Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 96


__ADS_3

Sherina masih menangis dalam dekapan suaminya. Dia menatap dua gadis yang tertidur dengan sangat lelap, di tengah ranjang.


"Aku melihatnya pergi, Vin. Aku terlambat," ucap Sherina dengan penuh ketakutan, yang membuat Marvin semakin mengeratkan pelukannya.


Pria itu memejamkan matanya dan mengecup puncak kepala istrinya dengan penuh perasaan. Sherina memeluk lengan suaminya, dengan tatapannya yang sejak tadi tidak berpindah.


"Aku tidak tahu, bagaimana perasaan Ailey ketika mengetahui jika ibunya sudah tiada? Dia membutuhkan ibunya, Vin." Sherina menenggelamkan wajahnya di bahu suaminya.


Sudah sejak setengah jam yang lalu mereka tiba di rumah, dan selama itulah Sherina belum kunjung menyudahi tangisnya. Marvin hanya bisa maklum. Bagaimana pun Sherina juga seorang ibu.


"Sayang, tenanglah. Semua akan baik-baik saja. Bukankah kau sudah mengatakannya? Kau adalah ibunya juga. Aku yakin kau pasti akan menjaganya dengan sangat baik. Benar?" Sherina mendongakkan kepalanya dan mengangguk.


Marvin mengecup sejenak bibir kering milik istrinya. Wanita itu memejamkan matanya seolah mendapatkan ketenangan setelahnya. "Kau akan menjadi baik yang sangat hebat. Buktikan padaku atas semua yang kau ucapkan kemarin."


Sherina menarik napasnya dan tersenyum dengan wajah sembab. Dia kembali menganggukkan kepalanya dengan begitu yakin. "Aku akan menjadi ibu yang baik untuk mereka berdua!"

__ADS_1


Marvin membalas senyum istrinya dan mengelus puncak kepalanya. Dia membiarkan sang istri berjalan ke kamar mandi untuk berganti pakaian.


Tatapan pria itu saat ini tertuju pada gadis kecil yang tertidur tepat di sebelah Niskala. Setelah meragukan kredibilitas tentang hubungannya dengan gadis bernama Ailey tersebut, nyatanya sekarang Marvin benar-benar merasa tidak dapat berkata-kata.


"Mengapa dia sangat mirip denganku? Benar-benar sangat mustahil." Marvin bergumam dengan lirih sembari terus mengamati wajah Ailey.


Benar apa yang istrinya katakan padanya. Dirinya dan putrinya itu sama sekali tidak memiliki perbedaan. Hanya perbedaan gender lah yang membuat keduanya berbeda.


"Kamu benar-benar beruntung, gadis kecil. Kamu mendapatkan ibu sambung sebaik istriku. Berbahagialah." Marvin memberanikan diri untuk mengelus puncak kepala Ailey.


Batita itu menggeliat sejenak, yang membuat Marvin segera menarik tangannya dari kepalanya. Dia menatap Ailey yang membalikkan badannya, dan memeluk Niskala dengan begitu hangat.


Marvin mengangkat kepalanya ketika melihat sang istri keluar dari kamar mandi. Wanita dengan pakaian rumahan berwarna navy itu, mendekat dan membelalak senang melihat perlakuan manis Ailey pada adiknya.


"Kenapa manis sekali ... Mmm," ucap Sherina sebelum dirinya mengecup pipi Ailey dengan bibir yang dirinya lipat ke dalam.

__ADS_1


Wanita itu benar-benar merasa gemas, dan tidak sabar untuk bisa berinteraksi dengan bocah itu. Setelah puas menghujani pipi gembul Ailey dengan kecupannya, Sherina kini berpindah ke putri kecilnya.


"Kala, sekarang kau tidak sendirian lagi. Kau sudah memiliki saudara, apakah kau senang?" ucap Sherina dengan tangan yang tengah memainkan tangan kecil milik putrinya.


Marvin menggunakan sebelah tangannya untuk menopang tubuhnya, dan memiringkan kepalanya hingga menyentuh bahu kekarnya. Dia asyik menatap sang istri dengan tatapan dalamnya.


"Anak-anak sudah tidur. Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Marvin setelah terdiam untuk beberapa saat.


Sherina menolehkan kepalanya, dan menatap Marvin dengan tatapan bingungnya. "Menunggu mereka tidur. Lalu apalagi?"


Pertanyaan polos penuh dengan keluguan itu berhasil membuat Marvin menghembuskan napasnya. Pria itu menarik tangannya, dan duduk dengan tegap.


"Kau tidak berminat melakukan sesuatu yang menyenangkan?" tanya Marvin lagi yang membuat alis di kening Sherina semakin mengerut.


"Sesuatu yang menyenangkan? Seperti apa contohnya?" Seolah benar-benar tidak mengerti dengan apa yang tengah suaminya bicarakan, Sherina kembali bertanya pada suaminya.

__ADS_1


Marvin melemaskan bahunya dan menggelengkan kepalanya. "Tidak ada! Aku tidak memiliki contoh untuk apa yang baru saja aku katakan!"


Marvin beranjak dari duduknya, dan berjalan keluar dari kamarnya. "Sepertinya Sherina akan melupakanku. Bagaimana aku bisa menyesal setelah memberinya satu mainan baru. Aarghhh!"


__ADS_2