
Sherina menatap kebun yang berada dibelakang rumah, dengan tangan yang ada di pinggangnya. Hasrat untuk berkebunnya kini kembali muncul.
"Sayang, apakah kau setuju jika aku menanam beberapa bunga dan tumbuhan di kebun belakang?" Sherina berjalan masuk dan mencoba mencari keberadaan suaminya.
"Eh, kemana suamiku?" Sherina menolehkan kepalanya ke atas dan tak menjumpai tanda-tanda yang menunjukkan keberadaan sang suami.
"Sayang!" panggil Sherina yang tak lama setelahnya mendapat sahutan, meskipun suaranya terdengar sangat jauh.
"Di sini, Sayang! Aku berada di depan!" teriaknya yang membuat Sherina berjalan ke depan rumahnya.
Wanita yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu itu, berjalan menuju gerbang, di mana terlihat punggung kekar suaminya. Perlahan dia menyembulkan dirinya dan melihat siapa yang suaminya ajak berbicara.
Tatapan Sherina seketika terkejut saat melihat seorang wanita cantik lengkap dengan pakaian jogingnya. "Aura?"
Wanita yang sejak tadi berbicara dengan Marvin, segera menolehkan kepalanya ketika mendengar namanya dipanggil.
Mata wanita itu benar-benar terlihat kaget ketika melihat Sherina. Wanita tanpa make up yang badannya mulai berisi itu, berhasil membuat wanita bernama Aura tersebut terkejut bukan main.
"Ini istriku. Aku yakin kau masih ingat dengannya bukan?" Aura mengalihkan pandangannya dan kembali menatap Marvin dengan tatatapan tak percaya, seolah tengah menuntut penjelasan dari Marvin.
"Kau menikahinya? Astaga, ternyata seleramu tidak pernah berubah." Aura berbicara remeh seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dirinya lihat.
Marvin menatap Aura dengan tatapan tajam. Dia tidak paham dengan apa yang teman semasa sekolah menengah atasnya ini, mengomentari keputusannya.
"Ada yang salah? Kau bahkan sudah tahu, sejak jaman sekolah dulu hanya Sherina yang ku incar. Tidak pernah berubah, atau berkurang sedikitpun." Marvin tersenyum miring sembari memeluk pinggang milik Sherina.
"Bu ... bukan seperti itu. Aku hanya merasa terkejut karena ternyata kau benar-benar bisa menikahi wanita incaranmu ini. Secara kau dulu tahu, kau ini incaran banyak wanita kelas atas di sekolah kita. Tapi akhirnya kau menolak semuanya hanya untuk mengejar cinta Sherina, yang bahkan tidak dibalas."
__ADS_1
Marvin terkekeh perlahan sembari mengecup kening Sherina. Tentu saja hak tersebut mampu membuat tubuh Aura terbakar api cemburu. Ya, Aura merupakan salah satu wanita yang sejak dahulu selalu saja mengejar Marvin.
"Setidaknya cinta istriku ini begitu mahal. Perlu banyak pengorbanan untuk mendapatkan cintanya. Benar begitu, Sayang?" Sherina hanya tersenyum tipis, tidak menjawab ucapan suaminya.
"Bukankah dia sudah menikah dengan Ivander? Lalu bagaimana ceritanya hingga dia kini menjadi istrimu? Kau tidak merebutnya dari sahabatmu itu, 'kan? Secara, dari dulu Sherina dikenal karena sok jual mahalnya, tapi diam-diam berhasil menggaet dua primadona di sekolah kita."
"Jangan bilang kau mengambilnya setelah dia diceraikan oleh Ivander. Jika hal itu sampai terjadi, aku akan merasa iba untukmu. Seharusnya kau tidak mendapat wanita bekas sahabatmu."
Sherina memasang wajah datarnya saat mendnegar ucapan Aura. Entah mengapa, dia sama sekali tidak memiliki niatan untuk membalas ucapan Aura. Yang dia ajak bicara kali ini adalah suaminya. Suaminya lebih tahu bagaimana dirinya dan bagaimana ceirta sebenarnya.
"Sayang, aku masuk terlebih dahulu. Aku lupa jika aku meninggalkan masakanku," pamit Sherina yang langsung masuk ke dalam rumahnya.
Aura yang tahu jika Sherina pergi bukan karena meninggalkan masakannya, tapi karena ucapannya, tersenyum puas.
Sementara Sherina, dia tidak memiliki tenaga untuk meladeni wanita seperti Aura. Sudah jelas-jelas jika wanita itu menyukai suaminya, mau dibagaimanakan juga pasti dia akan mencari pembenaran di hadapan suaminya.
Dia masuk ke dalam dan memutuskan untuk beristirahat di kamarnya. Entahlah, mood berkebunnya seketika menghilang saat mengetahui jika suaminya ternyata tengah menyapa Aura.
Sherina berjalan menuju balkon, dan melihay jika Marvin masih berada di depan. Pria itu bahkan meladeni semua pertanyaan Aura, yang sama sekali tidak berbobot.
"Dalam hitungan ke enam puluh, jika Marvin tidak datang, maka aku akan marah padanya!" Sherina melipat kedua tangannya di pembatas balkon, sembari terus menatap sang suami.
Wanita itu mulai menghitung. Dia menatap Marvin dari atas, dengan napas yang mulai memburu. "Sayang, lihatlah ayahmu. Dia bahkan membuang waktunya untuk berbicara dengan wanita lain!"
Sherina mengelus perutnya dengan mulut yang terus menghitung. Jantung Sherina seketika berdehub kencang ketika dihitungan ke lima puluh, dan suaminya masih belum berjalan masuk ke halaman.
"Lima puluh sembilan, enam puluh!" Sherina menghembuskan napasnya dengan kasar lalu menarik tubuhnya yang menyandar di pembatas balkon.
__ADS_1
"Jadi aku harus marah pada suamiku? Aku pikir tidaklah buruk." Suasana hati Sherina seketika menjadi buruk.
Wanita itu menutup pintu balkon, tidak lupa dengan gordennya. Lalu dia berjalan menuju pintu dan menutupnya. Wanita merebahkan tubuhnya di atas kasur, lalu menyelimuti tubuhnya.
"Biarkan dia puas berbicara dengan Aura!" Sherina dalam mode merajuk, sepertinya.
Wanita itu seolah tidak mengharapkan suaminya untuk segera kembali. Tapi nyatanya hatinya tidak, dia menunggu, kapan suaminya akan menyusulnya.
Saat Sherina hendak memejamkan matanya, Sherina membuka matanya saat mendengar pintu kamarnya terbuka. Tidak ada suara dari Marvin, pria itu berjalan dan naik ke atas ranjang.
"Kenapa tiba-tiba naik, hm?" Marvin berbisik lembut lalu memeluk istrinya dari belakang.
Pria itu mencium bahu Sherina dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya. "Tidak perlu mendengarkan orang lain. Kita lebih tahu bagaimana hidup kita."
Sherina tidak bergerak. Dia menatap lurus ke depan dan perlahan Marvin berpindah ke depannya. Pria itu dapat melihat wajah datar milik istrinya. "Kenapa, Sayang?"
Marvin menatap dengan intens wajah istrinya, lalu membawanya dalam dekapannya. Pria itu mengecup kening istrinya, dan kembali mengeratkan pelukannya.
"Oh, aku tahu. Apakah kau cemburu?" Sherina mengernyit ketika mendengar pertanyaan dari suaminya..
"Diamlah, aku sedang marah!" Sherina melepaskan pelukan suaminya dan menghadapkan tubuhnya menghadap ke langit-langit kamarnya.
Marvin tersenyum manis, lalu mendekat pada istrinya. Dia mengangkat sedikit tubuhnya dan melihat wajah Sherina. "Sayang, dengarkan aku."
"Cemburu itu wajar, bahkan dianjurkan. Dengan kau merasakan jika kau cemburu, itu berarti kau mencintai pasanganmu. Kau tidak salah, Sayang." Marvin mengecup bibir istrinya sejenak, yang mampu membuat Sherina menatapnya.
"Lain kali, jangan temui wanita lain! Aku tidak suka!" Sherina menatap serius pada suaminya dan berharap agar Marvin tidak memberikan banyak alasan untuk menolak permintaannya.
__ADS_1
Bukannya menolak atau mencari banyak alasan, Marvin justru mengepalkan tangannya, seolah baru saja memenangkan undian lotre. "Yashh! Ini yang aku inginkan! Terimakasih, Sayang!"