Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 103


__ADS_3

Anne berjalan menuju gate penerbangan, dengan sesak yang begitu hebat di dadanya. Dia berjalan menarik kopernya, dan menatap sekelilingnya yang begitu penuh. Tidak biasanya seramai ini, terlebih ini merupakan penerbangan pertama.


Anne berjalan hingga ke ujung, dan tak mendapati satupun kursi kosong yang bisa dijadikannya tempat untuk duduk. Dengan berat hati, wanita itu menarik napasnya panjang-panjang dan duduk di perbatasan tembok. Dia meletakkan kopernya di sebelahnya.


"Tidak buruk." Anne menganggukkan kepalanya ringan sembari menatap sekelilingnya. Terlihat memelas sekali.


Anne tidak memiliki kegiatan untuk menunggu panggilannya. Ponselnya bahkan dirinya tinggalkan di rumah Ivander. Dia tidak ingin keberadaannya nanti bisa diketahui oleh Ivander. Entahlah bagaimana bisa wanita bersikap terlalu yakin, seolah-olah Ivander akan mencarinya dan menggunakan ponselnya sebagai pelacaknya.


Anne menundukkan kepalanya dan memeluk tas selempangnya. Wanita itu menghirup napasnya dalam-dalam, menunggu jam penerbangannya tiba. Dia mengangkat tangannya dan memijit bahunya secara perlahan. Rasanya begitu sangat melelahkan untuknya.


Entahlah, kapan terakhir kali dirinya merasa jika tubuhnya bisa selelah ini. Tapi nyatanya, dirinya tidak pernah merasa lelah walaupun mengasuh Kanwa seharian, sebelumnya.


Wanita itu merasa sedikit rileks setelah memijat dirinya sendiri. Dia lalu membuka matanya dan belum ada perubahan dari apapun yang ada di hadapannya.


Lalu di detik-detik terakhir sebelum jadwal penerbangannya tiba, Anne yang tengah mengedarkan pandangannya ke sembarang arah itu, seketika langsung membeku ketika netranya menangkap sosok yang sama sekali tidak asing baginya.


Ketika tatapannya bertemu, jantung Anne serasa berhenti berdetak. Napasnya kembali memburu ketika melihat wajah tegas yang saat ini menatapnya dengan begitu tajam.


Rahang milik pria itu sudah mengeras sejak kedatangannya di bandara. Air wajahnya yang keras membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa terintimidasi.


Ivander menahan getaran hebat dalam dirinya ketika melihat wanita yang sejak tadi dirinya cari, kini menatapnya dengan wajah polos. Tidak ada raut penyesalan sedikit pun darinya. Sangat berbeda dengannya, yang bahkan bisa meneteskan air mata tanpa mengedipkan matanya.


Ivander membawa kaki jenjangnya menuju tujuannya. Langkah besar milik pria itu mengikis jarak yang menghalanginya dengan wanitanya.


Dadanya yang naik turun karena sesuatu yang mendorong dirinya dari dalam itu, membuat Anne langsung sigap berdiri dari duduknya. Dia berusaha sekuat tenaga untuk menahan tubuhnya yang berguncang hebat, ketika Ivander telah tiba di hadapannya.


Anne menahan napasnya, dengan mata yang mulai memanas. Dia benci perasaan ini, perasaan dimana dirinya tidak pernah menginginkannya untuk datang di waktu yang salah. Giginya saling menekan, menandakan jika dia tidak ingin kehilangan kendali atas dirinya.

__ADS_1


Tidak ada percakapan untuk beberapa saat. Ivander masih menatapnya dengan tatapan penuh amarahnya. Matanya yang sudah memerah sejak tadi, perlahan mulai mengundang bulir hangat di ujung matanya.


Anne menarik napasnya dengan susah payah, lalu kembali menatap Ivander.


"Tuan," sapa Anne lirih, yang membuat Ivander mengalihkan tatapannya ke sembarang arah.


"Sopankah begini?" Ivander tersenyum miring dan kembali menatap wanita yang ada di hadapannya.


Anne memejamkan matanya sejenak, mencoba mengumpulkan tenaganya untuk berbicara dengan pria yang ada di hadapannya saat ini. "Tidak ada yang salah. Sudah seharusnya aku melakukan ini."


Ivander tidak mendengarkan jawaban Anne. Dia memindai seluruh wajah milik wanita berambut sebahu itu, dengan begitu intens.


"Tugasku sudah selesai. Kanwa sudah semakin baik, dan ada Nessie di sisinya. Tidak ada hal lain yang bisa aku bantu." Anne mencoba menarik atensi pria itu agar mendengar apa yang dirinya katakan.


"Dengan cara seperti ini?! Kau pikir aku tidak berhak mengetahui apa keputusanmu? Kau pikir aku tidak memiliki banyak rencana, yang bahkan tidak bisa aku wujudkan jika tidak ada kau!?" Ivander menghunus Anne dengan tatapannya.


"Kenapa kau memutusakan untuk pergi tiba-tiba? Oh, apa karena Nessie sudah kembali dan tinggal bersama kita? Kau cemburu padanya? Marah padanya karena dia kembali padaku? Atau karena kemarin malam? Apa yang kau pikirkan?" tanya Ivander dengan beruntun yang membuat dada Anne kembang kempis, karena merasa disudutkan.


"Atau karena hak asuh putramu yang tak kunjung jatuh padamu? Tenanglah, aku akan mengurus semuanya. Kau hanya perlu menunggu-"


"Van!" sentak Anne dengan amarahnya yang tertahan. Wajah keduanya bahkan sudah tak berjarak.


"Cukup!" tegas Anne dengan mata tajamnya.


"Kembalilah menjadi asing. Aku adalah aku, dam kau adalah kau. Anggap kita tidak pernah bertemu!" Ivander mengeratkan rahangnya, mendengar ucapan Anne.


"Putraku membutuhkanmu!" desak Ivander yang menggunakan sang putra untuk menahan kepergian Anne.

__ADS_1


"Kau tidak memiliki hak untuk menahanku. Jika kau menggunakan Kanwa sebagai alasannya, sekarang tidak lagi bisa. Dia sudah ada ibunya. Bagaimana pun dia akan merawat Kanwa lebih baik dariku. Pergi dan kembali lah pada anak istrimu."


Tepat setelah mengatakan hal tersebut, jadwal keberangkatannya sudah mulai diumumkan. Banyak orang yang berlalu lalang di belakang tubuh Ivander saat ini.


Anne meraih kopernya dengan tangannya, tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Ivander. Senyum miring menghiasi wajah cantik Anne, sebelum dirinya hendak pergi dari hadapan Ivander.


Tidak mendengar jawaban Ivander, wanita itu memundurkan tubuhnya dan melewati tubuh Ivander dengan begitu saja. Tapi dengan cepat pria itu langsung menahan tangannya, yang membuat Anne menghentikan langkahnya.


"Aku tidak mengizinkan mu pergi!" bisik Ivander tepat di telinga Anne.


Wanita itu terdiam untuk beberapa detik, lalu memiringkan tubuhnya. Dia membalas tatapan Ivander dan mengangkat sedikit wajahnya.


"Tidak ada lagi yang bisa membuatmu menahanku. Jika pun ada, coba tanyakan pada dirimu." jawab Anne dengan berbisik, sembari menekan lembut jari telunjuknya di dada sebelah kiri milik Ivander.


Setelah mengatakan hal tersebut, Anne berjalan meninggalkan Ivander yang kini menatap kepergiannya dengan tatapan kosong. Dia paham dengan apa yang Anne maksudkan.


"Aku mencintaimu, Ann. Tapi aku tidak bisa." ucapnya dengan lantang di dalam hati, yang semakin menambah sesak di dadanya.


Luluh sudah. Air mata milik pria itu bahkan telah menetes di pipinya. Ivander mengepalkan tangannya erat-erat sembari menatap punggung kecil milik Anne yang mulai menjauh.


Bahkan jika dirinya bisa berteriak, dirinya hanya ingin memanggil Anne agar dirinya kembali.


Ketika punggung Anne mulai menghilang dari pandangannya, Ivander hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia benci pada dirinya sendiri yang tidak bisa melakukan apapun untuk saat ini.


Tapi wajah pria itu seketika mendongak, ketika melihat siluet milik seorang wanita yang tengah berlari padanya. Seolah diterbangkan ke langit, Ivander menegakkan tubuhnya saat melihat Anne berlari kecil padanya.


"Kembalilah."

__ADS_1


__ADS_2