Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 114


__ADS_3

Marvin memejamkan matanya untuk meredam dengung hebat di telinganya, berbarengan dengan suara sirine yang terus berbunyi memekakan telinganya.


"Maafkan aku, Sher. Aku terlambat," lirih Marvin menundukkan kepalanya dan mencium kening istrinya.


Selama hidup pria itu, hal ini lah yang menjadi penyesalan terbesarnya. Andai dia bergerak lebih cepat, mungkin saat ini tangan tidak akan berada di punggung sang istri, untuk mencegah pendarahan yang semakin banyak.


"Tolong percepat lagi! Istriku dalam bahaya!" Marvin meminta dengan frustasi yang membuat sopir ambulans itu menghubungkan HT nya dengan polisi yang mengawal mobil ambulansnya dari apartemen Diko.


Tidak lama setelahnya, mereka sudah tiba di rumah sakit. Marvin membiarkan para petugas itu membawa pergi istrinya ke unit gawat darurat.


Marvin mengepalkan tangannya erat-erat dan membawanya ke bibirnya. Rasa khawatir yang begitu besar, membuat pria itu hanya bisa berjalan kesana kemari dengan jantung yang berdegup lebih kencang.

__ADS_1


Dia menunggu di kursi yang ada di depan pintu UGD, dengan kedua tangannya yang bertumpu di pahanya. Dia menutup wajahnya, menyembunyikan tangisnya. Betapa lemahnya pria itu, sekarang.


Dalam detik-detik kesunyian itu, tiba-tiba seorang perawat keluar dari ruang UGD dengan beberapa lembar kertas yang siap dengan pulpennya. Wanita yang terlihat sedikit sibuk itu, mendekati Marvin dan menjelaskan apa yang terjadi pada Sherina.


"Mohon maaf, Pak. Setelah dilakukan observasi, ternyata kandungan Bu Sherina sudah tidak bisa diselamatkan. Selain itu, ada pendarahan yang sangat parah di rahim istri bapak, yang diakibatkan karena kontraksi uterus. Hal ini berkemungkinan besar dapat memicu kematian untuk Bu Sherina jika tidak ditindaklanjuti."


Tubuh Marvin seketika membeku mendengar ucapan perawat tersebut. Napasnya seketika tertahan di tenggorokan, bahkan untuk menjawab ucapan perawat tersebut, sangatlah susah untuk Marvin lakukan.


"Lakukan apa yang terbaik untuk istri saya, Sus. Angkat rahimnya jika memang itu yang paling baik untuknya. Saya ingin istri saya selamat, jadi lakukan yang terbaik untuk istri saya."


Marvin langsung memutuskan hal tersebut tanpa berpikir panjang. Dia tidak memikirkan apa konsekuensi yang akan dirinya dapatkan ke depannya, yang dia pikirkan adalah bagaimana caranya agar sang istri dapat selamat dari masa kritisnya.

__ADS_1


"Tapi dalam hal ini, saya perlu ingatkan kembali jika tidak akan mengurangi risiko jika Ibu Sherina akan mengalami penurunan kondisi tubuh. Jika hal ini terjadi setelahnya, maka itu diluar dari kendali kami. Dan ya, perlu bapak ingat jika setelah operasi pengangkatan rahim dilakukan, maka otomatis istri anda tidak dapat-"


"Saya tidak bodoh! Jadi berikan pulpennya, dan segera lakukan tindakan untuk istri saya!"


Setelah semua dokumen Marvin selesai tanda tangani, perawat tersebut kembali masuk dan meninggalkan Marvin di luar kedinginan. Pria itu kembali memejamkan matanya dan menunduk, meratapi nasibnya yang begitu buruk.


"Apa lagi yang akan Kau ambil dariku, Tuhan? Mama, papa, calon anakku, lalu siapa lagi? Ambil apa saja yang ku punya, asal jangan istri dan kedua anakku." Marvin kembali menangis dalam diamnya. Dia tidak tahu harus membagi semua ini pada siapa lagi.


"Aku gagal, Sher. Maafkan aku." Marvin mengingat dengan betul bagaimana detail wajah cantik istri mungilnya.


Dia merindukan ocehan lucu wanita itu, tingkah keibuannya yang terlihat sangat menyenangkan di matanya, dan sifat sabarnya dalam menghadapi dirinya dan kedua putri kecilnya.

__ADS_1


"Andai kau tidak menikah denganku, mungkin jalannmu tidak akan sesulit ini, Sher. Aku minta maaf."


__ADS_2