
Ivander memberikan ponselnya kepada Sherina dan membawa Anne untuk keluar dari ruang rawat Sherina. Pria itu mencoba memberi ruang kepada Sherina untuk berbicara dengan suaminya
"Sayang, bagaimana keadaanmu dan putri kita? Apakah kalian baik-baik saja?" tanya Marvin dengan suara bergetar, yang membuat Sherina tidak dapat lagi menahan air matanya.
Sekecewa apapun dirinya pada sang suami, tapi dirinya tidak akan pernah bisa menahan air matanya ketika mendengar Marvin dengan suara seperti ini. Dia mencoba menyembunyikan tangisannya agar sang suami tidak cemas terhadap kondisinya.
"Hei, kenapa kau menangis sayang? Tidak apa-apa, suamimu baik-baik saja," ujar Marvin dengan tawa kecilnya, yang membuat Sherina semakin menangis.
Wanita itu tidak bisa membohongi perasaannya. Dia tidak menjawab ucapan sang suami dan lebih memilih untuk menangis dalam diamnya, sembari mendengarkan suara milik pria yang sangat dicintainya tersebut.
"Di mana putri kita? Aku ingin mendengarkan suaranya," pinta Marvin yang lagi-lagi membuat Sherina menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya.
Dia merindukan suaminya. Dirinya sangat berharap agar Marvin dapat segera datang dan menemaninya entah dalam kondisi apapun.
"Kau akan bertemu dengan putrimu, setelah tiba di sini nanti. Cepatlah datang, aku dan Niskala akan menunggumu," ucap Sherina setelah terdiam beberapa lama.
"Sayang, aku akan pulang sekarang juga. Dokter mengatakan jika aku bisa melakukan operasi di sana. Setidaknya ada kau yang akan menungguku nanti," ucap Marvin yang membuat Sherina mencoba untuk menolak ide dari suaminya tersebut.
"Marvin, sebaiknya kau jangan pulang terlebih dahulu. Kau selesaikan operasi mu terlebih dahulu, baru kau bisa kembali setelah kau benar-benar pulih. Aku tidak ingin sesuatu terjadi lagi padamu" tolak Sherina dengan khawatir yang membuat Marvin sama sekali tidak mengubah keputusannya.
"Sekarang, yang terpenting adalah kau dan putri kita. Tunggu aku untuk beberapa saat. Setelah itu, aku akan memeluk kalian." Dengan tegas Marvin mengatakan hal tersebut, yang akhirnya membuat Sherina merasa senang.
Sebenarnya, inilah yang dirinya inginkan. Berkumpul dengan suaminya dan juga putrinya. Atau mungkin dengan tambahan putri Marvin yang lain.
"Marvin, dengarkan aku. Apapun yang akan terjadi nantinya, aku akan tetap ada di sampingmu. Aku akan menjadi Sherina-mu sampai akhir nanti. Aku mencintaimu," ucap Sherina dengan nada lirih yang bahkan hampir tidak terdengar.
Hal tersebut nyatanya berhasil membuat Marvin menangis. Dia meremas ponsel milik pria suruhan Ivander itu, dengan hati yang sangat berkecamuk.
Pria itu merasa sangat beruntung, karena akhirnya memiliki Sherina sebagai istrinya. Dan sama sekali tidak pernah terbayangkan jika pada akhirnya apa yang dirinya usahakan telah berhasil sepenuhnya menjadi miliknya.
"Terima kasih, Sayang. Aku sangat mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu. Bahkan jika aku bisa mempertaruhkan nyawaku untukmu, maka aku akan melakukannya." ucap Marvin dengan begitu yakin yang membuat Sherina mengganggukan kepalanya, meskipun pria itu tidak melihatnya.
Pada akhirnya Ivander yang hanya berniat meninggalkan Sherina untuk beberapa saat, tidak bisa. Dirinya dengan Anne, bahkan berjalan menuju taman untuk menyuapi putranya.
"Apakah putramu berusia sama seperti Kanwa?" tanya Ivander yang membuat Anne menolehkan kepalanya pada pria tersebut.
Anne belum menjawab, dia menggelengkan kepalanya sebagai perwakilan dari jawabannya.
"Tidak. Dia mungkin berusia satu tahun lebih tua dari Kanwa." Jawab Anne singkat yang membuat Ivander menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Seketika suasana diantara keduanya menjadi canggung. Ivander bingung hendak mengatakan apa pada wanita tersebut. Karena pada dasarnya, Anne memang tidak se-terbuka itu padanya.
"Apakah kau berniat untuk kembali ke Jerman lagi?" tanya Ivandar, yang detik itu juga membuat Anne menghentikan tangannya yang hendak menyuapi Kanwa.
Wanita itu mengangkat putra Ivander ke pangkuannya, dan menghela nafasnya panjang. "Aku masih memiliki banyak urusan di sana. Aku harus mengurus tentang hak asuh putraku, yang berulang kali aku gagal mendapatkannya. Bukankah memang itu yang harus aku lakukan? Bagaimanapun aku harus tetap kembali."
Ivander tidak menjawab. Dia menunggu Anne melanjutkan perkataannya sembari menatap lurus ke depan.
"Kau pasti akan kembali memiliki pendamping, nantinya. Dan itu mungkin akan cukup untuk kau dan Kanwa. Setidaknya dia dapat merawat putramu hingga dia besar nanti. Batas waktuku disini adalah sampai Kanwa berhenti membutuhkan ASI." Anne mengatakan hal itu dengan begitu tenang, yang bahkan membuat Ivander mampu mengeratkan rahangnya.
"Tapi jika boleh aku sarankan, sebaiknya kau kembali mendekati Nessie. Minta padanya untuk kembali padamu serta putra kalian. Dan juga, bimbing dia supaya dia kembali ke jalan yang benar. Ingatlah masa-masa di mana kau dan Nessie masih memadu kasih, dahulu." Ujar Anne yang sama sekali tidak direspon oleh Ivander.
"Kau tahu? Bertemu dengan Sherina dan bisa merawat Kanwa mesupakan sebuah anugerah untukku. Setidaknya rasa rinduku pada putraku dapat terobati. Aku mengucapkan banyak terimakasih untuk hal ini, padamu."
Tidak ada lagi pembicaraan diantara kedua insan tersebut, setelah ucapan yang Anne katakan.
Berbeda hal nya dengan Sherina. Wanita itu masih setia menggunakan ponsel Ivander untuk menjadi penghubungnya dengan sang suami. Marvin mengatakan jika dirinya ingin ditemani oleh Sherina hingga proses administrasinya selesai.
"Sayang, aku hampir menyelesaikan semuanya. Kami akan segera pulang, saat ini. Jadi aku putuskan panggilannya, ya?" ucap Marvin yang langsung disetujui oleh Sherina.
"Baiklah, jaga dirimu." ucap Sherina yang dibalas dengan ucapan hangat dari suaminya.
Dia teringat dengan hasil tes DNA yang pihak rumah sakit kirimkan padanya, dan pikirannya seketika mengambang tidak jelas entah ke mana.
Ya, sejak kedatangan seorang wanita dengan seorang gadis kecil berusia 3 tahun siang itu, perasaan Sherina sudah tidak menentu.
Bahkan jika orang lain melihat wajah gadis itu saja, orang pasti akan berpikir jika gadis kecil itu merupakan versi mini dari Marvin. Bedanya dia berjenis kelamin perempuan.
"Nyonya, saya minta maaf untuk ini. Saya tidak berniat untuk menghancurkan rumah tangga Nyonya dengan Tuan Marvin. Saya hanya ingin menyampaikan jika Ailey merupakan anak dari Tuan Marvin." Ucap seorang wanita dengan wajah pucatnya pada Sherina, siang itu.
Ketika itu Sherina terkejut bukan main. Bagaimana bisa, tiba-tiba wanita itu datang dan mengatakan jika gadis yang datang bersamanya merupakan putri dari suaminya.
"Saya mohon pada Nyonya agar tidak langsung mengusir saya. Saya sangat kebingungan hendak melakukan apa, Nyonya." Mohon wanita itu dengan tubuh kurusnya, yang benar-benar membuat Sherina merasa prihatin.
"Tapi mohon maaf sekali. Apakah Anda mengenal suami saya? Dan jika benar memang gadis kecil ini merupakan putri dari suami saya, apakah anda memiliki bukti untuk hal itu?" tanya Sherina dengan begitu sopan meskipun hatinya terasa diobrak-abrik kala itu.
Siapa yang tidak kecewa? Siapa yang tidak marah, dan siapa yang tidak terkejut ketika tahu jika suaminya ternyata sudah memiliki anak dengan wanita lain.
Sherina masih mengingat dengan jelas, senyum rapuh wanita itu ketika menatapnya. Dia mengeluarkan sebuah foto kecil, di mana terdapat potret suaminya dengan wanita itu di pintu masuk sebuah gedung.
__ADS_1
Meskipun bukan sebuah foto yang intim dan hanya berdua, melainkan dengan beberapa orang lainnya. Tapi setidaknya Sherina sedikit mengetahui dan menarik benang merah jika wanita itu mungkin merupakan asisten Marvin.
"Bukankah ini perusahaan milik suami saya ketika baru saja dibangun? Dan apakah korelasi anda dengan suami saya merupakan seorang pegawai dengan atasannya?" tebak Sherina yang langsung membuat wanita itu menganggukkan kepalanya.
"Benar, Nyonya. Saya merupakan asisten tuan Marvin kala itu. Mungkin jika ditanya apakah tuan Marvin mengetahui tentang hal ini atau tidak, dia akan menjawab tidak. Karena pada saat itu, kecelakaan lah yang membuat putri saya ada di dunia."
Sheirna mengernyit dan mendengarkan penjelasan dari wanita itu. Entahlah, dia tidak merasakan sedikit pun rasa arogansi untuk menyerang wanita itu, karena mengaku-ngaku sebagai wanita yang pernah dihamili oleh suaminya.
"Saat itu, perusahaan kami baru pertama kali menang tender. Untuk hari itu pihak relasi bisnis tuan Marvin mengajak kami untuk merayakannya kecil-kecilan. Tapi siapa sangka, ternyata tender itu merupakan sebuah jebakan besar untuk tuan Marvin karena mereka sudah merencanakan semuanya. Mereka tidak menyukai adanya tuan Marvin di dunia bisnis."
Wanita itu mulai bercerita sembari sesekali mengelus punggung kecil milik putrinya.
"Mereka memberikan obat perangsang di minuman tuan Marvin dengan dosis yang bahkan bisa dikatakan sangatlah keji. Mereka membuat Marvin mabuk dan mencekokinya dengan obat tersebut, dengan tujuan ingin membuat skandal besar."
"Saya sebagai asisten dari tuan Marvin, yang mengetahui bagaimana susahnya untuk membangkitkan perusahaan itu sama sekali tidak tega melihat tuan Marvin menderita."
"Bahkan demi Tuhan, jika saya dapat mengulang waktu itu kembali. Saya mungkin tidak akan menyarankan tuan Marvin untuk mengambil tendernya. Bukan berarti saya tidak ikhlas membantu tuan Marvin. Tetapi mungkin jika saat itu tidak terjadi, saya tidak harus dengan wajah malu memohon seperti ini kepada Anda."
Sherina merasa deja vu dengan pernyataan wanita itu. Mereka berdua berada di posisi yang sama. Wanita ini bahkan dengan rela membantu Marvin yang memang sangat membutuhkannya, saat itu. Hal itu sama juga dengan dirinya. Kala itu, Marvin memilihnya karena memang tidak ada pilihan lain.
Obat itu memang tidak dapat diremehkan. Apalagi jika diberikan dengan dosis yang ugal-ugalan.
"Tujuan saya kemari semata-mata hanya untuk mengatakan fakta ini. Agar saya dapat menebus dosa saya karena menyembunyikan Ailey dari ayahnya. Saya juga tidak bermaksud untuk meminta pertanggung jawaban dari tuan Marvin. Terlebih lagi ketika saya mengetahui jika tuan Marvin sudah memiliki istri."
Sherina menetap wajah cantik milik gadis kecil yang sejak tadi duduk di sampingnya itu, dengan perasaan yang sangat sesak. Dunianya seakan dipukul rata. Seolah tidak memberikan dirinya kesempatan untuk bahagia.
"Tapi jika boleh saya memohon bahkan memelas pada anda, saya hanya ingin tuan Marvin untuk merawat putri saya. Saya tidak dapat lagi menjaganya. Umur saya sudah tidak lama." aku wanita itu yang membuat Sherina terkejut.
"Maksud Anda?" tanya Sherina dengan perasaan yang sudah tidak karuan.
"Saya memiliki kanker otak stadium empat, dan dokter sudah memberitahu saya jika usia saya tidak dapat diprediksi. Untuk itu dengan kebesaran hati nyonya, saya meminta tolong agar anda dapat menjaga putri saya."
Air mata wanita itu jatuh, mengiringi kesedihannya karena harus menitipkan putri kesayangannya pada Sherina.
"Demi Tuhan, Nyonya. Andai saya tidak memiliki penyakit ini, saya pastikan tuan Marvin tidak mengetahui jika ada Ailey di dunia ini. Saya benar-benar putus harapan, Nyonya. Hanya nyonya dan tuan lah yang dapat membantu saya. Saya seorang yatim piyatu."
Mengingat hal itu, Sherina kembali merasa dihunus oleh belati tajam. Wanita itu menggelengkan kepalanya dan menghapus air matanya.
"Semoga keputusanku tidak salah."
__ADS_1