
Dominique seperti tersambar petir di tengah malam yang tak hujan ketika mendengar pengakuan suaminya. Pengakuan yang masih membuatnya tak percaya. Atau mungkin suaminya sekarang sedang bermain-main dengannya.
“Huh, ayolah, Will. Jangan bercanda, kau tahu kan aku paling tak suka bercanda apalagi menyangkut soal adik kembarku itu!” Dominique berkata sangat tegas. Wajahnya terlihat begitu serius. Haiden langsung bereaksi dengan tubuhnya, dia tak tenang saat Will mulai mengungakapkan kebenaran.
“Aku tidak sedang bercanda, sayang. Kali ini aku serius, jadi-“
Plek
Dominique seketika melepaskan gengaman tanganya. Dia beranjak duduk sambil memegangi perutnya yang tiba-tiba berdenyut nyeri.
“Maafkan aku, sayang. Aku akan jelaskan semuanya. Aku mohon, kau mau mendengarnya. Itu hanya sebuah kecelakaan!” Dominique langsung memicing tajam wajah suaminya. Dia bahkan dengan mudah dan berkata seolah tak merasa bersalah ketika membuat nyawa seseorang lenyap. Apa yang beberapa jam lalu dia lihat entah kenapa Dominique merasa suaminya seperti orang yang sama saat berkata ataupun melenyapkan nyawa seseorang.
“Hah! Alasan macam apa itu? Kecelakaan? Apakah deskripsi kecelakaan itu bisa kau jelaskan? Apa seperti ayahmu tadi? Yang seperti itu, apakah juga suatu kecelakaan!” tuduhnya bertubi. Membuat bola mata Will bergerak dengan sempurana mengikuti gerakan dari tubuh istrinya.
“Tidak! Bukan seperti itu, sayang. Saat itu, Marissa tiba-tiba saja muncul dihadapan kami. Kami berpikir, dia adalah salah satu jebakan dari musuh yang sedang kami hadapai. Kami menggira Marissa mata-mata yang menyusup di wilayah kami. Namun, setelah aku melakukan penyelidikan, semuanya salah. Dia hanya salah satu anak panti asuhan yang baru saja bekerja dan mengantarkan dokumen pada kami. Saat itu, kondisi kami memang genting dan Marissa muncul di saat tak terduga. Papa memerintahkan agar melenyapkannya!" jelasnya. Membuat matanya mendelik. Dia menaikan satu sudut bibirnya, untuk pertama kali selama dia mencintai suaminya. Tatapannya meremehkan.
Tubuhnya bergetar hebat ketika mendengar penjelasan dari suaminya yang menurutnya tidak masuk akal. Bisa- bisa dia salah mengira dan tanpa penyelidikan dengan mudahnya melenyapkan nyawa seseorang.
"Mata-mata? Hah, alasan macam apalagi itu? Memang kau bekerja di bidang kerahasiaan sampai harus bertemu dengan mata-mata. Kau bercerita padaku seolah aku sedang menonton film detektif dan pembunuh bayaran!" dia menggelengkan kepalanya. Masih tak percaya dengan semua penjelasan yang suaminya berikan.
"Itu memang pekerjaan-ku. Aku adalah pembunuh bayaran tingkat internasional. Jaringan hitamku sudah tersebar di seluruh negara dan sudah menguasai segala aspek-aspek yang ada!" lagi dan lagi penjelajah dari suaminya membuat Dominique menggeleng tanpa keyakinan. Dia masih saja belum percaya dengan ucapan suaminya.
Gendang telinganya seperti berdengung keras. Dadanya terasa nyeri, perutnya terus saja berkolaborasi. Anak dalam perutnya terus menendang-nendangnya dengan keras. Membuatnya sesekali meringis, mengusap perutnya, menenangkan bayinya.
__ADS_1
Mungkin secara naluri bayinya pun tak percaya. Will yang terkenal lembut dan penyayang adalah seorang pembunuh. Suaminya pembunuh bayaran. Hampir limbung tubuhnya, Will berusaha mendekati. Namun, respon yang dia dapat dari istrinya adalah penolakan. Dia menolak keras tubuhnya di dekati ataupun di sentuh olehnya.
Haiden segera sigap menopang tubuh istrinya yang sedang limbung. Dia masih belum bisa menerima kenyataan pahit yang diakui suaminya.
"Sayang!"
"Diam! Jangan sebut namaku lagi dengan mulut berbisamu itu. Pergilah, aku tidak ingin ada hubungan apapun lagi dengan orang yang telah tega menyakitimu. Apalagi kau sudah membunuh adikku!" dengan bibirnya yang bergetar. Matanya membulat, memerah.
Sakit. Tentu saja. Sakitnya seperti ditusuk ribuan pedang dan panah. Membakar seluruh relung jiwanya.
"Sayang, dengarkan aku dulu. Aku mohon! Maafkan aku, maafkan aku, sayang ...," dia mencoba mengiba pada istrinya. Berlutut dihadapanya. Memohonnya pengampunan dari istrinya. Nafasnya terasa sesak. Anak dalam perutnya terus menendang dengan keras.
"Sshh, aagghh!!" Dominique mencengkram lengan Haiden dengan keras. Meremasnya dengan kasar.
"Aw, aw, Iden... sa-sakit sekali!!" Dominique merejam keras. Perutnya tiba-tiba mulas.
"Berhenti, Bunarco! Kau tak melihat istrimu mengerang kesakitan!" dengus Haiden mencoba mengusap punggung istrinya. Membuatnya sedikit tenang.
"Tarik nafas sayang, pelan-pelan tarik nafasnya!" Will membantu Haiden memapah istrinya keranjang. Dominique terus mengibaskan tangan Will saat menyentuh tubuhnya.
"Jangan sentuh! Aku bilang jangan sentuh. Aku tidak mau disentuh olehmu!" berang Dominique berteriak kembali.
"Biarkan kami bicara berdua, Aramgyan. Aku mohon!" Will menatap wajah Haiden penuh permohonan. Tidak pernah sekali pun dia memohon pada seseorang.
__ADS_1
"Tidak, Iden. Jangan tinggalkan aku, aku tidak mau dengan orang itu. Aku takut, Iden!" Will membulatkan matanya saat istrinya memanggilnya dengan sebutan orang itu. Dia merasa sudah di anggap orang luar oleh istrinya.
"Aku akan menunggu dari balik pintu sayang. Bicaralah, kau perlu berbicara baik-baik dengannya!" mengusap punggung tangan istrinya. Menyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Iden ..." Dominique tetap menarik tangan suaminya.
Cuuppp
"Tenang sayang, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan selalu ada untuk dirimu!" melepaskan perlahan pegangan tangan istrinya.
Dia ingin sekali bersikap egois. Apalagi saat ini posisi sedang berada di atas awan. Bisa saja dia mengambil keuntungan dari kondisi yang sedang terjadi. Namun, dia tidak melakukannya. Dia ingin istrinya bisa mencintai seperti dulu. Menerima dirinya bukan karena paksakan apapun.
"Sudah Will, jangan bicara apapun lagi. Aku tidak ingin mendengarkan penjelasan apapun lagi darimu. Sudah cukup kau berbohong selama ini. Jadi kali ini biarkan aku sendiri. Aku benar-benar tak ingin lagi kita bertemu!" ucapnya sarkas. Di dalam dadanya masih terasa sesak dan ngilu.
Dia harus melepaskan semua rasa cinta yang dia miliki. Dia selama ini sudah memberikan seluruh rasa sayang dan cintanya untuk Will. Dia merasa bersalah pada Marissa--adiknya yang belum sama sekali pernah dia temui seumur hidupnya. Dia merasa bersalah padanya karena sudah menerima seseorang yang seharusnya tidak pantas dia cintai.
Maafkan aku, Marissa. Aku bersalah padamu. Aku terlalu bodoh hingga dengan mudahnya tertipu oleh semua kebohongannya. Maaf karena aku menjadikan orang yang telah membunuhmu, menjadikan dirinya seseorang yang tinggi dan berharga untuk hidupku.
Tangisnya terus berurai. Rasa bersalah dan merutuki semua kebodohannya.
"Sayang, aku mohon maafkan aku. Hukuman apapun darimu akan aku terima. Asalkan kau tidak membenci dan menjauhiku!" pinta suaminya.
"Hahaha, yang benar saja! Kau meminta sesuatu yang tak mungkin kau dapatkan. Pergilah, sungguh aku tidak ingin melihat wajahmu. Aku ingin selamanya kau pergi dari hidupku. Jangan pernah muncul lagi di hidupku, itu adalah hukuman yang sangat pantas kau terima!" ucapnya dengan deraian air matanya yang terus mengalir dengan deras. Dia bahkan tak bisa membendung rasa sakit di seluruh relung jiwanya.
__ADS_1
"Sayang...." Will memohon dengan semua keputus-asaan. Dia menggenggam kedua tangan istrinya dengan erat sambil terus berlutut.