
"Seharusnya kau yang berada di posisi ibumu, sekarang! Toh keluargaku lebih membutuhkan ibumu untuk menjadi budak di rumah ku, daripada kau yang hanya bisa menghabiskan uang kedua orang tuaku!" hina Ivander dengan polosnya yang seketika mempu membuat Sherina terkejut bukan main.
Bukan hanya Sherina yang terkejut saat mendengar hinaan dari Ivander, tetapi hal sama juga dirasakan oleh dua orang yang baru saja tiba di ruang rawat milik Ivander. Tatapan kedua orang yang baru saja tiba di ruangan ivander itu sama-sama terpaku pada laki-laki yang bahkan sama sekali tak dapat berpikir bahwa apa yang dia katakan, mampu membuat istrinya terpuruk.
"Begitukah caramu memperlakukan istrimu, di belakang mama dan papa?!" bentak seorang laki-laki yang usianya bahkan sudah menginjak setengah abad.
Sepasang suami istri yang sama-sama mendengar bentakan tadi, seketika langsung menolehkan kepalanya ke belakang. Keduanya terkejut bukan main tatkala melihat kedua orang tuanya telah berdiri di ambang pintu.
Sherina yang terkejut karena kedua mertuanya datang dengan tiba-tiba itu, segera menolehkan kepalanya ke belakang dan langsung berjalan mendekati sang papa yang terlihat sangat marah. Dengan rasa khawatir dan panik, Sherina mencoba menyapa sang papa dan berharap jika ayah mertuanya itu akan lupa dengan makian yang diberikan oleh anaknya pada dirinya.
"Jangan harap papa akan mengampuni laki-laki seperti suami mu itu lagi, Sayang! Dia sudah benar-benar keterlaluan karena telah mengatakan hal rendahan itu pada mu!" Seolah tahu dengan apa yang akan dilakukan oleh menantunya, papa Ivander itu segera menangkis tangan Sherina yang hendak menyalami dirinya.
Sherina cukup terkejut dengan apa yang dikatakan oleh papa mertuanya. Wnaita yang tadinya hednak menyalami kedua mertuanya itu, seketika menjadi tegang ketika dirinya melihat sang papa berjalan mendekati Ivander dengan tatapan penuh amarahnya.
Tanpa ba bi bu, sebuah pukulan keras langsung mendarat dengan sempurna di rahang sebelah kiri milik Ivander. Sherina dan juga ibu mertuanya itu sampai menutup mulut mereka ketika melihat pemukulan sadis yang sangat mendadak itu.
"Papa! Rina mohon jangan lakukan itu lagi!" teriak Sherina dengan histeris sembari berjalan cepat mendekati sang papa yang tengah menatap anak laki-lakinya dengan tatapan bencinya.
Sherina menggelengkan kepalanya sembari menutupi sang suami dengan tubuh mungilnya. Sherina menatap wajah milik papa Ivander dengan tatapan memohonnya, sembari menahan kedua tangan milik mertuanya.
__ADS_1
"Menyingkirlah, Rin. Papa tidak akan mengampuni anak bi adab ini lagi!" ujar papa Ivander yang masih belum berniat untuk menuruti permintaan dari menantu kesayangannya.
Sherina yang melihat bahwa sang papa hendak memukul sang suami lagi itu pun segera meminta bantuan dari mama mertuanya. Meskipun Sherina telah dibuat sakit hati dengan apa yang dikatakan oleh sang suami, tetapi dari lubuk hatinya yang terdalam tak menginginkan jika sang suami harus merasakan sakit lagi.
"Sudah, Pa. Jangan kotori tangan papa dengan memukul anak tak tahu diuntung seperti Ivan. Kita cukup tahu dengan apa yang sudah terjadi sebenarnya di pernikahan mereka," ucap mama Ivander mencoba menengahi, yang membuat Ivander tersenyum miring.
Laki-laki yang sedari tadi sedikit menolehkan kepalanya ke samping karena efek pukulan dari sang papa itu, mulai menolehkan kepalanya menghadap ke arah kedua orang tuanya.
"Hebat! Mama dan papa sekarang lebih memihak wanita murahan ini, daripada anak kandung kalian sendiri! Tunggu saja masa kehancuran mu karena kalian mempercayai wanita yang salah seperti dia!" Ungkapan bernada tegas dan berat itu berhasil membuat papanya semakin marah.
"Dasar anak tak tahu malu! Kau tak melihat betapa khawatirnya istrimu saat papa memukul mu?! Dia bahkan rela memasang badan untuk laki-laki yang ternyata tidak lebih dari seonggok sampah seperti mu! Tapi apa yang kau lakukan?" Dengan tatapan tak percayanya, laki-laki berusia lanjut itu menggelengkan kepalanya sembari mengepalkan tangannya dengan sangat erat.
"Papa menyesal karena telah menikahkan laki-laki pecundang seperti mu, dengan Sherina! Tidak seharusnya wanita sebaik Sherina mendapatkan laki-laki tempramen dan egois seperti mu!" imbuh papa Ivander lagi yang kali ini berhasil membuat air mata Sherina kembali turun.
"Sherina, kau ikutlah pulang bersama mama dan papa! Papa akan segera mengurus surat perceraian untuk kalian berdua!"
"Sherina, kau ikutlah pulang bersama mama dan papa! Papa akan segera mengurus surat perceraian untuk kalian berdua!" ucap papa Ivander dengan nada tingginya, yang berhasil membuat ketiga orang yang ada di ruangan tersebut, terkejut bukan main.
Bagaimana tidak, selama ini yang selalu meminta agar Ivander tetap bertahan dengan Sherina adalah papanya. Lantas mengapa sekarang papa Ivander justru mengusulkan jika kedua anaknya akan bercerai?
__ADS_1
"Papa! Apa yang papa katakan?! Kita berharap banyak pada pernikahan kedua anak kita ini, Pa. Jangan pernah gegabah dalam mengambil keputusan, Pa." Mama Ivander yang benar-benar kaget dengan ucapan suaminya itu, mencoba memberi nasihatnya pada sang suami.
Sama dengan mamanya, Ivander dibuat terdiam seribu bahasa saat mendengar perintah yang papanya berikan pada Sherina. Laki-laki itu benar-benar takut jika nanti sang papa akan mengambil keputusan yang lebih parah daripada sekedar memberikan semua warisannya pada Sherina.
"Papa tidak bisa seenaknya membawa Sherina tanpa izin dari Ivander! Sherina adalah istri Ivander, jadi apapun yang hendak dilakukan oleh Sherina haruslah atas izin dari ivander!" tolak Ivander dengan nada paniknya yang membuat papanya tersenyum miring.
"Kenapa? Kau takut jika nanti istrimu benar-benar bercerai dari mu? Papa mohon padamu untuk berhenti membuat drama, mulai dari sekarang! Papa dan mama sudah mendengar apa yang kau katakan pada istri mu, tadi. Jadi sekarang papa akan membawa Sherina bersama papa. Jika kau tak ingin bercerai dari istri mu, datang dan jemput lah dia setelah kau menyadari kesalahan mu." Ucapan yang baru saja dikatakan oleh papa Ivander itu, mampu membuat tenang mama Ivander, yang terus terang masih menginginkan kedua anaknya tetap bersama.
"Ta ... tapi, Pa. Ivander belum pulih sepenuhnya, Sherina yakin dia pasti akan membutuhkan bantuan Sherina nantinya." Sherina yang tahu bahwa suaminya pasti tengah membutuhkan banyak bantuan karena lukanya yang masih basah.
"Kenapa kau masih saja memikirkan laki-laki itu? Dia saja sama sekali tak menggunakan otaknya ketika menghina mu, tadi. Jadi jangan harap papa akan meninggalkan mu di sini, dan merawat laki-laki tak tahu malu ini. Sekarang, ikutlah papa pulang!" ujar papa Ivander sembari menggandeng tangan menantunya, dan segera berjalan keluar dari ruang rawat inap milik anak laki-lakinya.
Mama Ivander yang melihat sang suami dan juga menantunya telah berjalan keluar dari ruang inap milik anaknya itu pun segera berjalan mendekati sang putra.
"Mama benar-benar tak habis pikir dengan apa yang sudah kamu perbuat, Van. Mama harap supaya kamu tidak salah langkah dan melepaskan wanita sebaik Sherina, hanya karena kau tak terima dengan apa yang papa mu putuskan." Sebelum benar-benar pergi dari hadapan sang anak, wanita itu memperingatkan sang anak agar tak salah jalan.
Ivander hanya dapat melihat kepergian mama nya dari ruang gawatnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Yang laki-laki itu takutkan adalah bagaimana jika sampai Nessie tahu semuanya.
Dirinya selalu mengingat saran dari Nessie yang mengatakan jika dirinya harus membuat kedua orang tuanya percaya padanya, dan berharap besar supaya papanya berubah pikiran.
__ADS_1
Benar saja, seolah ada ikatan batin, pintu yang tadinya tertutup karena mamanya sudah pergi kini mulai terbuka. Terlihat dengan jelas bahwa seorang wanita dengan pakaian yang sana dengannya.
"Sayang, bagaimana kau bisa datang kemari? Apakah kau sudah baik-baik saja? Aku mohon pada mu untuk jangan banyak bergerak terlebih dahulu. Aku takut terjadi sesuatu pada mu dan anak kita nantinya."