MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Satu Jam


__ADS_3

Setelah kepergian Grandma Rose.


"Kau bisa tidur di kamar tamu, Aramgyan"


Ucap Willy yang memulai kembali mengeluarkan sengatan listrik.


"Cih. Siapa kau berani memerintah. Kau sadar sedikitlah selama ini kau sudah terlalu lama mengklaim istriku" Dengus Haiden makin kesal ketika dia di pancing masalah Dominique.


"Hiss zz!!" Dominique menghentakan kaki nya meninggalkan kucing dan tikus yang masih bertikai.


Sementara John, Ramon dan Carlos hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Kapan mereka bisa akur. Batin ke-tiga nya.


"Sayang, tunggu aku!" Haiden segera berlari mengejar Dominique diikuti Willy yang tak mahu kalah.


Dominique sudah menutupi tubuhnya dengan selimut, rasanya hari ini otak dan tubuhnya malas meladeni kedua pria yang tak habisnya membuat kepala Dominique pusing.


Haiden segera membuka bajunya dan melemparkan sembarangan lebih dulu melompat ke ranjang dan memeluk Dominique di balik selimutnya.


"Cih" Willy pun tak mahu kalah melepaskan bajunya dan tidur di samping Dominique.


Dominique yang merasa tidak nyaman akan pelukan Haiden membuka selimutnya.


"Idennn!"


"Aku cuma mau tidur sama kamu, sayang. Kau kan tahu, kau pergi meninggalkan ku terlalu lama" Seketika Haiden bersikap seperti anak kecil.


"Arrgghh"


"Biarkan dia tidur dengan tenang, Aramgyan" dengus Willy kesal karena Haiden masih begitu keras kepala.


"Diam kau, Bunarco!" hardik Haiden.


Dominique melemparkan selimutnya dan akan beranjak dari tempat tidur.


"Diam, jangan mengikuti-ku!" Dengus Dominique berjalan turun dari ranjangnya, keluar kamar dan berjalan kearah pintu Diana.


Langkah kaki Dominique terhenti ketika mendengar sesuatu yang membuat tubuhnya meremang,


Astaga.


Wajah Dominique memerah dan segera kembali ke kamarnya, ketika masuk kamar Dominique malah disuguhi kedua lelakinya yang sudah bertelanjang dada.


Argh. Aku bisa gila. Benar-benar gila.


"Kemari-lah" Haiden mengulurkan tangannya, Dominique melirik Willy.


"Kemari!!" Bentak Haiden membuat sontak kaki Dominique melangkah dan menghampiri-nya.


Haiden langsung menarik Dominique ke pangkuannya,

__ADS_1


"Kau sungguh ingin melihat kami berpagut kasih" dengus Willy, Willy kesal sendiri dan segera beranjak dari tempat tidur.


"Satu jam, aku rasa itu cukup!" Sahut Willy.


"Perkataan bodoh. Apa kau juga akan puas jika hanya satu jam"


Ah. Sial. Batin Willy makin kesal.


"Jatahmu besok malam saja, kita bergantian, seterusnya!" Haiden yang mengambil keputusan, dan Willy pun langsung keluar dengan membanting pintunya.


Cih, kau fikir aku akan berbagi lagi, setelah dua tahun kau menguasi Dominique-ku.


Haiden kembali menatap Dominique,


"Tidurlah"


Haiden menggesekan tubuh Dominique di sampingnya.


"Aku mohon, jangan marah lagi ya, sayang. Aku menyetujui apapun permintaan-mu, asalkan aku tetap disisimu dan mendampingi mu" Haiden mengelus rambut dan pipi Dominique.


"Menyetujui, apapun!"


Haiden mengangguk.


"Walaupun sebuah pernikahan-ku dengan Will?" Haiden menggenggam erat tangannya, rasanya dia masih tak pernah bisa menyetujui untuk hal yang itu.


"Apapun sayang, asal jangan tinggalkan aku. Aku mohon, kau kembali ke sisiku seperti, dulu" Haiden mengecup kedua tangan Dominique.


"Apa selama ini aku pernah membohongi soal perasaanku? Aku selalu mencintaimu. Yaa..., aku tahu terlepas dari masalah kita yang kemarin. Aku tak pernah berfikir untuk menduakan ataupun menggantikan posisimu selama kau tidak ada, aku tetap menunggu dan mencintai-mu, sayang... "


ucap Haiden tulus sepenuh hati membuat hati Dominique semakin merasa bersalah. Dia tetap merasa seperti penghianat yang telah menduakan hati dan cinta yang tulus dari Haiden.


"Idenn, maafkan aku. Sungguh, aku tak pernah bermaksud seperti ini, tapi aku tak bisa membohongi perasaan-ku kalau aku juga mencintai Willy... "


Batin Haiden terluka, sakit dan sangat sedih ketika mendengar kenyataan yang langsung keluar dari mulut Dominique. Bagaimanapun dia telah gagal, dia telah gagal menjadi kekasih dan suami yang menjaga hati istrinya agar tak berpaling.


"Aku tahu. Aku mengerti, sayang!"


Walaupun sangat berat, namun Haiden harus bisa menerima apalagi dengan posisi kehamilan Dominique sekarang, semakin Haiden menekan Dominique, berarti semakin kecil juga peluang dirinya untuk mempertahankan Dominique di sisinya.


Dominique memeluk Haiden, dia sangat tahu dengan pasti Haiden terluka. Dan lukanya yang sekarang tak mungkin dengan cepat sembuh.


"Sayang, bisakah kau hanya tidur dengan-ku saja, kau kan sudah dua tahun ini tidur bersamanya" desak Haiden, dia tak ingin melewatkan seharipun tanpa bersama Dominique.


"Idennn... " Dominique menarik perlahan tubuh Haiden dari pelukannya. Menatap matanya yang penuh harap.


"Ayolah sayang, bersikap adil-lah, selama ini aku pun sudah membiarkan dirinya bersama selama dua tahun" Haiden terus menekan titik kelemahan Dominique.


Kali ini dia hanya menginginkan Dominique kembali kesisinya secara perlahan.


"Aku janji, dia tetap boleh di sisimu. Aku tidak akan mengusik. Masalah jatah biologis, aku akan mencoba berbagi, tapi tidak se-intens dulu. Kau tahu kan, aku paling tidak suka wanita-ku di sentuh!"

__ADS_1


Dominique kembali menatap, ada rasa bimbang dalam dadanya namun dia pun tak mungkin terlalu jauh lagi menyakiti Haiden ataupun Willy. Keduanya harus segera berdamai paling tidak, tak ada lagi pertikaian di antara mereka.


"Baiklah, aku akan mencoba membicarakan nya lagi dengan Willy" Dominique yang sudah pasrah dengan keputusan Willy.


"Jadi sekarang sudah beres, ya!"


Dominique mengangguk.


"Kalau begitu, sekarang aku sudah boleh meminta jatahku kan?" Haiden tidak ingin memaksa, jadi meminta izin secara perlahan dengan Dominique.


Perlahan Dominique berpindah, ia kembali duduk di pangkuan Haiden, bagi Haiden itu suatu tanda dia boleh menyentuhnya. Tangan Haiden perlahan mulai berjelajah menurunkan tali lingerie yang Dominique pakai, hingga sesuatu yang sangat lama Haiden rindukan terlihat jelas dengan nyata di matanya, menyentuh keduanya perlahan, meremas perlahan.


Haiden melihat wajah Dominique yang sedang menikmati semua sentuhannya, hingga membuat geloranya bangkit. Memajukan wajahnya dan mengesapnya secara bergantian, membuat seluruh tubuh Dominique bergetar.


"Kau menyukainya?"


"Uhmm"


"Aku akan melakukan-nya dengan hati-hati, jadi tenang dan nikmatilah!"


sedetik kemudian hanya suara ******* dan teriakan yang terdengar. Willy hanya bisa mengepal dengan erat kedua tangannya.


Aku pastikan akan membunuhmu dengan tanganku sendiri, Aramgyan.


Willy tak mahu terlalu lama menguping di luar kamar, setelah dia meyakini tak ada suara apapun, ia pun membuka pintu.


CEKLEK.


Dia melihat Haiden baru keluar kamar mandi dan Dominique sudah tertidur pulas di ranjangnya.


"Kau sungguh tak sabaran!" cibir Haiden.


Willy langsung melangkah maju mencengkram baju handuk yang Haiden gunakan.


"Aku akan membunuhmu. Segera!" eratan penuh kemarahan.


"Hohoho, akhirnya kau akan melepaskan topeng-mu yang kau tutup rapat selama dua tahun ini"


Willy tersentak dan menyadari bahwa Haiden mengetahui soal jati dirinya yang di tutupi.


BUGH.


Satu tinju langsung tertuju di dada Haiden dan membuat Haiden jatuh di lantai.


"Hahaha, kau tidak akan bisa mengalahkan-ku, Bunarco. Apa jadinya kalau Dominique tahu siapa dirimu yang sebenarnya, mungkin dia akan..."


"Tutup mulut-mu. Atau lidahmu akan ku bakar hidup-hidup!"


Haiden menghempaskan tangan Willy yang mencengkram erat kerah baju mandinya.


"Cobalah. Aku pun penasaran, apakah Dominique-ku akan tetap mencintai-mu!"

__ADS_1


Haiden berdiri tegap di hadapan Willy.


__ADS_2