Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 46


__ADS_3

Sore harinya, selesai bersiap-siap, Marvin segera melajukan mobilnya menuju apartemen milik Sherina. Setelah mencoba membujuk Sherina untuk menghadiri undangan itu bersamanya, Sherina akhirnya menyetujui tawarannya.


Pria itu bahkan membawa dress baru untuk Sherina, agar sepadan dengan tuxedo yang dirinya kenakan.


Tak lama setelahnya, dia segera turun dari mobilnya dan datang langsung ke atas. Ketika Sherina membukakan pintu untuknya, seketika Marvin terdiam. Sherina begitu manis saat ini.


"Semua sudah siap?" tanya Sherina lalu menatap keseluruhan penampilan pria itu.


"Aku sudah, tapi kau belum." Dengan wajah datarnya, pria itu mengulurkan tangannya kepada Sherina.


Sherina mengernyit saat melihat Marvin membawakan pakaian untuknya. "Ini untukku?" Tanya Sherina mencoba memastikan.


"Kau yakin akan pergi dengan belahan punggungmu yang terlalu rendah itu? Kau mungkin nyaman, tapi aku tidak." Marvin mengalihkan pandangannya saat melihat sebagian tubuh Sherina yang hampir nampak itu.


Sherina tidak protes. Dia segera masuk dan mengganti pakaiannya. Dia tersenyum saat mengetahui selera pria itu dalam memilih dress.


"Ini sudah membuatmu nyaman?" Sherina keluar dari rumahnya dan melihatkan dress pilihan Marvin yang sudah terpasang di tubuhnya.


Marvin mengangguk. "Sangat nyaman."


Setelahnya, kedua insan itu segera datang ke acara milik Ivander. Selama diperjalanan, justru Sherina lah yang mendominasi percakapan. Dia menceritakan bagaimana bisa Ivander sampai menikah lagi.


"Kenapa kau tidak bertahan? Memiliki madu bukanlah sesuatu yang buruk, bukan?" Marvin menolehkan kepalanya dan langsung disambut dengan tatapan tajam Sherina.


"Kalau aku bertahan, mungkin kau tidak bersamaku seperti sekarang ini." Jawab Sherina melantur yang membuat Marvin tertawa.


"Sudah berapa lama mereka berselingkuh darimu?" Pria itu masih saja terus bertanya pada Sherina.


"Dua tahun mungkin, tapi aku tak tahu pastinya. Sepertinya kalau tidak salah justru akulah yang menjadi pengganggu di hubungan mereka." Sherina tertawa ringan saat menyadari hal itu.


"Kenapa bisa begitu?" Dengan wajah kebingungan Marvin bertanya pada wanita yang ada di sebelahnya.


"Mereka kenal jauh lebih lama dariku. Sejak Ivander mulai menjalankan bisnis papanya. Sementara aku, kami bertemu saja dalam waktu yang singkat sebelum pernikahan."


Marvin menganggukkan kepalanya tanpa tahu akan merespon dengan hal apa.

__ADS_1


Tak lama setelahnya, keduanya telah tiba di tempat undangan. Sherina keluar dengan bantuan Marvin. Keduanya berjalan masuk dengan tangan Sherina yang memeluk lengan Marvin.


Hal itu justru mengundang perhatian dari banyak orang yang sudah tiba di sana. Tak terkecuali Ivander dan Nessie. Pria itu langsung menatap Sherina dengan tatapan tajamnya.


'Dia benar-benar tidak mendengarkan ucapanku!' batin pria itu bergejolak ketika tahu Sherina tak menuruti perkataannya.


"Selamat ulang tahun untuk perusahaanmu, Van. Semoga kedepannya perusahaanmu semakin maju dan bermanfaat untuk semua lapisan." Dengan penuh ketulusan Marvin menjabat tangan Ivander dan mengucapkan selamatnya.


Ivander dengan tatapan tenangnya itu membalas jabatan tangan Marvin. Dia menganggukan kepalanya dan bergantian menyalami Sherina.


Sherina sedikit mengernyitkan keningnya saat Ivander menjabat tangannya dengan kasar. Nessie yang melihat hal itu langsung melepaskan tangan keduanya. Dia segera menggandeng tangan sang suami dan menyalami Sherina.


"Terimakasih, Pak Marvin. Senang bertemu kembali dengan Anda dan Bu Sherina." Dengan begitu manis Nessie mengatakan hal tersebut.


"Kalian terlihat sangat serasi sekali. Pak Marvin, apakah Anda sudah memiliki rencana untuk menikahi Bu Sherin? Anda pasti akan menyesal jika sampai melewatkannya."


Sherina dan Ivander yang mendengar ucapan Nessie itu menautkan alisnya. Sherina merasa canggung dengan ucapan Nessie. Dia dan Marvin bahkan belum pernah membicarakan dengan begitu serius, tapi wanita itu dengan begitu lancangnya langsung membicarakannya.


Sementara Ivander, pria itu seketika mengeratkan rahangnya. Bagaimana bisa Sherina menikah, sedangkan wanita itu masih berstatus sebagai istrinya? Tidak akan pernah bisa.


"Tentu saja. Secepatnya," jawab Marvin sembari memeluk pinggang ramping milik Sherina.


"Baiklah, selamat menikmati pestanya. Beberapa saat lagi acara akan dimulai." Nessie mempersilahkan keduanya untuk bergabung dengan yang lain.


Marvin dan Sherina berjalan ke samping untuk berbaur dengan banyak orang yang sejak tadi sudah menanti kedatangannya.


Berbeda halnya dengan Ivander. Pria itu tak membiarkan dua insan tadi lepas dari pandangannya. Dia berjanji akan mematahkan tangan pria itu, karena sejak tadi berani menyentuh tubuh istrinya.


Andai saja tidak ada banyak orang, pasti dia sudah mengajak Sherina menjauh dari pria itu. Tapi apa boleh buat, dia terjebak dengan permainan yang dia buat.


Tak lama setelahnya acara pun di mulai. Sherina yang tak tertarik dengan acara para pebisnis itu, memilih untuk duduk di pinggir kolam.


Dia menatap Marvin yang tengah berbincang dengan para rekannya, dari balik kaca besar itu. Dia saat ini benar-benar berada di luar ruangan.


Wanita itu hanya berdiam diri. Dia memikirkan semua hal yang saat ini tengah memenuhi kepalanya.

__ADS_1


"Apa yang kau pikirkan, hm?" Sherina yang sejak tadi tengah melamun itu, terkejut ketika ada yang mengelus puncak kepalanya.


Wanita dengan rambut sebahu itu, lantas menolehkan kepalanya dan tersenyum hangat pada Marvin. "Tidak ada,"


Marvin menggelengkan kepalanya dan berdiri di sebelah kursi milik Sherina. "Boleh berikan aku satu pelukan?" ucap pria itu dengan wajah memohon.


Sherina tertawa singkat, lalu segera bangkit dari duduknya. Dengan begitu sabarnya, wanita itu memeluk Marvin.


"Aku mencintaimu," lirih Marvin sembari memejamkan matanya.


Dia merasakan hal yang begitu dalam saat mendekap tubuh Sherina. Dia berjanji untuk tak kehilangan Sherina lagi.


Sherina tak membalas. Dia justru mengelus punggung kekar milik pria itu. Setelah merasa cukup, Marvin melepas pelukannya dan menekuk satu lututnya tepat di hadapan Sherina.


Sherina yang melihat hal itu, memundurkan tubuhnya beberapa langkah. Wanita itu menatap Marvin dengan tatapan tak percayanya ketika melihat Marvin mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah berisi cincin berlian dari dalam saku tuxedonya.


"Sher. Will you be my future?" Dengan nada yang cukup dalam, pria itu mencoba mengungkapkan apa yang ingin dia katakan pada Sherina.


Sherina yang matanya mulai memanas itu menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Dia memggelengkan kepalanya dengan lemah, "Ini terlalu cepat, Vin."


Marvin yang mendengar jawaban Sherina itu segera menggelengkan kepalanya. "Terlalu cepat untukmu, tapi terlalu lama untukku Sher. Kau tahu? Empat tahun, aku berusaha mempertahankan rasa ini. Karena apa? Karena memang hanya kau yang ku mau."


Wanita itu tidak dapat menahan air matanya. Dia merasakan apa yang Marvin rasakan. Menunggu sesuatu dengan perasaan yang menggebu, selama bertahun-tahun bukanlah hal yang mudah. Itu semua terlalu menyakitkan!


"Aku tidak memaksamu untuk menerimanya. Tapi katakan ya, jika kau mengizinkan aku menemanimu sampai kau benar-benar melupakan semua yang pernah terjadi di masa lalumu." Pinta Marvin dengan sungguh-sungguh.


Sementara dari atas sana, seorang pria yang bahkan sudah mulai kehilangan kesadarannya itu, bernapas dengan menggebu.


Hatinya terasa diiris dengan sembilu saat menyaksikan apa yang terjadi di bawah sana. Amarah pria itu semakin memuncak ketika melihat anggukan kepala dari wanitanya.


"Dasar baj*ingan! Aku akan membunuhmu!" Ucapnya dengan air mata penuh amarah, lalu bangkit dari posisinya.


Dia tidak akan menahan hal ini lagi. Dia bahkan rela jika nama baiknya tercoreng karena mempertahankan apa yang dia punya.


"Ivander!" Teriak Nessie dengan panik ketika dia melihat Ivander yang keluar dengan raut wajah penuh amarahnya.

__ADS_1


Dia bahkan baru saja hendak masuk ke dalam, setelah dengan sengaja dia memberikan wine dengan kadar alkohol tinggi pada suaminya.


"Sial!"


__ADS_2