boros atau menghamburkan uang. Menantu-mu punya uang yang sangat cukup tanpa dia harus menopang kami, para suaminya!" Will menjelaskan siapa istrinya.


"Bukankah dia hanya wanita yang berkerja di toko kue?"


"Tidak, Pah, istriku itu masih keturunan dari keluarga Fernando Estimo! Dia punya harta yang berlimpah dan cukup untuk tujuh turunan kami!" terang Will.


Mata Baron membulat lebar, "Hohoho, luar biasa. Kau memang benar-benar putraku!" Baron tersenyum bangga. Dia tahu keluarga Estimo bukan hanya dari sebarang orang saja.


"Disini aku yang selalu takut, Pah. Bisa saja dia yang meninggalkanku atau dia menceraikan diriku. Sungguh aku tak sanggup jika harus berpisah dengannya!"


"Jangan sampai itu terjadi, kalau bisa setelah empat puluh hari segeralah berproduksi lagi!" kini ayahnya yang menggebu. Menyuruh anaknya agar segera memberikan cucu baru kembali.


"Ck, ck, kau ini sungguh raja budak cinta!" dengusnya.


“Pesankan aku smotie strawberry dan tartar keju!”


“Hanya itu? Kau tak pesan kopi untuk rivalmu itu?” tawarnya.


“Boleh, Pah. Pesankan beberapa dan rotinya juga!”


“Kau bilang hasilnya akan keluar siang, ini kenapa lama sekali?” gerutu Haiden saat melihat Carlos masuk membawa hasil test  DNA-nya.


Dominique meminta Haiden untuk membantu dirinya bersandar, “Uhm, aku juga penasaran!” ucap Dominique.


“Cih, memangnya hanya kau saja yang tidak sibuk. Aku juga kan harus menemani istriku. Dia juga butuh perhatian dariku,” dengusnya.


“Ok, ok. Jadi, hasilnya bagaimana? Mana yang anakku? Atau jangan-jangan tidak ada anakku disitu!” dengusnya. Dia pun penasaran dengan hasilnya. Haiden memang tak terlalu berharap banyak, apalagi dia sadar hubungan terakhir dengan istrinya tidak terlalu baik. Namun, setidaknya sekecil apapun harapan itu. Dia masih sangat berharap ada keajaiban. Carlos menarik nafasnya dalam-dalam. Terlihat sangat serius saat membuka hasil test DNA—nya.

__ADS_1


“Dari hasil DNA disini menyatakan 99,99% bayi perempuan itu adalah anakmu!” ucapnya seketika memecah ketegangan di ruangan itu.


Terima kasih, Tuhan. Haiden bersyukur saat mendengar hasilnya.


“Akhirnya, aku benar-benar memiliki anak. Aku menjadi seorang ayah. Terima kasih banyak sayang!” rasa syukurnya dia luapkan dengan mengecup kening istrinya dengan lembut.


“Bayi perempuan—kah?” suara dari ambang pintu membuat mereka menoleh.


“Grandma!” pekiknya. Dominique tersenyum menyambut kedatangan neneknya.


Rose menghampiri cucu perempuannya, “Selamat sayang. Maaf, Grandma baru bisa sampai sekarang!” ucapnya dalam dekapan hangat cucunya.


“Marissaa!” Dhyson tersenyum kecut sambil memanggil namanya. Dia masih saja tak bisa melupakan nama panggilan itu. Sesaat membuat tubuh Dominique berdesir. Dia langsung teringat kenyataan pahit yang baru saja dia ketahui beberapa saat lalu.


“Hei, Kakak Dhyson, apa kabar?” dia mengalihkan pandangannya. Dhyson sudah membuka lebar kedua tangannya. Minta dipeluk.


Dominique merengkuhnya dalam pelukan, “Huh, akhirnya aku menjadi paman!” cetusnya.


“Sudah bocah tengik jangan lama-lama kau memeluknya. Nanti kau dikirim ke Afrika oleh kedua suaminya,” goda Rose. Dhyson melompat menjauh saat mendengar ucapan neneknya.


“Jadi cicit—ku  perempuan, Dokter?” tanya Rose kembali menatap Carlos yang memang mengenakan jubah dokternya.


“Cicit anda ada dua, Nyonya!” ucap Carlos.


“Sungguh kabar menggembirakan. Di usiaku yang seperti ini, aku mendapatkan karunia terindah. Orangtua-mu pasti bangga sayang!” kembali dia mengecup kening cucunya. Dia mendapatkan rasa syukur yang tak ternilai.


“Apa dua-duanya perempuan?” kembali dia memalingkan wajahnya.


“Kembar couple, Nyonya. Laki-laki dan perempuan!” Carlos mengulangi ucapannya.


“Sebentar-sebentar, aku akan persiapkan nama untuk mereka!” cetusnya tiba-tiba. Dominique melirik kearah suaminya. Sepertinya dia sudah memikirkan nama untuk anaknya.


“Aku mengerti sayang, setidaknya nama belakang mereka ada nama keluarga kita. Aku hanya ingin mereka menyandang nama Estimo dibelakangnya,” pinta Rose. Dia tahu batasannya. Tidak akan mungkin merampas sesuatu yang paling berharga untuk memberikan nama sesuai dengan keinginannya.

__ADS_1


Dominique tersenyum. Pikiran selintasnya tadi langsung menngilang. Neneknya benar-benar sangat menyanyanginya. Namun, sedetik kemudian hatinya menjadi kacau. Dia memikirkan perasaan neneknya saat dia mengetahui kalau, Marissa—adiknya itu mati ditangan suaminya.


Dia masih belum bisa membayangkan kemarahan. Rasa benci atau mungkin neneknya akan memisahkan hubungan mereka. Dia masih belum berani memikirkan hal itu.


__ADS_2