
Dua tahun berlalu,
"Ayo... Marissa, kau sungguh menyerah dengan-ku" Willy yang berhasil membanting tubuh Marissa.
"Akhh... hah... hah... " nafas Marissa menderu, tatapannya tajam melihat lawan di hadapannya.
"Ayo bangun, kau tahu kan hukuman apa yang akan kau dapatkan kalau kau kalah" ucap Willy berdiri tegap tetap memasang kuda-kudanya.
Marissa bangkit, tangannya mengepal dengan kuat, ia mulai berlari dan menyerang Willy secara bertubi.
"Aargghh" teriak Marissa berulang kali, namun semua serangannya tetap bisa di hindari oleh Willy, hingga Willy berhasil membuat tubuh Marissa terpelanting dan kedua tangan Willy menahan tubuh Marissa dengan kuat.
Nafas mereka menderu keras, semua tepuk tangan dan sorak menggema di seluruh ruangan.
"Kau kalah, jadi malam ini kau tak bisa lari dariku, pegang janjimu loh" Willy tersenyum licik menggoda Marissa.
"Iyaa, yaa... gendong aku, aku lelah" Marissa yang merengek manja...
Willy mengangkat tubuhnya, menarik perlahan tubuh Marissa ke pelukannya.
"Kita berendam dulu ya sayang" Marissa mengangguk manja di pelukan Willy.
Mereka memasuki ruang pemandian air hangat, Marissa turun dari pelukan Willy berjalan masuk ke dalam kolam air hangat, tangannya menarik Willy masuk turut serta.
"Sayang, kontrak iklan-ku apa sudah boleh di tanda tangani" Marissa bergelayut manja di lengan Willy.
"Berapa lama kau pergi"
"Paling lama satu bulan, tapi aku akan mempercepat jadwalnya, aku tidak ingin terlalu lama berjauhan dengan-mu" ucap Marissa yang sudah mengalungkan kedua tangannya di leher Willy.
Willy memajukan wajahnya, "Malam ini janji tidak kabur, aku pasti akan mengabulkan permintaanmu" bisik Willy di telinga Marissa, Willy meraih tengkuk leher Marissa dan menciumnya dengan membara.
Willy melepaskan ciumannya, dia menaiki tepi kolam dan menarik Marissa.
"Aku lapar, kau mau masak apa malam ini?" menggandeng Marissa masuk ke ruangan tidur mereka.
Marissa memasuki kamar tidur mereka, saat masuk terpampang dengan jelas foto pernikahan mereka. Dua tahun ini Marissa menjalani kehidupan barunya dengan bahagia bersama Willy. Willy memberikan semua kebebasan pada Marissa begitu pun dengan karier modelnya.
__ADS_1
Willy mendukung penuh karier Marissa hingga mencapai titik popularitas. Dalam dua tahun Marissa sudah di kenal orang di berbagai belahan negara. Karena Marissa tidak terlalu menyukai pengawal, Willy melatihnya agar memiliki ilmu bela diri agar dia bisa melawan saat genting.
Marissa keluar kamarnya, melihat sekeliling berjalan ke dapur.
"Di mana suamiku" tanya Marissa kepada salah seorang pelayan.
"Di ruang baca Nyonya, Tuan Carlos datang mencari"
"Ada Carlos, baiklah... ayo kita mulai masaknya, suamiku sudah kelaparan, aku akan membuat masakan spesial kali ini" Marissa yang sudah bersiap dengan celemek di lehernya.
Di ruang baca Willy,
"Ini yang terakhir Will... aku tidak tega melihatnya mengkonsumsi obat ini" ucap Carlos.
Willy menghempas nafas panjang, "Aku akan melakukannya malam ini, menjadikan dia wanita yang seutuhnya milikku. Aku akan mengikat malam ini" Willy menatap jauh dari jendela ruang bacanya, mulutnya terus mengepulkan asap rokok.
"Aku tahu mungkin ini terlalu serakah tapi aku sungguh mencintainya Carlos"
"Aku tahu, tapi kita sebagai jaringan gelap, kau pasti tahu konsekuensinya, dia tidak akan aman jika bersamamu" Carlos berusaha mengingat teman terbaiknya.
"Kau gila Will, demi seorang wanita... "
"Dia sekarang istriku Carlos" Willy mendelik tajam menatap Carlos.
"Oke, oke... iya dia istrimu, tapi sampai kapan?"
"Jangan bahas ini, dia akan segera kembali ke negara-nya, aku akan melepaskannya jika memang dia yang meminta sendiri... "
Tok.. tok... tok...
Pintu di ketuk, Ramon membuka pintu,
"Makan malam sudah siap, ayo... kalian semuanya makan" Marissa menonjolkan wajahnya dari balik pintu.
Kau begitu manis dan penurut, mana tega aku membiarkanmu meninggalkanku. Willy menatap Marissa dengan senyuman terhangat.
Makan malam usai, semua tamu pun pergi, Marissa sudah bersiap di atas kasur dengan lingerie merahnya menanti Willy. Willy keluar dari kamar mandi, jantung Willy berdekup kencang saat menghampiri Marissa, ini pertama kali Marissa menyetujui dirinya di sentuh seutuhnya oleh Willy. Biasanya Marissa selalu kabur dan menghindari Willy. Willy tak pernah ingin memaksa Marissa, karena di lubuk hati kecilnya dia hanya ingin Marissa menerima semua cintanya tanpa paksaan.
__ADS_1
"Kau sungguh tidak menyesal, aku memberikan-mu kesempatan untuk lari, jika kau tidak menginginkan aku tidak akan memaksamu" ucap Willy yang sudah polos tanpa busana di atas tubuh Marissa. Marissa tersenyum, menggalungkan kedua tangannya di leher Willy dan menarik wajah Willy agar berdekatan dengan-nya.
"Namaku Marissa, aku adalah istri satu-satunya Willy Bunarco" ucap Marissa membuat Willy tertegun, dia bahagia. Dan Willy pun mulai penyatuannya. Nafas mereka saling menderu, sesaat Marissa terbayang, sepertinya dia pernah merasakan tubuhnya melakukan penyatuan dengan seseorang.
"Ah" teriak mereka mencapai puncak, Willy melepaskan semua cinta dan kerinduannya yang terpendam.
"Terima kasih sayang" Willy mengecup lembut kening Marissa dan memeluknya dengan erat.
"Sayang... aku mau lagi" ucap Marissa lirih di pelukan Willy, Willy tercengang, melihat wajah Marissa yang terbenam di dadanya.
"Apa kau bilang"
"Lagi, aku mau lagi..." ucap Marissa yang tak tahu malu, tubuh Marissa seakan tidak puas, dia ketagihan. Dan mereka pun menghabiskan malam hingga fajar tiba.
Wanita ini ternyata sangat buas, aku hampir kewalahan menahan semua serangan. Pantas saja Aramgyan tak melepaskan, dia begitu mempesona dan memuaskan hasrat.
Willy yang menatap Marissa kelelahan di tempat tidur, mengambil piyama tidur yang tergolek di lantai. Willy menyalahkan rokoknya ketika ponselnya berdering.
Willy mengakat telponnya, duduk di sofa sambil menatap Marissa yang masih tertidur pulas.
"Kau sudah bangun, pagi-pagi sekali, apa kali ini Marissa melarikan diri lagi" suara Carlos dari sebrang mengintrogasi, dia penasaran dengan malam pertama Willy yang selalu gagal.
"Kau segera-lah menikah, agar tidak jadi mesin karatan" sindir Willy terkekeh pelan menunjukkan taring kemenangannya, berhasil membobol gawang lawan.
"Ah, sial. Sungguh kau melakukannya semalam" Carlos yang kesal mendengar ucapan kemenangan dari Willy, biasanya dia selalu mengeluh tentang akal Marissa melarikan diri dari malam pertamanya selama dua tahun ini.
"Lima ronde, aku bahkan hampir kewalahan karena dia yang meminta terus... " ucap Willy menyombongkan diri.
"Sungguh luar biasa, tubuh mungil istrimu ternyata menyimpan kekuatan besar kalau sedang di ranjang"
"Hahahaha, begitulah seharusnya Nyonya Bunarco, kuat dalam segala hal" Willy yang tertawa lepas, tak menyadari Marissa sudah berdiri polos di hadapannya menatap Willy dengan syahdu, Willy menelan salivanya lagi ketika Marissa berjalan mendekatinya, Marissa menyibakkan piyama tidurnya dan tanpa rasa malu Marissa duduk di pangkuan Willy, melakukan gerakan erotis, membuat jiwa Willy terpancing kembali.
"Ah" suara Willy di telpon merusak gendang telinga Carlos.
"Kau gilaaa, sedang apa kau!!" teriak Carlos menggila ketika mendengar suara yang membuat bulu kuduk nya berdiri.
"Maaf Carlos, aku tutup, aku mau olahraga pagi dulu" senyum licik Willy mematikan telpon. Melanjutkan olahraga pagi membaranya dengan Marissa.. .
__ADS_1