Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 19


__ADS_3

Sherina benar-benar terkejut dengan ajakan yang Diko berikan padanya. Bagaimana bisa pria itu menaruh sebuah perasaan padanya? Sedangkan dirinya sendiri sama seklai tidak pernah menganggap Diko lebih dari sahabatnya,


"Dik, kamu bercanda kan? Nggak mungkin kamu punya perasaan sama aku. Kita ini temen, Dik. Nggak lebih!" ucap Sherina meyakinkan pria itu sembari melepaskan tangannya dengan paksa.


Diko yang melihat penolakan dari Sherin itu pun seketika terdiam. Pria itu menundukkan kepalanya sembari memejamkan matanya. Dia tidak berpikir jika dirinya akan ditolak dengan begitu cepat, oleh wanita yang dia cintai.


"Aku telat ya, Rin? Aku minta maaf sama kamu, tapi aku pernah berharap lebih dari persahabatan kita. Aku udah punya niat buat serius sama kamu, bahkan sejak aku lulus SMA. Tapi tawaran beasiswa itu buat aku nggak bisa ngutarain perasaan aku."


Diko tahu, tak sepantasnya dia memaksakan perasaannya pada Sherina. Maka dari itu dia hanya mencoba menjelaskan apa yang dia alami dahulu.


Sherina yang masih kaget itu hanya berdiam diri sembari menatap Diko dengan tatapan tak percayanya. "Aku minta sama kamu buat buang jauh-jauh perasaan itu. Aku nggak mau kasih harapan buat kamu."


Diko mengangkat kepalanya dan menatap Sherina dengan begitu tenang. Pria itu menganggukkan kepalanya sembari tersenyum hangat.


"Kamu udah ada pasangan ya, Rin? Sampai-sampai kamu sama seklai nggak kasih kesempatan ke aku buat perjuangin perasaan aku?" tanya Diko dengan begitu tenang.


Sherina seketika terdiam. Ya, selama setahun terakhir hubungannya dan Diko kembali membaik, dirinya belum pernah membicarakan tentang pernikahannya dengan Ivander.


"Ya, aku dah ada pasangan. Dia Ivander, suamiku."

__ADS_1


****


"Makasih banyak ya, Rin. Kamu hati-hati pulangnya," ujar Diko sebelum dirinya turun dari mobil Sherina.


Dengan begitu semangat, wanita itu mengacungkan kedua jempolnya dengan senyum yang merekah. "Okei, makasih ya Ko!"


Dengan senyum hangatnya Diko menganggukkan kepalanya dengan tulus. "Sampai jumpa, Rin. Kabar-kabar ya kalo dah sampai rumah,"


Setelahnya, Sherina pun melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah. Jam menunjukkan pukul 9 malam, dia benar-benar tidak menyangka akan menghabiskan banyak waktu bersama Diko.


Setibanya Sherina di rumah, wanita itu membuka pintu rumahnya dan berjalan melewati ruang keluarga dengan begitu saja. Wanita itu seketika terperanjat ketika mendengar suara suaminya yang memanggil namanya.


Pria yang bahkan sudah siap untuk tidur itu, ternyata menunggunya hingga pulang. Dia berjalan mendekati sang istri yang meskipun pulang terlambat tetapi tak terlihat merasa bersalah.


"Kau belum tidur? Ini sudah larut malam," tanya Sherina dengan wajah polosnya.


Ivander yang tak melihat sedikitpun rasa bersalah dari istrinya itu, menghembuskan napasnya menahan marah.


"Kau tidak merasa bersalah, walaupun kau sudah pulang selarut ini? Kau memiliki suami, tak seharusnya kau pulang malam!" ucap Ivander dengan tegas yang membuat kening milik wanita itu mengernyit.

__ADS_1


"Lalu apa masalahnya? Bukankah tadi kau ditemani dengan calon istrimu? Kau juga tak pernah mendebatkan hal ini, sebelumnya. Lagipula, bukankah kita sudah sepakat untuk tak mencampuri urusan masing-masing?" Sherina yang kebingungan dengan sikap suaminya itu, mengingatkan sang suami tentang janji pranikah yang dahulu mereka buat.


"Apa masalahnya, kau bilang? Kau pergi dengan laki-laki lain hingga larut malam, saat kau memiliki suami! Tapi kau masih bertanya, apa masalahnya?" Sherina benar-benar tak habis pikir dengan apa yang dibicarakan oleh suaminya.


"Jadi ini masalah karena aku menjemput Diko pulang? Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa yang terjadi denganmu! Kau mempermasalahkan aku karena aku pergi keluar untuk bertemu dengan laki-laki lain? Sementara kau boleh-boleh saja pergi, bahkan menginap dengan wanita lain? Seharusnya kau berkaca, aku sama sekali tidak macam-macam. Tidak sepertimu yang bahkan sudah menghamili wanita itu!"


Setelah mengatakan hal tersebut, Sherina segera naik ke kamarnya. Dia tak memikirkan apa yang suaminya katakan padanya.


Sherina membersihkan tubuhnya dan berniat untuk segera tidur. Tapi tiba-tiba pintunya kembali di ketuk, dan untuk kali ini tebakan Sherina ada sang suamilah yang mengetuk pintu kamarnya.


Sherina tidak bertanya apa yang dibutuhkan suaminya, dia hanya berdiri, menatap Ivander yang juga tengah menatapnya dengan tatapan intens.


"Diko sudah kembali?" Tiga kata itu berhasil membuat Sherina terdiam.


"Ya, dia sudah kembali. Mungkin hanya untuk beberapa hari," jawab Sherina sambil menganggukkan kepalanya, membenarkan apa yang suaminya katakan.


Ivander hanya mengangguk pelan seraya menatap kamar Sherina. Baru kali ini dia melihat isi kamar istrinya. Begitu rapi dan khas aroma tubuh wanita itu.


"Aku minta agar kau tak mendekati pria itu. Jaga jarakmu dengannya, kau sudah memiliki suami." Perkataan yang bahkan terderngar lebih ke sebuah perintah itu, lagi-lagi membuat Sherina menghembuskan napasnya.

__ADS_1


"Aku bukan anak kecil yang tidak bisa membedakan, mana yang benar dan mana yang salah."


__ADS_2