Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 144


__ADS_3

"Kemarilah. Aku merindukanmu," bisik seseorang tepat di telinga Sherina, lalu memeluk tubuhnya dengan begitu erat dari belakang.


Sherina yang sedikit terusik itu, mulai menggeliat perlahan. Melihat hal tersebut, Marvin segera membalikkan tubuh sang istri dan membawanya ke dalam dekapannya.


Tak mengucapkan sepatah kata apapun setelahnya, Marvin segera menenggelamkan wajahnya di puncak kepala milik istrinya. Dia menghirup aroma yang sangat dia rindukan ini dengan begitu dalam.


Sherina yang sadar jika sang suami tengah memeluknya itu, segera membalas pelukan pria itu. Dia menyembunyikan wajah sembabnya di dada bidang suaminya, dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku minta maaf," lirih Sherina lalu mendongakkan kepalanya, yang membuat hidungnya menempel tepat di dagu milik suaminya.


Marvin tidak menjawab, dia terus mengabaikan ucapan dan gerak-gerik istrinya itu. Tetapi Sherina yang masih terus mengejar kata maaf dari suaminya itu, mulai melepaskan pelukan yang Marvin berikan pada tubuhnya.


"Ck, diam Sherina! Kenapa kau ingin melepas pelukanku!? Kau tidak ingin ku peluk!?" sensi Marvin sembari menundukkan kepalanya dan menatap istrinya.

__ADS_1


Melihat ekspresi wajah sang suami yang terlihat sedikit lelah, membuat Sherina segera lepas dari dekapan suaminya. Wanita itu sedikit menjauh, dan memberikan jarak antara dirinya dan sang suami.


"Aku lelah, Sherina." lirih pria itu, dengan mata yang mulai menghitam.


Wanita itu membuat nyaman sandaran kepalanya, lalu dengan cepat segera membentangkan kedua tangannya. Dia tersenyum tipis, lalu memberi isyarat agar sang suami datang ke pelukannya.


"Jika kau memelukku, berarti kau memaafkan ku." Sherina menatap kedua mata tajam milik suaminya yang terlihat begitu lelah, lalu turun ke dagu milik Marvin yang sudah mulai ditumbuhi oleh rambut halus.


Marvin menghembuskan napasnya sejenak, lalu tanpa aba-aba langsung memeluk tubuh kecil milik Sherina. Seketika rasa lega langsung mengguyur tubuhnya, setelah sekian lama kini akhirnya dia dapat kembali bersama sang istri.


"Kenapa aku?" tanya Sherina dengan tangan yang masih setia mengelus puncak kepala milik suaminya.


Marvin yang sedikit kebingungan dengan pertanyaan Sherina itu mendongakkan kepalanya sejenak. Tepat saat kedua tatapan mereka bertemu, Sherina tersenyum manis lalu kembali mengusap kening milik suaminya dengan hidung mancungnya.

__ADS_1


"Kenapa kau masih tetap memilih aku, sementara kau bahkan sudah memiliki kesempatan untuk meninggalkanku? Kau bisa mendapatkan wanita yang kau inginkan, yang bisa memberimu seorang putra. Seperti yang kau inginkan dulu. Kau masih ingat dengan keinginanmu itu?"


Sherina bertanya dengan rasa sesak yang sedikit menghimpit dadanya. Dia menyentuh semua detail wajah milik suaminya, seolah tengah menghindari tatapan tajam yang pria itu berikan pada dirinya.


"Kau ingin membuat masalah lagi, hm?" bisik Marvin yang membuat Sherina langsung menatapnya.


Wanita itu benar-benar tidak habis pikir dengan emosi suaminya. Entah kenapa pria itu selalu saja berpikiran jika dirinya tak senanglah, atau ingin membuat masalah. Dan yang lainnya.


"Tidak, aku hanya bertanya. Jika kau bersedia, kau bisa menjawab. Pun kalau kau tak bersedia, tidak perlu kau jawab."


"Tidak perlu kau tanyakan pun, seharusnya kau tahu Sherina!"


Wanita itu mencoba melipat bibirnya ke dalam bingung bagaimana caranya agar komunikasinya dengan sang suami tidak seberantakan ini lagi.

__ADS_1


"Vin,"


"Aku memilihmu karena kau istriku! Kau ibu dari anak-anakku! Dan sampai kapanpun itu, hanya kau yang akan selalu aku pilih. Persetan dengan masalah anak laki-laki yang ku inginkan! Sekali aku memilihmu, aku akan terus memilihmu!"


__ADS_2