
"Sedang apa kau di sini?" Haiden menaikan rahangnya dengan keras saat menatap Sophie.
"Se-selamat siang Pak, ma-af saya yang salah saat menyebrang tidak melihat jalan!" Sophie membungkukkan badan meminta maaf. Dia tak ingin di blacklist sebagai karyawan tidak baik jika mencari masalah dengan pemilik tempatnya bekerja. Apalagi Haiden sudah menatapnya penuh kemurkaan sebagai seorang pengganggu.
"Sebaiknya kau cepat pergi. Jangan mengganggu urusan kami," Haiden berkata dengan sangat dingin.
"Ba-baiik Pak. Saya pamit!" Sophie berbalik dan akan pergi.
Grep
"Kau mau kemana? Aku ikut!" Dominique sudah mengalungkan tangannya di lengan Sophie.
"Kau mau kemana sayang? Ayolah jangan buat yang aneh aneh. Kita baru sampai dan ingat kau harus banyak beristirahat," Haiden mencengah kepergiannya. Hal yang sama akan dilakukan Willy. Namun, sudah diwakilkan lebih dulu oleh Haiden.
"Ah Iden. Jangan ganggu. Aku ingin makan ketoprak, cilok dan mie ayam dengan Sophie. Aku bisa pergi dengan Diana kok. Kalian tidak usah khawatir!" dia tetap bersikeras dengan keinginannya.
"Tidak. Aku tidak mengizinkan!" Haiden berbicara tegas.
"Will, tolong aku. Aku hanya pergi sebentar. Aku janji akan segera pulang. Kau bisa menyuruhku untuk membawa beberapa orang pengawal, atau mungkin Ramon bisa ikut denganku,"
Gadis itu bahkan tak mengindahkan ucapan yang keluar dari mulut Haiden. Dia malah meminta perlindungan dari Willy.
"Sayang, maaf kali ini aku sependapat dengannya. Jadi kita langsung pulang dan beristirahat saja ya!" Willy berbicara dengan sangat lembut terdengar di telinganya.
Apa sebenarnya yang sedang terjadi. Dua laki laki ini mana suaminya Domi? Kok kepalaku jadi pusing. Bisa bisa Domi berurusan dengan dua pria menyeramkan seperti ini. Huh kalau terjadi padaku. Amit-amit. pekik Shopie.
"Aku tidak mau ikut kalian. Aku mau pergi sendiri saja!" Kali ini Dominique menghentakkan kakinya dengan kesal.
"Ayo, Shop kita pergi!" Dia menarik tangan Shopie. Tak mengindahkan kedua laki laki di hadapannya yang begitu menghawatirkan kondisinya.
"Ok. Ok. Aku izinkan, asalkan aku ikut denganmu," pinta Haiden.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak mau kalian mengikuti-ku. Aku ingin sendiri," tegasnya.
Haiden dan Willy mendelikkan matanya kepada Sophie. Gadis itu menjadi sasaran empuk kedua suami Dminique.
Gadis itu merasa seperti berada dalam tiang gantungan. Jika tidak menurut akan mendapatkan hukuman mati. Serba salah jadinya, satu sisi dia sahabat Dominique. Namun, di tempatnya bekerja pria yang bernama suami sahabatnya itu adalah pemilik tempatnya bekerja.
"Dom, kita makan cilok, ketoprak dan mie ayamnya di tempat-mu saja ya!" tercetus ide nyeleneh dari mulut Sophie yang berusaha membujuk temannya itu. Dia tak ingin kehidupan susah yang di jalani bertambah susah karena dua orang di belakang Dominique yang terus memelototi dirinya.
"Hiiiihh, apa sih Sop. Nggak enak kalau di makan di rumah. Keburu dingin, enaknya di makan hangat," sahut Dominique tetap bersikeras.
"Ta-tapi Dom," gadis itu sudah bergetar ketakutan saat kembali melirik dua pria di belakangnya.
Dominique menyadari gelagat Sophie, "Hei, kalian jangan fikir aku tidak tahu ya. Kamu mengancam teman-ku. Pokoknya aku tidak mau pulang!" dia membalikkan badan menatap kedua pria di belakangnya yang masih berkacak pinggang menatap kesal Sophie.
Dasar wanita pengganggu. Malah akan membawa istriku makan sampah yang tidak sehat. gerutu Haiden.
Huh, aku sebaiknya mendukungnya sekarang. Tidak boleh kalah strategi dengan si Aramgyan itu.
"Aku izinkan. Biarkan kami turut serta. Tidak ada negosiasi lagi, oke!" jawaban daro Will.
Dia hanya bisa menghela nafasnya panjang.
"Kau tidak keberatan kan Sop? Kalau kedua suamiku yang mengesalkan ini turut serta!" dia dengan cuek menyebut kedua laki laki itu suamiku. Membuat Shopie membulatkan matanya tak percaya.
Apa dia benar temanku? Ba-bagaimana bisa dia mempunyai dua suami?
Sophie mana bisa menolak permintaan temannya itu. Apalagi dia sangat ingin sekali bertemu dan bercerita.
"Carlos, dimana kotak obatnya?" Dominique melirikkan kepalanya pada semua penonton yang hanya diam menyaksikan sedikit pertunjukan drama barusan.
"Kotak obat? Kau terluka di mana?" bukan memberikan malah balik bertanya.
__ADS_1
"Hih, kau sudah mulai bawel ya. Kau jangan ketularan dua suamiku yang menyebalkan itu. Cepat berikan kotak obatnya!" hardiknya kesal karena Carlos mulai rewel seperti anak kecil.
"Ah, ba-baik!" tanpa banyak bicara Carlos segera mengambil dan memberikan kotak obat tadi pada Dominique.
Dia jongkok dan melihat lutut Sophie. Darahnya sudah mulai mengering.
"Kau mau apa?" Willy menghentikan tangannya ketika Dominique memulai membuka kotak obatnya. Sebenarnya Sophie ingin membuka mulutnya. Namun, mulutnya seperti terkunci. Takut melihat keberadaan dua suami temanya yang garang itu.
"Hiss, aku mau membersihkan lukanya. Jangan ganggu aku, Will," dengus Dominique.
"Kau jangan gila. Mana aku izinkan. Kau ini bukan seorang pelayan!" ucapan Willy terdengar murka, tak suka istrinya melakukan pekerjaan yang menurutnya bukan tugasnya.
"Aduh jangan buat kepala aku pusing lagi. Aku ini cuma mau mengobati lukanya. Repot sekali. Ramon, tolong kau bersihakan dan obati luka temanku," dia segera memberikan perintah secara acak.
Tapi saat Ramon mulai melangkah maju menggantikan posisi nyonya-nya, seseorang tampak tak suka. Tangannya mengepal dengan erat ketika dia melihat Ramon berlutut dan mengobati luka Sophie.
"Pegang pundak-ku. Ini mungkin akan terasa sedikit perih. Tapi, tidak akan lama," seketika ucapan Ramon berubah lembut. Membuat Willy menautkan kedua alisnya. Tidak pernah dia melihat Ramon begitu perhatian kepada seorang wanita dan bersikap ramah. Senyuman smirk muncul sekilas dari wajahnya.
"Ah," suara Sophie sedikit meringis ketika alkohol menyentuh kulit untuk membersihkan luka.
"Terima kasih," ucap Sophie melembut pada Ramon dan wajahnya bersemu memerah.
Pertunjukan drama pun berakhir dengan negosiasi yang tak bisa di rubah oleh Dominique. Dia bisa pegi dengan catatan kedua suami menyebalkannya itu turut serta. Kedua lelaki itu hanya bisa melipat kedua tangannya dengan kesal saat mereka menatap dua wanita di hadapannya tertawa lepas sambil melihat rekaman yang di tunjukkan oleh Sophie.
Benar benar mengganggu waktuku. Lihat bagaimana aku akan menghukum wanita menyebalkan ini.
Haiden merasa sangat tak puas dengan kehadiran sosoknya di antara mereka. Baginya Willy saja sudah merepotkan, sekarang harus di tambah dengan Sophie. Kalau dia tidak ingat saat ini Dominique sedang hamil, mungkin saja tadi Sophie sudah di seret jauh oleh para pengawal mereka.
Huh, terima kasih. Setidaknya wanita menyebalkan itu ada gunanya. Dia tidak mengubarkan kemesraannya di hadapanku.
Willy senang walau sedikit kesal dengan kehadiran Sophie.
__ADS_1
"Sop, nanti malam kita makan nasi goreng di tempat aku ngontrak dulu ya. Aku pengen banget makan di sana bareng kamu," kembali Dominique meminta, membuat kedua lelaki di hadapannya makin meradang karena kesal.
Lihat saja, aku tidak akan biarkan kalian menyentuhku malam ini. Akan aku buat Shopie menginap dan mengobrol denganku sepanjang malam. pekik Dominique, melirikkan kedua bola matanya pada lelaki di hadapannya yang menahan kekesalan dalam diam mereka.