
Anne menuruti perintah dari Ivander. Dia sama sekali tidak keluar dari kamar Kanwa, dan menunggu pria itu menyelesaikan urusannya dengan Nessie.
Tapi, belum berselang lama tiba-tiba dirinya terkejut ketika Ivander datang ke kamar Kanwa dengan wajah datarnya. Wanita tersebut bangkit dari duduknya, dan berjalan mendekati Ivander.
"Ada apa? Kenapa cepat sekali?" tanya Anne dengan wajah bingungnya, yang membuat Ivander menghela nafasnya dengan sedikit gusar.
"Nessie memaksaku untuk menemukannya dengan Kanwa. Bagaimana pun aku masih belum bisa memaafkannya. Aku takut dia melakukan sesuatu pada putraku, meskipun aku ada di rumahku sendiri." jawab Ivander sembari berjalan mendekati putranya yang tertidur di atas ranjang.
Anne mengikuti pria itu, dan mengekor tepat di belakang tubuh Ivandar. Hingga keduanya telah tiba di tepi ranjang milik bayi kecil tersebut.
Ivander menatap penuh arti pada putranya, yang masih terlelap sembari menimbang apa yang akan dirinya lakukan. Anne terdiam sedikit lama sebelum kemudian dirinya mengambil Kanwa dan membawanya ke dalam dekapannya.
"Tidak ada salahnya jika menemukan orang tua dengan putranya. Setidaknya ini akan membuatnya merasa tenang. Kau juga akan merasa lebih lega setelah melakukannya. Percayalah padaku," usul Anne mencoba meyakinkan Ivander, yang membuat pria tersebut menatap Anne dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
__ADS_1
Sebelum Ivander menjawab, Anne lebih dulu membawa Kanwa menuju keluar kamar, dan berjalan menuju ruang tamu. Dia mendekati Nessie yang masih duduk dengan gugup, yang seketika kembali menangis ketika melihat kedatangan Anne dengan buah hatinya.
"Putraku..." Ujarnya begitu lirih dengan nada yang begitu sakit ketika Anne mendengarnya.
Wanita berambut sebahu itu membawanya mendekat kepada Nessie dan membiarkan wanita itu menggendong anak kandungnya.
"Dia tumbuh menjadi bayi yang sehat dan sangat cerdas," ucap Anne yang membuat Nessie mengganggukan kepalanya.
Dia tersenyum dengan air mata yang terus berjatuhan ke pipinya, sembari memeluk erat tubuh kecil milik putranya. Dia sangat rindu dengan putranya.
Anne menyaksikan pemandangan hangat itu dengan duduk tepat di samping kursi yang Nessie duduki. Sementara Ivander, pria itu masih berdiri di ambang pintu dan menetap kedua wanita yang terlihat sedikit terharu dengan apa yang baru saja Anne lakukan.
Benar apa yang Anne katakan. Entah mengapa dirinya merasa jika ada satu beban yang seolah terlepas dari pundaknya, ketika melihat Nessie yang terlihat begitu menyayangi putranya.
__ADS_1
"Datanglah kemari kapan pun kau mau. Bagaimana pun putramu sangat membutuhkanmu. Untuk masalah Ivander, jangan hiraukan dia. Kita berbicara dari sudut seorang ibu saja, jangan pedulikan dia." ucap Anne seolah dirinya memiliki kendali atas rumah dan juga putra Ivander tersebut.
Hal tersebut berhasil membuat Nessie tersenyum tipis. Dia menganggukkan kepalanya dan terus menghujani wajah putranya itu dengan kecupan hangat.
****
Malam harinya di kediaman Marvin. Seorang wanita tua kini tengah menyiapkan makan malam, dengan Sherina yang membantu sedikit pekerjaannya. Marvin yang masih berada di kamar itu, seketika tersenyum ketika melihat istrinya datang memasuki kamarnya.
"Kita makan malam dahulu." Sherina tersenyum tipis sembari membawa nampan, berisi makanan yang sudah dirinya siapkan untuk sang suami.
Dirinya lalu meletakkannya di atas meja, yang ada di samping ranjang.
"Aku membawakan obatmu. Minumlah dengan teratur, supaya kau segera pulih." ujar Sherina dengan tulus, yang membuat Marvin menatap dalam wanita itu.
__ADS_1
"Aku sangat mencintaimu, Sher. Aku mohon jangan tinggalkan aku. Maafkan aku atas semua kesalahanku, atas semua dosaku, dan atas semua kekuranganku padamu. Aku tidak ingin kehilanganmu, Sher."