MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Aku mencintainya


__ADS_3

Dominique tersenyum, rasa lega menyerukan keluar dari dalam dadanya. Beban yang dia pikirkan sangatlah sulit, namun begitu mudah dia lewati,


"Aku mencintaimu, Dominique... " ucap Willy menarik tubuh Dominique agar lebih dekat dengannya, kecupan hangat dan dalam langsung diberikan oleh Willy.


Mereka berdua berpagut dalam lautan kasih yang begitu dalam dan hangat, membuat mereka saling insten melakukan sentuhan. Willy segera mengangkat tubuh Dominique yang sama-sama sudah membara,


meletakan perlahan Dominique di ranjang mereka, Willy melepaskan pakaiannya terlebih dahulu, kemudian setelah dia polos dan berada diatas tubuh Dominique,


"Aku teruskan ya sayang... " ucap Willy berbisik manja di telinga Dominique, Dominique hanya mengangguk perlahan.


Dan Willy langsung merobek lingerie hitam yang di pakai Dominique,


Dominique menarik perlahan leher Willy dan mengalungkan nya,


"Ingat tanganku masih terluka" ucap Dominique, Willy mengangguk dan segera melakukan serangan dengan genjar, menyentuh dan mengabsen setiap inci dari tubuh Dominique.


"Aku mencintaimu, Dominique... " ucap Willy sebelum dia memasukkan sesuatu yang tak bisa Willy tahan lagi...


Setelah satu jam berpagut mereka melakukan pelepasan bersama, Willy kembali mengecup kening Dominique dengan lembut,


Mereka masih mengatur nafasnya masing-masing, Dominique masih memeluk tubuh Willy dan bersandar di lengan kekar nya.


"Will"


"Hemm"


"Apa kau marah"


"Sedikit"


"Kenapa?"


"Aku marah karena aku telat bertemu denganmu"


"Benarkah? Bukan karena hal lain"


"Aku tidak perduli, walaupun dia orang yang pertama bertemu denganmu, tapi di masa depan akulah yang pertama memiki Bunarco kecil... " kekeh Willy.


Dominique tersenyum dia merasa terhibur dengan ucapan Willy barusan.


"Sungguh, kau tidak menyesal"


"Tidak sayang" kecup Willy di kening Dominique sambil merekatkan lebih dalam pelukannya.


"Ngomong-ngomong bagaimana kau bisa mendapatkan identitas Marissa" ucap Dominique yang penasaran.


Willy melonggarkan tubuhnya ketika Dominique menyebutkan nama Marissa. Willy mengambil bantal dan menyandarkan tubuhnya, Dominique beringsut mengikuti Willy dan duduk di samping nya dengan selimut menutupi tubuh Dominique yang polos.


Wajah Willy tampak gelisah, dia terlihat ragu untuk menceritakan soal Marissa.


"Katakanlah, aku akan mencoba menerima walaupun berat" ucap Dominique dengan jantung berdebar kencang, sebenarnya dia pun belum siap mendengar dari mulut Willy soal Marissa, Dominique takut kalau Marissa adalah cinta pertama Willy yang sulit dia lupakan.


"Sebenarnya lima tahun lalu aku di tolong olehnya dari sebuah kecelakaan... " ucap Willy terdengar ragu untuk menceritakan.

__ADS_1


"Lalu"


"Aku membawanya ke rumah sakit, namun kondisi sangat parah dan tak bisa tertolong" ucap Willy seakan tak tega menceritakan dan mengingat kejadian lima tahun lalu.


"Lalu" Dominique yang sangat penasaran.


"Setelah kepergiannya, aku menyelidiki Marissa dari identitas yang dia tinggalkan, dia adalah anak yatim piatu dan di besarkan di pantai asuhan" jelas Willy.


"Kasihan sekali ya Will, lalu kau sengaja menggunakan identitas-nya dan mengganti fotonya dengan diriku begitu kan Will... " ucap Dominique yang menebak kelanjutan cerita dari identitas Marissa.


Willy terdiam dan menatap Dominique begitu dalam, Dominique langsung mengartikan tatapan mata Willy berbeda,


"Tidak... jangan bilang... " Dominique berusaha menebak jalan pikiran Willy sambil menggelengkan kepala dan menutup kedua mulutnya.


Willy hanya mengangguk dengan tebakan Dominique,


"Tidak mungkin, di dunia ini mana mungkin ada orang yang begitu mirip bagai pinang di belah dua kalau bu-kan... " Dominique hampir menjerit tak percaya dengan pikirannya.


Tidak mungkin aku yakin betul kalau aku anak tunggal, papa dan mama tidak pernah bercerita apapun tentang aku memiliki saudara. Pekik Dominique di hati.


"Itulah sebabnya dulu aku sangat terkejut saat pertama kali bertemu dengan-mu. Aku merasa aku bermimpi karena lagi-lagi di tolong oleh wanita yang sama... " ucap Willy


Dominique masih tak bergeming, di hati nya seolah ada sesuatu yang sakit, benar-benar membuatnya terbakar dan nyeri.


"Dan yang lebih lebih mengejutkan saat kau kecelakaan, aku sempat berusaha menolong Marissa yang kehabisan darah saat perjalanan, darah-mu dan dia bergolongan yang sama" jelas Willy.


DEGH.


Tubuh Marissa terasa lemas saat mendengar ucapan Willy, dan ruang dalam hati Dominique yang penuh seakan hilang separuh karena mendengar cerita Willy. Dan entah kenapa Dominique langsung kehilangan kesadarannya.


Carlos langsung masuk ke kamar Willy saat mendengar teriakannya,


"Berhenti, di situ" perintah Willy, dia melarang Carlos mendekati ranjang istrinya saat Willy mengenakan baju.


Willy mencarikan satu baju yang bisa langsung menutupi seluruh tubuh Dominique.


"Periksalah" setelah Willy benar-benar yakin Dominique berpakaian dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Apa yang kau lakukan, sudah kubilang jangan terlalu kasar dia kan masih terluka" ocehan Carlos ketika dia mengambil kursi dan memeriksa denyut nadi Dominique.


"Marissa tidak apa-apa, seperti dia hanya sedikit kaget, tidak ada yang serius" jelas Carlos.


"Syukur-lah, kalau Domi-ku tidak apa-apa. Aku sungguh takut" ucap Willy.


UWICKK.


Carlos menoleh Willy yang dengan bebas berucap soal Dominique karena selama dua tahun ini nama itu begitu sakral untuk di sebutkan.


"Apa aku tidak salah dengan" ucap Carlos berkacak pinggang menatap Willy menuntut penjelasan.


"Dia sudah mengingat nya"


"Apa" bola mata Carlos hampir keluar, "Kapan" lanjutnya.

__ADS_1


"Kemarin" sahut Willy santai.


"Apa kau gila. Ba-bagaimana di-a... " tunjuk Carlos dengan tangannya kearah Dominique yang masih terbaring pingsan.


"Aku tidak akan melepaskan dan menceraikannya" senggit Willy.


"Kau gila, dia sudah punya suami" comel Carlos berkoar hampir tidak mempercayai dengan keputusan yang dia ambil.


"Aku mencintaimu Carlos. Sungguh. Sangat" ucap Willy membuat Carlos tak bersuara lagi.


"Kau gila. Benar-benar gila!" seru Carlos sambil keluar dari kamat Willy.


.


.


.


Pagi hari di apartemen Haiden.


"Selamat pagi Tuan" sapa John saat melihat Tuannya sedang membereskan beberapa sisa berkas di ruang kerjanya.


"Bagaimana"


"Setengah jam lagi kita bisa berangkat, Tuan" sahut John memberikan laporan nya.


"Baik, ayo kita berangkat. Aku tidak ingin membuang waktu terlalu lama untuk menunggu nya lagi" ucap Haiden yang terlihat geram, dia sangat ingin membawa Dominique kembali pulang bersamanya.


Tunggu sebentar lagi sayang, aku akan menjemput mu. Haiden.


.


.


.


Willy langsung meletakan nampan yang dia bawa saat melihat Dominique sudah terbangun dan duduk di pinggir ranjang sambil memegangi kepalanya.


"Perlu aku panggilan Carlos" ucap Willy lembut sudah membantu memapah Dominique berdiri.


"Tidak perlu sayang, aku baik-baik saja"


"Sungguh"


"Iya sayang"


Willy memapah Dominique hingga mendekati nampan yang dia bawa tadi. Willy membantu duduk Dominique,


"Sarapan dulu ya, aku bantu" ucap Willy yang langsung duduk berhadapan dengan Dominique, dan menyuapi nya.


Dominique membuka mulutnya perlahan dan makan sedikit demi sedikit yang di suapkan oleh Willy. Setelah beberapa suap Dominique meminta berhenti,


"Makan lagi sayang, kau baru makan sedikit" ucap Willy yang sangat menghawatirkan kondisi Dominique.

__ADS_1


"Sudah kenyang sayang" ucap Dominique lirih dan berurai airmata...


__ADS_2