
Rose memicingkan tajam matanya menatap Baron. Bertanya dalam hati tentang orang itu. Terlihat jelas dia tak menyukai pria itu.
“Grandma, itu Papanya Willy. Dia juga baru saja datang untuk menjenguk kelahiran cucunya!” Dominique bersuara. Menjawab segala pertanyaan yang langsung tertebak.
“Oh, iya, Grandma, perkenalkan ini ayahku, Baron Bunarco!” Will maju memperkenalkan ayahnya. Baron ketika namaya di sebut dengan sadar diri menghampiri.
“Selamat malam, Nyonya, maaf saya tadi mengagetkan Anda dengan suara saya yang seperti speker butut!” cengirnya. Suasana kembali canggung. Mereka saling menatap. Tak percaya seorang Baron dapat melakuakan humor yang sedikit nyeleneh menurut pandangan mereka.
“Apa yang kau lakukan, Pah? Tidak lucu!” dengus Will sambil menggeleng tak percaya menatap ayahnya. Canggung dengan humor recehnya.
“Baiklah, aku keluar saja. Aku ingin menengok cucuku dulu!” dia mengacuhkan sindiran dari putranya. Keluar dari ruangan yang sedang dalam reuni keluarga.
Pintu tertutup. Wajah Baron berubah masam. Tangannya mengepal dengan saat erat. Eratan giginya pun terdengar oleh Markus yang langusng berdiri dari duduknya saat tuannya keluar ruangan.
“Ada apa, Tuan?” dia tahu Tuannya sedang dalam kondisi tak bisa di tebak. Dia menebak pasti ada hal buruk yang terjadi saat kepergiannya dengan Willy.
“Semua baik-baik saja kan, Tuan?” kembali dia bertanya karena Tuannya belum memberikannya jawaban.
__ADS_1
Baron melirikan matanya kepada Markus, “Apa laporan—mu dulu sama sekali kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku? Kau tidak sedang membohongiku soal, Sandra kan?” tegas dan jelas pertanyaan Baron. Kembali mengusik Markus, dia seperti sudah melupakan nama yang di sebut Tuannya.
“Sandra? Maksud, Tuan, Sandra—Nyo—,” kembali Markus terdiam saat Baron mendelikan matanya. Dia tahu tuannya sedang dalam kondisi tidak bisa di ajak bicara. Dia hanya menginginkan penjelasan yang kongkret.
“Tidak, Tuan. Saya tidak mungkin berkhianat ataupun berani membohongi, Tuan. Saya pun telah mengecek seluruh tempat dan dia memang sudah dinyatakan meninggal dunia!” jelas Markus penuh keyakinan. Dia tak mungkin berani membohongi tuannya. Karena dia sendiri yang turun tangan untuk menyelidikinya.
“Benarkah? Mungkin aku salah lihat? Atau aku terlalu bahagia akhir-akhir ini sehingga memikirkan hal yang tak seharusnya!” dia meraup kasar wajahnya. Dia memang tak ingin menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya dari anaknya. Dia tak ingin berbicara kalau ibunya sudah benar-benar meninggal. Jadi, cerita yang baru saja dia obrolkan barusan hanya sepenggal kisahnya saja. Bukan kenyataan yang sebenarnya.
Markus menatap tuannya dengan perasaan campur aduk. Setengah mengerti, setengah lagi masih dalam bentuk pertanyaan yang mungkin saja bisa dia tebak.
Baron berjalan ke ruang perawatan cucunya. Keluarga dari Bunarco bisa dengan bebas keluar rumah sakit ataupun ke ruang perawatan tanpa izin jam besuk. Siapa yang berani melarang mereka kalau Carlos sudah dijadikan aksesnya. Carlos dijadikan pemilik rumah sakit tersebut sebagai bentuk identitas rahasia yang mereka sembunyikan.
“Tuan Besar,” Carlos menundukkan kepalanya saat melihat Baron akan masuk dan dia akan keluar dari ruang perawatan bayi.
“Dimana cucu-cucuku?” dia bertanya dengan sangat datar. Carlos kembali masuk ke dalam seraya menunjukkan kepada kakek dari anak Willy.
“Yang ini, Tuan!” Carlos menunjuk bayi kembar couple yang sedang tertidur dengan pulas. Baron memberi kode untuk Carlos meninggalkan mereka.
__ADS_1
Dia menatap kedua bayi itu dengan penuh perasaan. Menerawang jauh dirinya dulu saat membesarkan Willy sendirian. Berjuang sampai mencapai puncak tertinggi. Namun, puncak yang dia impikan sejak lama tak seindah yang dia bayangkan. Dia merasa kesepian. Dia hanya menginginkan hal yang dia rasakan dulu, putra tunggalnya tak merasakan apa yang dia rasakan.
“Aku pastikan kalian berbahagia dan tak kekurangan apapun. Tidak akan ada keluarga atau oranr yang akan merendahkan kalian. Aku, kekekmu ini pasti akan menjaga kalian dengan sangat baik, cucu-cucuku!” Baron berkata dengan sangat lembut. Matanya penuh dengan binar kebahagiaan. Hatinya penuh dengan sesuatu yang lama dia kubur. Hangatnya cinta.
“Aku berjanji apapun keinginan kalian kelak. Aku dengan kekuatan yang aku miliki sekarang, pasti akan melindungi kalian dengan baik!” lanjutnya.
Tanpa dia sadari, Will tengah berada di ruangan itu. Mendengar semua janji yang dia ucapkan kepada anak-anaknya. Dia bahagia ayahnya sudah mulai membuka hatinya.
“Terima kasih banyak, Pah. Atas nama putra dan putriku, aku sangat berterima kasih!” Will dengan penuh kesadaran merengkuh lebih dulu ayahnya dalam pelukan. Tak pernah sekalipun saat dia tumbuh dan menjalani harinya masa kecil bisa sedekat ini. Ayahnya selalu memberikan dinding yang paling tinggi untuknya. Dia bahkan kesulitan sendiri saat akan mendakinya. Namun, kali ini ayahnya sendirilah yang menurunkan tangga untuknya.
“Jangan lama-lama! Dadaku sakit,” keluhnya. Dia mencoba menghindar. Masih ada sedikit gengsi ketika hatinya tanpa disengaja diketahui oleh anaknya.
“Cih, kau masih saja sombong terhadapku. Kau pikir dengan bersikap seperti itu, kau terlihat manis?” kecutnya masam. Tak mau kalah ketika ayahnya mengangkat bendera peperangan kembali.
“Huh, kau pikir aku takut denganmu. Aku akan beristirahan di hotel terdekat, kau bisa datang jika hanya ingin merebahkan tubuhmu!” ucapnya berjalan keluar tanpa mendengar apa putranya mau datang atau tidak ke hotelnya. Will Cuma tersenyum geli melihat ayahnya yang masih bersikap angkuh padanya. Menutupi gengsi gede-gedeannya.
Manis sekali ayahku itu.
__ADS_1