
Tidak lama setelahnya, pintu ruangan tadi terbuka. Ivander diberi tahu jika kondisi Sherina sudah kembali stabil dan sudah diperbolehkan untuk berpindah ke ruang rawat inap. Pria itu memilihkan perawatan yang paling baik untuk Sherina.
Mau bagaimanapun, Sherina dahulu merupakan wanita yang sangat dirinya nantikan kembalinya. Dia sangat-sangat mencintai wanita itu, meskipun sekarang dirinya tahu jika sekarang dirinya tak lagi berhak atas wanita itu.
"Oh ya, Dok. Apakah kandungannya baik-baik saja? Apakah terjadi masalah pada kandungannya?" Dengan nada khawatirnya Ivander menanyakan tentang kondisi kehamilan Sherina.
Sejahat apapun pria itu, dia tidak akan dengan begitu saja melupakan jika Sherina tengah menghidupi makhluk kecil di dalam tubuhnya. "Semua baik-baik saja, Tuan. Untung saja Anda tidak terlambat membawanya ke rumah sakit. Pendarahan karena faktor stress itu sangat membahayakan bagi ibu hamil."
"Saya sarankan agar Nyonya Sherina banyak beristirahat dan tidak memikirkan sesuatu dengan sangat berlebihan. Selain takut jika hal itu membuat pikirannya semakin kalut, saya juga takut nantinya akan membahayakan bagi bayinya." Ivander hanya menganggukkan kepalanya saat mendengar saran dari dokter tersebut.
Ivander merasa sangat tenang setelah mendengar ucapan dari dokter tersebut. Dia juga mengatakan jika saat ini Sherina sedang dalam pengaruh obat bius serta obat tidur agar dia dapat beristirahat dengan maksimal.
Setelah Sherina dipindahkan menuju ruang rawat inapnya, Ivander menunggu wanita itu di dalam. Dia duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut, sambil menatap Sherina yang masih memejamkan matanya.
"Andai bukan Marvin pria itu, aku sudah bisa memastikan jika kau bisa kembali padaku, Sher. Kau tidak tahu seberapa besar penyesalanku karena telah melepaskan wanita sepertimu, hanya demi wanita seperti Nessie." Ivander menghirup napasnya dalam-dalam sambil merasakan penyesalannya.
Ivander menundukkan kepalanya dan memijat pelipisnya. Entahlah, dirinya begitu pusing merasakan semua jalan hidupnya. Benar apa yang dikatakan sang mama padanya dan Sherina, kemarin.
"Ini semua salahmu. Andai saja, andai dulu kau bersyukur karena kedua orang tuamu menjodohkan kau dengan wanita se sempurna Sherina. Pasti saat ini kalian sudah memiliki putra yang sangat menggemaskan, atau bahkan Sherina sedang mengandung untuk cucu kedua papa dan mama. Tapi kau ternyata tidak sepintar yang mama dan papa pikirkan, Van."
"Kau justru memilih wanita murahan yang sudah dengan jelas hanya menginginkan harta mu. Mama bahkan sampai bingung, apa yang ada di kepala mu itu, saat berulang kali dia meminta uang padamu, bahkan sejak kalian belum memiliki hubungan? Apakah itu tidak kau anggap sebagai sikap murahan?"
Ya, dia sangat bodoh. Sangat-sangat bodoh malah. Sebenarnya dahulu dia merasakan apa yang sang mama katakan, tetapi entah mengapa dia masih mempertahankan Nessie karena hanya dengan itulah dirinya dapat melampiaskan kekesalannya karena sikap arogan kedua orang tuanya.
Saat pria itu masih tenggelam dengan ingatannya di masa lalu, tiba-tiba saja dirinya mendengar jika pintu din ruang rawat Sherina terbuka dari luar. Perlahan pria itu mendongakkan kepalanya dan melihat siapa yang datang ke ruangan Sherina.
Tatapan mata Ivander seketika tertuju pada mata tajam milik seorang pria yang baru saja tiba. Dari tatapannya, Ivander menangkap sebuah perasaan yang begitu besar, tetapi tidak dapat dirinya jelaskan.
"Masuklah. Aku akan kembali ke ruangan putraku." Ivander bangkit dari duduknya, dan menatap Sherina sejenak.
"Tidak terjadi apapun dengannya dan kandungannya. Dia hanya sedikit tertekan dan kelelahan. Mungkin dia akan tersadar besok pagi." Ivander menatap wajah teduh Sherina dengan begitu intens.
Marvin yang melihatnya hanya diam tak bergeming. Tangannya yang sejak tadi mengepal itu, kini coba dia lepaskan.
Dia menunggu Ivander bergerak pergi dari posisinya. Tatapan tajam pria itu nyatanya berhasil membuat Ivander merasa terintimidasi dan memutus tatapannya pada Sherina.
"Terkesan kekanakan memang. Dua pria dewasa yang masih saja memperebutkan satu wanita, bahkan sudah bertahun-tahun lamanya. Baiklah, aku serahkan Sherina padamu. Aku mengalah."
__ADS_1
Marvin berdecih kecil saat mendengar ucapan Ivander. Dia tersenyum miring sambil memasukan sebelah tangannya ke dalam saku celananya.
"Menyerahkan padaku, kau bilang? Aku yang merebutnya dari pria baji*ngan seperti mu, lebih tepatnya. Kau terlalu bodoh karena menyia-nyiakan wanita yang bahkan dijadikan obsesi oleh pria lain!" Marvin meralat perkataan Ivander dengan nada tegasnya.
Ivander hanya mengangguk tipis sambil tertawa sumbang. Pria itu menatap Marvin dengan tatapan datarnya sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Ya, kau benar. Jadi, jangan sia-siakan kesempatan mu untuk bersamanya, sebelum pria baji*ngan ini kembali merebutnya." Ivander membenarkan apa yang Marvin katakan dengan nada santainya.
Setelah itu, Ivander berjalan menuju pintu dan melewati Marvin dengan begitu saja. Saat tangan kekarnya menyentuh handel pintu, tiba-tiba ucapan Marvin menghentikannya.
"Terimakasih."
Ivander tersenyum sejenak, lalu menolehkan kepalanya ke belakang. "Sudah sepatutnya. Itulah yang pria sejati lakukan untuk wanita yang dicintainya."
Marvin mengeratkan rahangnya saat mendengar penuturan Ivander. Dia tersenyum licik sambil menatap wanitanya.
"Ternyata kau mencintai calon istriku, hm? Luar biasa sekali. Setelah aku berhasil merebutnya darimu, kini kau baru menyadari jika kau mencintainya? Sekarang giliranmu. Pendam perasaanmu itu bahkan sampai kau mati. Karena dapat ku pastikan, kau tidak akan pernah merasakan perasaanmu terbalaskan!"
Ivander tertawa ringan lalu membalikkan tubuhnya, menghadap Marvin yang memunggunginya.
"Aku yang seharusnya bertanya padamu. Kau ini mencintai Sherina benar-benar sudah sejak lama, atau baru beberapa bulan belakangan ini? Karena setahuku, pria yang sangat-sangat mencintai wanitanya, tidak akan pernah ada sedikit pun rasa curiga atau tidak percaya dengan wanitanya. Tapi aku tidak menemukan hal tersebut, di dalam dirimu. Percaya atau tidak, kau lah yang membuat Sherina dan anak kalian berada di konsisi sekarang. Sifatmu yang masih kekanakan dan mengedepankan ego, membuat keduanya menderita!"
Marvin mematung mendengar kan ucapan Ivander. Pria yang sangat keras kepala itu, entah mengapa saat ini merasa jika apa yang Ivander katakan sangatlah benar. Tapi tidak, dirinya bukan tidak percaya dengan Sherina, dia hanya tidak menyukai cara bersikap wanita itu.
Marvin tidak marah. Dia hanya ingin memberi waktu untuk Sherina agar wanita itu menyadari kesalahannya. Dia berharap agar dia mengerti jika selama ini Marvin berjuang hanya untuknya. Dirinya juga langsung pergi meninggalkan Sherina karena ketidak jujuran wanita itu. Bukankah seharusnya dia menghargai sedikit saja kehadirannya? Paling tidak jika Sherina memberi kabar untuknya, dia pasti akan merasa jika dirinya berperan dalam hidup Sherina. Tapi Sherina tidak melakukan hal tersebut.
Pria itu mendekat dan mengelus surai sepunggung wanita itu. Dia mendekatkan wajahnya dan mengecup kening milik Sherina.
"Tolong hargai aku, Sher. Hargai aku sedikit saja." Marvin berbisik lembut tepat saat dirinya mencium kening wanitanya.
****
Pagi harinya, Marvin yang lebih dulu terbangun itu, duduk sejenak dan mengamati wajah cantik Sherina. Dia menatapnya dengan tatapan yang begitu dalam. Ya, dirinya sangat merindukan ibu dari anaknya itu.
Perlahan pria itu mengangkat tubuhnya dan mengelus puncak kepala milik wanita itu. Pria itu menatap bibir pucat milik Sherina, lalu mengecupnya singkat.
Setelahnya, pria itu mengelus bibir milik Sherina dengan jemarinya sebelum akhirnya dia berdiri dari duduknya. Pria itu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
__ADS_1
Tak lama setelah Marvin masuk ke dalam kamar mandi, Sherina perlahan membuka matanya. Wanita itu melipat bibinya kedalam dan membasahinya.
Tatapan wanita itu mengedar. Dia berada di rumah sakit saat ini. Dia yakin, Ivander lah yang sudah membawanya ke rumah sakit.
Dia menatap ke sekeliling ruang rawat VIP itu dan tak menjumpai keberadaan pria tersebut. Sherina menghidup napasnya dalam-salam sebelum memanggil nama pria itu.
"Van? Ivander." Sherina mencoba memanggil mantan suaminya itu. Dia hanya ingin mengucapkan banyak terimakasih pada pria yang sudah menyelamatkannya itu.
Setelah wanita itu mencoba memanggil lagi dan tak kunjung mendapat sahutan, dia menurunkan pandangannya sekejap dan melihat perutnya. Dia merasa bersyukur karena kandungannya baik-baik saja.
Saat wanita itu masih mengelus perutnya dengan lembut, tiba-tiba dirinya mendengar suara pintu yang terbuka. "Ivander?" panggil pria itu sambil menolehkan kepalanya ke samping.
Namun betapa terkejutnya Sherina ketika dirinya justru melihat jika Marvin lah yang tengah membuka pintunya. Tubuhnya seketika menegang ketika matanya bertatapan dengan netra gelap milik pria berwajah dingin itu.
"Marvin?" Dengan begitu tidak percayanya wanita itu menatap Marvin dengan alis yang berkerut.
Marvin menatap Sherina dengan rahang yang mengeras. Dia mengepalkan tangannya sembari menghirup napasnya dalam-dalam.
"Itu kau, Vin? Kau kembali?" tanya Sherina lagi sembari mencoba untuk bangun.
Lantaran terlalu memaksa untuk bangun dari tidurnya, wanita itu merintih kesakitan saat kembali merasakan sakit di perutnya. Wanita itu melipat bibirnya ke dalam dengan napas yang tidak beraturan.
"Astaga," lirih Sherina sambil memejamkan matanya dan menahan tubuhnya dengan sebelah tangannya.
Marvin yang melihat hal tersebut segera mendekat ke brankar dan membantu Sherina untuk kembali berbaring. Pria itu menatap tangan kecik Sherina yang sepertinya tengah menahan rasa sakit di perutnya.
Perlahan pria itu memajukan tangan besarnya dan menggantikan tangan kecil milik Sherina. Pria itu mengelus perut Sherina dengan penuh kehati-hatian dan dengan begitu lembut, seolah dirinya tengah menenangkan putrinya agar lebih tenang.
"Apakah ini masih sakit?" tanya Marvin lirih saat pandangan pria itu masih tertuju di perut Sherina.
Sherina tak menjawab. Ada rasa syukur yang begitu besar saat dirinya melihat Marvin yang sangat memperhatikannya. Pria itu dengan begitu telatennya masih terus mengelus perut miliknya.
Saking bahagianya menatap hal tersebut, Sherina terkejut saat tiba-tiba merasakan jika air matanya menetes. Dia segera menghapus air matanya dengan cukup kasar, takut jika Marvin salah menilainya lagi.
Marvin yang samar-samar melihat apa yang Sherina lakukan itu, langsung menolehkan kepalanya. Dia menatap wajah cantik Sherina saat posisinya masih menunduk.
"Sudah membaik?" tanya pria itu yang langsung diangguki oleh Sherina.
__ADS_1
Setelah mengetahui jika Sherina sudah baik-baik saja, Marvin menegakkan tubuhnya dan hendak menarik tangannya. Tapi belum terlepas tangannya dari perut Sherina, wanita itu lebih dulu menahannya.
"Jangan!"