MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Kebenaran yang terkuak


__ADS_3

"Sayang, ada apa? Apa tamu tadi membuat masalah" ucap seorang wanita yang sedang berbadan dua langsung menggandeng lengan orang tadi sambil melihat kearah jendela punggung tamu yang masuk ke dalam mobil.


"Bukan siapa-siapa, aku pikir dia temanku, ternyata bukan" ucapnya menghempaskan tangan wanita tadi, lalu berlalu meninggalkan nya masuk ke ruang memasaknya.


Cih, sampai kapan kau akan terus dingin kepadaku seperti ini. Dua tahun lebih aku bersama-mu..., kau masih saja belum melupakan wanita murahan itu. Monica.


.


.


.


Setelah Marissa membagikan semua roti dan minuman, Marissa jadi pendiam, pikirannya seolah terbang kesuatu tempat.


"Ada apa sayang" ucap Willy yang menyadari perubahan Marissa, menatap curiga Marissa setelah membeli roti tadi. Marissa tetap tak bergeming.


Benar itu dia..., aku tidak mungkin salah lihat. Dia banyak berubah hampir saja aku tidak bisa mengenalinya. Batin Marissa.


"Sayang" Willy yang mulai kesal Marissa belum menggubris nya, segera menarik pinggang Marissa ke dalam pelukan nya.


"Kau tahu kan... kalau aku cemburu seperti apa. Kau tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini... " bisik Willy terdengar seperti ancaman di telinga Marissa membuat Marissa mengedipkan kedua matanya, sadar dari lamunannya.


"Ahh, tidak! Jangan ganggu malam ini sayang, aku masih lelah dan ini lenganku juga kan masih sakit" ucap Marissa mode on berpura-pura merajuk dan meringgis menahan sakit.


Willy melihat kembali lengan Marissa, dia mana tega kalau sudah melihat wajah Marissa yang memelas.


"Iya, aku akan lembut dan pelan-pelan sayang saat melakukannya" ucap Willy mengecup rambut Marissa.


"Aku bilang jangan ganggu..., bukan minta lembut dan pelan-pelan" ucap Marissa mencubit kesal perut Willy.


"Ahahaha" tawa Willy puas setelah menggoda Marissa.


Mobil mereka sudah berhenti di sebuah pintu gerbang yang langsung terbuka otomatis ketika mobil akan masuk.


Willy turun lebih dahulu,


"Akhirnya... home sweet home, aku senang sekali... " ucap Marissa langsung bergelayut di lengan kekar Willy.


"Jadi kapan kita akan pergi berbulan madu sayang, aku sudah tidak sabar menanti Bunarco kecil... " ucap Willy sambil mengelus perut Marissa.

__ADS_1


"Memang kita mau pergi kemana sayang?" ucap Marissa berbicara dengan manja.


"Rahasia sayang, ini kan kejutan untuk mu" ucap Willy sambil menarik lagi hidung Marissa.


"Ihh... kamu kenapa sih sekarang jadi seneng banget narikin hidung aku" protes Marissa kesal menyentuh hidungnya.


"Habisnya aku gemas sih... " ucap Willy langsung mengangkat tubuh Dominique ala pengantin baru masuk ke rumah.


"Akhh, pelan-pelan sayang, jangan di putar" teriak Marissa karena Willy membuat putaran beberapa kali membuat Marissa mual.


.


.


.


Keesokan harinya, di kantor Haiden.


John mengetuk pintu, Haiden menoleh kan wajahnya menatap John.


"Tuan ada yang mencari anda" ucap Johy membawa masuk dua orang dan beberapa orang pengawal.


Haiden menghampiri mereka dan mengulurkan tangannya,


"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya..., saya Haiden Aramgyan..." ucap Haiden berjabat dan memperkenalkan diri.


"Rose, aku ingin menanyakan keberadaan cucu-ku" ucapnya tanpa basa basi menjabat tangan Haiden dan memperkenalkan diri sebagai Rose dan menanyakan keberadaan cucunya.


"Cucu?" Haiden menautkan kedua alisnya, menatap binggung sesaat.


"Kami sudah mencari informasi dengan detail bahwa kau adalah orang terakhir yang bersama dengan kakak-ku" ucap laki-laki yang bersama dengan Rose tadi.


Haiden menatap John, John hanya menaikan kedua bahunya.


"Maksud anda?" Haiden berusaha menebak, namun tidak ingin salah tebak dengan yang ada di pikirannya.


"Dominique, kami mencari nya, bukan kah kau adalah orang yang bersamanya" ucap laki-laki tadi tampak tidak sabaran dan kesal. Wajahnya menahan penuh amarah.


"Tenang... Dhyson" ucap Rose menahan emosi Dhyson yang berkobar.

__ADS_1


"Tapi... Grandma dia itu yang... " ucap Dhyson yang sudah mengepalkan kedua tangan nya dengan erat, wanita tadi hanya meliriknya.


"Sudahlah... Dhyson" ucap Rose dengan nada yang sangat lembut.


"Bisakah anda menjelaskan secara detail, Nyonya..., tentang Dominique" ucap Haiden yang juga penasaran dengan maksud dan ucapan mereka soalan Dominique.


"Dominique adalah salah satu cucu dari Grandma Rose yang hilang, kami mencari keberadaan Dominique beberapa tahun ini. Dari beberapa informan kami mengatakan Dominique bekerja di toko kue, salah seorang di tempat bekerja mengatakan dia sudah berhenti bekerja setelah dia menikah dengan-mu" sahut Dhyson yang terlihat tidak menyukai Haiden.


"Do-Dominique-ku maksud kalian" ucap Haiden setengah tidak percaya dengan apa yang keluar dari mulut laki-laki tadi.


"Iya, memang kau pikir siapa lagi" ucap Dhyson tampak ketus.


"Kalian tidak salah? Dominique itu yatim piatu, orang tuanya sudah lama meninggal dan... " Haiden ragu-ragu melihat wajah kedua orang di hadapannya, dia sendiri pun bahkan luput menyelidiki latar belakang Dominique secara rinci. Haiden hanya tahu Dominique yatim piatu, tinggal di rumah sewaan dan dirinya yang begitu mencintai Dominique.


"Bisakah kami bertemu dengan-nya?" sela Dhyson langsung memotong semua pemikiran yang ada di benak Haiden.


Haiden menghela nafas panjang, menyandarkan tubuhnya yang frustasi karena kebenaran asal usul Dominique yang terkuak.


"Maaf menyala bicara, namun saat ini Nyonya tidak sedang bersama dengan Tuan... " ucap John yang maju berbicara mewakili Haiden.


"Maksud-mu?" ucap Rose menaikan kedua alisnya dan menatap Haiden dan John bergantian dengan tajam.


"Sudah dua tahun ini dia meninggalkan-ku, baru kemarin aku bertemu dengan nya, namun dia tak mengingat diriku sama sekali... " ucap Haiden bercerita dengan penuh tekanan dan luka yang sangat dalam.


"Apa maksudnya? Kakak-ku pergi, kenapa? Apa yang kau lakukan dengan-nya?" ucap Dhyson yang penuh emosi kini melangkah maju dan menarik kerah baju Haiden dengan kasar.


Rose dan Dhyson hanya tahu dari informasi bahwa Dominique begitu tertekan selama bersama Haiden dan karena itu Dhyson sangat geram saat melihat Haiden.


"Hei... bocah nakal lepaskan!!" ucap Rose yang berdiri dan langsung menjewer telinga Dhyson.


"Aww... sakit grandma..., bisakah kau menjaga image ku sedikit" gerutu Dhyson langsung melepaskan cengkraman erat di kerah baju Haiden dan memegangi telinganya yang panas karena jeweran Rose.


"Maafkan sikap bocah nakal yang tidak tahu diri itu Haiden, dia terlalu gembira dan emosi saat mengetahui keberadaan kakaknya" ucap Rose kembali menatap wajah Haiden dengan serius.


"Dhyson dan juga aku sangat ingin sekali bertemu dengan nya dan aku ingin membawanya pulang untuk sementara waktu biarkan dia tinggal bersama kami. Ada banyak hal yang harus aku bicarakan dengan gadis itu... " ucap Rose terus menanti jawaban Haiden dan menatapnya dengan tajam.


"Andai aku bisa, aku akan izinkan... " ucap Haiden menghela nafas panjang lagi.


"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Rose dengan nada begitu khawatir apalagi melihat ekspresi Haiden yang begitu terluka dengan kehilangan Dominique.

__ADS_1


"Aku sudah kehilangan dirinya dan aku pun tak tahu apakah aku masih memiliki kesempatan untuk bisa meraihnya kembali... " ucap Haiden berkata dengan penuh luka dan nanar-nya yang tergores...


__ADS_2