
Sore hari, dimana Sherina tengah dibantu oleh seorang perawat dan Anne untuk belajar duduk. Dokter mengatakan jika lebih baik untuk Sherina untuk dapat duduk lebih dekat.
Dengan menggunakan Niskala dan kedatangan Marvin, dokter tersebut tersenyum ketika melihat Sherina sudah dapat duduk. Dia menatap Anne dengan senyum hangat.
"Lihatlah, Marvin akan senang saat melihatmu sudah banyak perkembangan." Anne mengelus punggung Sherina dengan tulus ketika seorang perawat lain berjalan masuk dan mengantarkan putri Sherina.
"Benar jadi ingin menggendong, Bu?" Perawat baru itu bertanya sembari mendekatkan brankar bayi milik putrinya.
"Jadi. Setelah saya buang air kecil ya, sus. Saya titip sebentar." ujar Sherina yang membuat Anne dan perawat tadi membantu Sherina ke kamar mandi.
Awalnya Sherina terkejut ketika merasakan nyeri dan panas di bagian utamanya, tapi setelah menyimak penjelasan dari suster tadi, Sherina mencoba mengontrol dirinya.
"Sher, Ivander mengatakan jika Marcel sudah tiba. Dia masih mengurus keperluannya sebelum mendapat kamar rawat." Anne menyusul masuk ke kamar mandi setelah menerima telepon dari Ivander.
Sherina, dengan wajah pucatnya lantas tersenyum dan menganggukkan kepala. Setelah selesai, Sherina kembali masuk ke ruang rawatnya dan duduk di kursi khusus yang sudah disiapkan oleh Anne.
__ADS_1
Sherina menerima bayinya dan mulai mengikuti arahan dari perawat yang masih tertinggal di ruangannya. Anne yang mendengar pintu hendak dibuka itu, dengan cepat bergegas menuju pintu.
Senyum Anne seketika mengembang ketika melihat kedatangan Marvin dengan Ivander yang mendorongnya. Kedua pria itu hendak berjalan masuk mendekati Sherina.
Anne yang tidak mungkin membiarkan Ivander masuk itu, segera berdiri di depan pria tersebut sembari merentangkan tangannya. "Kau tidak bisa masuk. Sherina sedang mengasihi bayinya. Biar aku saja yang bawa."
Ivander tidak membantah, dia membiarkan Anne membawa masuk Marvin, sementara dirinya kembali duduk di luar ruangan.
Sherina yang sejak tadi fokus dengan putrinya itu, hanya terus menundukkan kepalanya. Dia menyentuh belakang kepala Niskala dan tersenyum lemah.
Sherina yang tiba-tiba mendengar suara suaminya itu segera mendongakkan kepalanya. Tatapan matanya seketika bertemu dengan mata gelap milik Marvin.
"Kau kembali," Sherina menggigit bibir bawahnya untuk menyalurkan rasa senangnya.
Marvin mengangguk dan mendorong kursi rodanya untuk mendekati sang istri. Dia mengelus puncak kepala milik Sherina dengan penuh rasa bersalah.
__ADS_1
Interaksi keduanya itu berhasil membuat dia senyum hangat terbit di wajah kedua wanita lain yang berada di sana.
"Apakah putriku rewel?" tanya Marvin sebelum memutus tatapannya dengan Sherina, lalu menatap buah hatinya dengan sang istri.
"Tidak. Dia sangat baik." Sherina masih menatap wajah tampan milik suaminya, yang kini sedikit dipenuhi oleh luka.
"Mmm ... Bagaimana kondisimu? Kenapa tidak bertahan di sana terlebih dahulu?" Sherina mengulurkan tangannya dan menyentuh kening milik suaminya.
Marvin sedikit meringis saat tangan dingin istrinya menyentuh keningnya yang terluka. Mata redup milik Sherina kini turun ke sudut bibir sebelah kiri milik suaminya, yang sepertinya terluka sedikit parah.
"Apakah kau bisa meninggalkan aku dan istriku, di sini? Berikan kami sedikit waktu." Perawat itu langsung mengangguk tatkala mendengar permintaan Marvin.
Anne pun dengan cepat langsung keluar dari sana setelah memastikan jika Niskala akan baik-baik saja. Dia menemui Ivander dan duduk berdua di luar.
"Apa yang mereka bicarakan, di dalam? Apakah tentang anak itu?" Ivander melihat Anne duduk di sebelahnya, lalu segera menanyakan hal tersebut.
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Tapi jika seperti yang Sherina ucapkan, dia akan menunda untuk membicarakan hal ini pada Marvin. Entahlah apa yang akan Sherina putuskan nantinya."