MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Haiden pulang


__ADS_3

Mobil berhenti di sebuah ballroom hotel megah, Willy mengapit pinggang Dominique agar tak lepas dari genggaman nya. Puluhan pasang mata menatap ke arah Dominique dan Willy, mencari tahu siapa gadis yang di bawah oleh tuan rumah, sedangkan Dominique mencoba tersenyum sebisanya menghilangkan rasa berdebar di dadanya.


Apa ini, siapa Willy sebenarnya, apa dia benar-benar seorang Raja? Pekik Dominique di hati melihat puluhan awak media dan pengawal yang melindungi setiap langkahnya dan Willy.


"Hei, kau sungguh seorang Raja?," Dominique yang penasaran.


"Kalau aku sungguh seorang Raja, apa kau mau jadi Permaisuri-ku?," ucapnya berbisik tanpa keraguan.


"Kau gila, aku kan sudah bilang, aku sudah menikah, dan malam ini aku mau menemani mu karena kita teman dan kau sedang berulang tahun, apa kau lupa," sewot Dominique tak mau kalah.


"Iya, ya, aku tahu, aku hanya bercanda, jadi aku mohon tersenyum lah sekarang," terus berjalan di atas karpet merah memasuki area acara, sudah bersiap di meja kue ulang tahun dan lainnya.


Acara outdoor pemotongan kue di adakan di dekat area kolam renang, setelah sambutan dari MC, Willy memotong kuenya dan potongan pertama di berikan kepada Dominique, tak ayal membuat Mona yang sudah dengan percaya diri berada di samping Willy membuat eratan gigi penuh kemarahan.


*Apa dia tidak salah, aku ini baru mengenalnya, dan mendapatkan potongan kue pertama.


Setelah acara* potongan kue semua orang tampak sibuk memberikan selamat kepada Willy, Dominique memisahkan diri dari kerumunan, bergeser ke arah pinggir kolam renang. Mona segera mengambil kesempatan, dia melihat Dominique tengah asyik dengan ponselnya, Mona mengambil minuman dan pura-pura tersandung sehingga menabrak Dominique sampai jatuh ke kolam renang.


Suara orang jatuh ke kolam menarik perhatian, Willy yang menyadari Dominique terjatuh segera melompat ke kolam menolong Dominique menepi dan segera mengangkatnya dari pinggir kolam, Willy menatap marah kepada Mona, dan memerintahkan dua pengawal untuk menyeret Mona dari tengah acara.


Willy membuka salah satu kamar pribadinya, menurunkan Dominique dari pelukannya.


"Ganti pakaian dulu, nanti sakit, kau bisa pakai bajuku dulu," membukakan pintu kamar mandi, dan meninggalkan Dominique.


Di ruang tengah kamar hotel Willy,


"Mana wanita itu," pengawal menyeret masuk Mona yang sudah bergetar ketakutan saat melihat kemarahan Willy.


Tanpa bekas kasih Willy menampar wajah Mona hingga tersungkur jatuh di lantai, "Nyali mu besar juga, mungkin karena aku terlalu memanjakan mu," menarik kasar rambut Mona hingga terlihat wajah bekas tamparan Willy.


"Ampun Tuan, maafkan saya, sa-ya tidak akan mengulangi, sa-ya mohon maafkan saya," Dominique keluar kamar mandi sudah berganti baju dengan kemeja Willy.


"Willy ..., apa yang kau lakukan," menutup mulutnya dengan ke dua tangan Dominique, tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Willy, sudah, jangan di perpanjangan, aku sudah tidak apa-apa," Dominique ketakutan setengah mati melihat mata Willy yang memerah penuh amarah, melepaskan gengaman kasar tangan Willy pada rambut Mona.


"Willy ..., aku ingin pulang, aku sangat lelah, please," Dominique berusaha menenangkan kemarahan Willy dengan menyentuh ke dua pipinya.


Ya Tuhan, tolong aku, semoga Willy bisa luluh dengan sikapku.


Willy mereda, "Jangan lihat," membalikkan tubuh Dominique dan memeluknya, lalu tangan Willy meminta sesuatu kepada anak buahnya, dan, DOR ..., DOR ..., suara tembakan berbunyi dua kali, membuat Dominique bergetar ketakutan.


"Ayok, aku antar kau pulang," menyeret keluar tubuh Dominique dengan paksa tanpa melihat nasib Mona selanjutnya.


***


"Ini ponsel dan tasmu," Willy memberikannya saat Dominique turun dari mobilnya.

__ADS_1


"Istirahat, besok aku menghubungi mu," lalu masuk kembali ke mobil nya, tanpa melihat lagi wajah Dominique yang pucat.


Ah, sial, gara-gara perempuan bodoh tadi aku malah membuat Dominique ketakutan. Dasar perempuan bodoh tidak berguna.


Dominique memberhentikan taksi, kembali ke apartemen Haiden.


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Dominique masuk kamar mandi, segera mengganti pakaiannya.


Ya ampun, aku lupa, di sini kan baju ke kurangan bahan semua...


Terpaksa memilih salah satu baju, dia tidak ingin jika besok pagi Haiden marah melihat tidak memakai baju itu. Dominique menarik selimutnya, menutup rapat semua tubuhnya.


***


"Apa ini John, orang sungguh tak berguna, kau biarkan dia berkeliaran seperti ini," Haiden murka ketika melihat foto-foto tentang Dominique.


Fotonya saat berpeluk kan dengan Justin dan foto-foto nya dengan Willy.


Kau sungguh ingin main api denganku Dominique. Kau pikir aku cuma main-majn dengan ancaman ku.


"John, segera buat surat pengunduran diri nya, aku tidak ingin melihat dia berkeliaran lagi," mengepal dengan erat foto-foto tadi dengan penuh amarah.


"Aku ingin cuti,"


"Baik Tuan," tidak ingin menambah rasa amarah Tuannya.


Bagaimana lagi aku membuatmu jatuh cinta Dominique, kau masih saja terus mengkhianati ku.


Mengusap wajah Dominique dengan lembut.


"Tapi aku, tidak akan membiarkan mu lolos lagi sayang," satu kecupan lembut mendarat di bibir Dominique.


"Aku akan menghukummu tanpa henti," seringai Haiden melepaskan handuk nya, menarik perlahan baju yang melekat pada Dominique, menarik selimutnya, mulai menyusup, menyuyun olahraga malam dan penyatuan rindu yang tak bisa dia tahan lagi.


Dominique terkejut, sesuatu yang hangat mengalir dalam tubuhnya, dan hawa panas membuatnya merasa gerah ...


Ah, apa ini, apa aku sedang bermimpi mesum dengan Haiden. Pikiran Dominique melayang dengan kenikmatan yang dia tak bisa jelaskan dan tanpa sadar dia merindukannya.


Matanya terbuka, dan dia benar-benar melihat sosok Haiden di hadapannya ...


"Akh, ka-u sudah pulang," Dominique menahan tubuh Haiden yang sedang melakukan penyatuan pada dirinya.


"Kau suka sayang?," Dominique mengangguk, tanpa sadar meraih wajah Haiden dan menciumnya dengan lembut, Haiden merona, membalas pagutan Dominique dengan gejolak rindunya yang menggebu. Malam ini mereka melepaskan semua rasa rindu nya.


"Kau merindukanku?," Dominique mengangguk malu dalam pelukan Haiden setelah dua jam melakukan penyatuan.


"Oya, lalu bagaimana dengan pria-priamu?," deg. Dominique menarik wajahnya, melihat Haiden yang terlihat menahan amarahnya.

__ADS_1


"Maaf," Dominique yang mengakui salah, Haiden melepaskan pelukannya, membenarkan posisinya, duduk bersandar di kasurnya.


Dominique menarik selimut, dan ikut duduk bersandar di sebelah Haiden.


"Justin ... sudah pergi, dia di jodohkan dengan wanita pilihan orangtuanya,"


"Heem,"


"Kami sudah tidak ada hubungan,"


"Heem," masih menunggu cerita lain dari Dominique.


"Dan, soal ... Willy, kami hanya teman tidak lebih, sumpah iden ...," menaikan dua jari.


Haiden menatap Dominique,


Ah, sial, kenapa dia imut dan manis sekali.


"Kau tahu hukumannya?," memegang dagu Dominique. Dominique menggeleng.


"Malam ini aku tidak akan berhenti, sampai aku puas," seringai Haiden.


Ah, Tidaaakkk, serigala Haiden sudah kembali!!!


***


...Bersambung...


Hallo semua Aku Aleena,


baca cerita lainku ya yang berjudul :


✔ Elegi Cinta Yuki


✔ Dua Hati


✔ Silence


✔ Mr. Billionaire's Love Prison


✔ Ketika Kamu Jatuh Cinta


dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentar-nya.


Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.


Terima kasih dan selamat membaca 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2