
"Dimana suami yang satunya?" kini Rose mulai menanyakan keberadaan Willy setelah matanya berkeliling ke seluruh ruangan. Dia tak menemukannya.
"Dia sedang jajan, sepertinya!" sahutnya ragu-ragu.
“Jajan? Disaat istrinya sedang dalam tahap pemulihan? Apa dia benar suamimu?” Rose berkomentar tajam.
“Aku yang menyuruhnya, Grandma. Lagipula ada, Iden yang menemaniku, iya kan sayang!” seraya memberi kode pada suaminya itu. Dia tak ingin neneknya salah faham pada suaminya.
Ck, ck, ck, dia bahkan tetap membelanya. Haiden hanya menjawab dengan anggukan, walaupun dihatinya terasa terbakar.
Benar, posisi dia dihatiku istriku tak mungkin bisa digantikan dengan sangat mudah. Haiden memilih keluar ruangan disaat Rose dan istrinya saling melepas kangen.
“Apa aku bisa melihat putri—ku, Carlos?” dia mulai bosan berada didalam ruangan. Ingin menengok putrinya yang berada di ruang perawatan bayi.
“Kau bisa ikut denganku!” Carlos lebih dulu memberi petunjuk jalannya.
Dia sambil menghela nafas panjang mengikuti Carlos. Memejamkan mata sesaat. Menetralkan suasana hatinya yang tadi tiba-tiba terbakar cemburu. Ya, dia masih saja cemburu seperti suami lainnya. Dia, masih lelaki biasa. Mencoba tegar pun masih tetap kalah jika egonya sedang menguasai.
Hatinya berubah saat dia menatap putri mungilnya nan cantik. Bayi perempuan bersemu merah dengan pipi gembilnya membuatnya tersenyum dengan damai. ‘Hah, setidaknya aku masih memiliki buah cinta kami, dia akan menjadi penyemangatku. Aku harus tetap hidup dan menjalani hidupku dengan bahagia. Tenang putri papa yang cantik, papa akan selalu berada disisimu. Papa janji akan selalu membuatmu bahagia.’
Brakk.Baron menginjak rem mobilnya dengan sedikit keras. Will sempat terkejut ketika ayahnya menghentikan mobilnya.
“Ada apa, Pah?” Willy berkata melirik ayahnya yang tiba-tiba diam. Will mengalihkan pandangannya ke depan, matanya membulat dengan lebar.
“Astaga!” pekiknya. Dia membanting pintu dan keluar. Mengecek keadaan di depan mobil ayahnya.
__ADS_1
“Anda tidak apa-apa?” Will berjongkok. Membantu seorang wanita yang hampir di tabrak oleh ayahnya. Dia terlihat merapikan bunga-bunga yang berserakan di jalan. Sepertinya dia akan mengantarkan bunga-bunga itu ke suatu tempat.
“Sekali lagi maaf, Nyonya. Anda tidak apa-apa kan?” Will terlihat khawatir dan membantunya berdiri setelah merapikan semua bunga-bunga yang berserakan tadi.
“Terima kasih, saya baik-baik sa—ja,” matanya beradu tatap dengan Will. Sesaat dia seolah terhipnotis oleh sosok Will dihadapannya.
“Apa ada yang terluka?” Will kembali memeriksa kondisi wanita tadi. Yang tak bergeming saat menerima perhatiannya. Wanita itu masih tak bergeming. Menatap wajah Willy seolah ada dejavu dalam dirinya.
“Saya akan antarkan ke rumah sakit!” Willy merasa bersalah. Demi ayahnya mencoba untuk meminta maaf.
“Ti-tidak usah, saya baik-baik saja!” tegasnya. Namun, Will yang merasa tak enak hati memapahnya kearah mobil dan membukakan kursi penumpang untuk wanita tadi. Selintas saat wanita itu sempat melirik kursi kemudi. Tubuhnya mendadak bergetar. Dia menghentikan langkahnya saat Will mempersilahkan dia masuk ke dalam mobil.
“Sa-ya baik-baik saja, Nak. Tidak perlu repot sampai ke rumah sakit segala. Lagipula saya masih harus mengantarkan pesanan bunga-bunga itu!” melirik kearah jinjingan kedua tangannya.
“Tidak repot, Nyonya, kebetulan kami pun akan kearah yang sama. Istriku baru saja melahirkan dan aku keluar mencari beberapa camilan untuknya!” jelasnya. Dia tak ingin wanita itu menolaknya. Dia ingin tak ada hutang apapun dengan seseorang, apalagi dia tahu yang menyebabkan wanita itu tergores di bagian lututnya karena dia terkejut dan menghindari mobil yang sedang dikemudikan oleh ayahnya.
“Terima kasih, Nak. Tapi, maaf saya harus segera mengantarkan semua pesanan. Ini sedang ditunggu sekali!” dia tetap bersikeras menolak tawaran Will.
Wanita itu segera berbalik badan akan pergi. Namun, Will mencegahnya. Dia merogoh saku jasnya mengeluarkan dompet dan akan menggantikan biaya kerugian atas kecelakan yang tak disengaja oleh ayahnya itu.
“Ti-tidak, Nak. Tidak perlu ada yang di ganti. Semua bunga yang saya bawa masih dalam konsidi bisa di pakai. Jadi tak perlu repot mengganti biayanya!” dia menolak ketika Will memberikan beberapa lembar ratusan ribu. Will masih saja tak tenang jika wamita itu tak menerima apapun. Bahkan biaya pergantian pun di tolaknya.
“Ayolah, Nyonya, tolong terima ini. Aku akan merasa bersalah kalau kau tak menerimanya. Jika istriku tahu aku bersikap seperti ini padamu, dia pasti menjewer telingaku hingga merah!” dia tersenyum simpul saat menceritakan istrinya. Wanita itu tertegun sesaat. Dia bahkan tak menyangka akan di perlakukan tulus olehnya. Jika melihat penampilannya sekarang, mungkin orang kaya seperti dia pasti akan menghinanya. Bukan memberiakannya pertolongan.
Wanita itu tersenyum dengan tulus, “Istrimu pasti sangat cantik. Sungguh hatinya bagaikan malaikat!” ucapnya. Ada gurat kebahagian yang tak bisa Will artikan dari tatapan wanita itu.
__ADS_1
“Tentu saja, Nyonya. Dia adalah satu-satunya wanita yang kucintai di dunia ini. Berkat dirinya aku bisa mendapatkan kebahagian yang tak bisa dinilai oleh apapun!” Will tersenyum dengan bangga saat menceritakan Dominique. Hati dan jiwanya memang sudah terpikat dan terikat oleh wanita itu.
Ada helaan nafas pelan yang di dengar oleh Will. Dia pun entah kenapa begitu terkesima menatap wanita di hadapannya. Wanita berpenampilan serba sederhana. Bahkan dia terlihat masih sangat cantik dengan pakaian lusuhnya itu. Ada seberkas sisa-sisa kecantikan dari dalam dirinya yang masih terpancarkan dengan sangat jelas.
“Baiklah jika, Nyonya tidak mau menerima bantuan dariku, aku mohon terimalah ini. Apapun keperluanmu, kapanpun, dimanapun kau meminta bantuan dariku. Aku pastikan akan membantumu!” Will memasukan kembali lembaran merah uang yang di tolak wanita tadi. Dia menggantikannya dengan satu lembar kertas berukuran kecil bertuliskan nama dirinya.
Wanita itu tersenyum dan mengangguk dengan haru, “Terima kasih banyak, Nak. Lain kali aku pasti akan mencarimu!” ucapnya dengan nada haru. Hampir saja dia tak bisa menahan air matanya yang akan mengalir. Dia tersenyum melepas kepergian mobil Will.
Wanita tadi menatap lembar kertas kecil yang bertuliskan nama Willy itu, dia meyakinkan hatinya. Dan terlihat dia menitikan air matanya saat melihat nama belakang yang tersemat dari Will. Dia menggengam kertas berukuran kecil tadi, menggengam erat-erat di dadanya. Tangisan pun tak bisa dia bendung. ‘Kau benar-benar sangat tampan, mirip sekali dengannya.’ Berbisik lirih di hati mengenang pertemuannya barusan.
“Ada ada denganmu, Pah? Kenapa kau tadi tidak turun dan meminta maaf. Harga dirimu masih saja tinggi. Tidak ada salahnya meminta maaf, Pah!” Willy mendengus kesal saat menatap ayahnya. Dan di luar dugaan ayahnya hanya diam. Dia tetap menutup mulutnya dengan rapat. Fokus saat menyetir dan seolah mengabaikan semua ucapan yang keluar dari mulut anaknya.
“Sayang, aku datang!” suara Will sedikit berteriak saat memasuki kamar perawatan istrinya. Suasana tawa di dalam ruangan mendadak hening saat melihat kedatangan Will yang masuk dengan beberapa kantong roti juga kopi.
“Grandma, kapan kau datang!” sapanya. Tersenyum kearah Rose yang terlihat kecut saat menatapnya.
“Ada apa ini? Apa aku membuat kesalahan lagi?” kembali dia merasa bingung karena tatapan nenek istrinya.
“Kesalahan? Memangnya kau melakukan kesalahan apa?” selidik Rose. Memicingkan tajam matanya kearah Willy.
“Kau membuat cucuku menangis, hah?” tambahnya. Belum sempat Will berbicara. Rose sudah berpikiran abstak tentang cucunya.
“Ah, itu—,” dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menatap istrinya yang memalingkan wajah saat dia meminta pertolongan.
“Hei, Bunarco, anakmu, laki-laki!” Haiden yang segera mengacaukan suasana. Mengalihakan perhatian Rose.
__ADS_1
“Laki-laki? Hasilnya sudah keluar?” Baron yang menimpali obrolan mereka. Terlihat saat bergembira ketika mendengar garis keturunan yang di lahirkan oleh putranya laki-laki. Dia bisa berbangga dan menyombongkan diri.