
Sherina terkejut krena tiba-tiba pria itu merebahkan tubuhnya di kasur. Dalam keadaan yang masih sangat mengantuk, Sherina sama sekali tak mengindahkannya. Dia meneruskan tidurnya, dan dengan tenang menganggap bahwa pria itu tidak lain adalah Marvin.
"Akhirnya kau pulang," ucap Sherina lega, sambil merasakan hangatnya pelukan pria itu.
Pria itu tidak menjawab. Dari aroma tubuhnya, Sherina yakin jika pria itu tengah mabuk. Dia kembali memejamkan matanya dan sama sekali tidak melihat siapa yang datang ke kamarnya.
Beberapa saat, Sherina mulai terbangun saat merasakan elusan yang pria itu berikan di perutnya. Tapi anehnya, lama kelamaan tangan itu mulai meraba ke hal yang lain.
Seketika dirinya mencium aroma tubuh yang terasa asing baginya. Setahu dirinya, Marvin selalu mengenakan parfum yang sama, tidak pernah berganti.
"Vin!" Wanita itu sedikit marah ketika pria yang dirinya anggap sebagai Marvin itu mulai menurunkan tangannya.
Tidak, ini pasti bukan Marvin! Marvin tidak akan pernah melewati batasannya, seperti yang saat ini dirinya lakukan.
"Kau berani menolak ku, Cla?"
Tubuh Sherina seketika menegang. Suara itu! Suara itu bukan milik Marvin-nya. Dengan cepat, dia langsung bangkit dan berdiri tegap.
Tepat saat dirinya sudah berdiri, tiba-tiba lampu kamarnya menyala dengan begitu saja.
Seolah dihantam batu yang sangat besar, Sherina terkejut saat melihat kedatangan Marvin di ambang pintu.
"Marvin," lirihnya dengan perasaan yang tidak bisa dirinya jabarkan.
__ADS_1
Tatapan mata keduanya bertemu satu sama lain. Ada sebuah ketakutan yang begitu besar saat melihat wajah kecewa Marvin.
Tatapan pria itu teralihkan ke piyama tidur Sherina yang sudah terbuka. Pria itu merasakan sesak yang begitu luar biasa saat ini. Terlebih lagi, dirinya melihat seorang pria bertato naga yang teridur tanpa baju, di ranjang milik Sherina.
Tubuh pria itu seketika memanas. Dia menatap tak percaya pada Sherina. Dia berharap jika apa yang dirinya lihat ini belum berlalu dengan jauh.
"Sher?" Lamat-lamat pria itu mulai mengepalkan tangannya di samping badan.
Dia menatap Sherina yang dengan begitu terkejutnya ketika melihat piyama tidurnya sudah terbuka.
Saking santainya karena menganggap jika pria itu adalah Marvin, dia sampai tak sadar jika pria itu mulai membuka satu persatu kancing bajunya.
"Marvin! Tunggu sebentar!" Wanita itu langsung menutup piyamanya dan berjalan cepat menuju Marvin.
Dia tahu, ini akan menjadi awal masalahnya lagi dengan Marvin. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca, dengan napas yang mulai memburu dia menggelengkan kepalanya sambil mendongakkan kepalanya.
Air mata wanita itu mulai turun. Dia berharap agar Marvin mempercayainya, ini benar-benar menyesakkan untuknya.
Marvin menatap dalam mata Sherina. Rasa kecewa yang begitu besar langsung menyergap hatinya. Di tatapnya wanita itu dengan sangat dalam.
Pria yang sudah berusaha sekuat mungkin untuk menahan amarahnya itu, tidak berbicara. Dia memajukan tangannya dan mengancingkan piyama Sherina dengan hati yang begitu hancur.
"Vin," isak wanita itu saat pria itu menutup bajunya kembali.
__ADS_1
Air matanya turun semakin deras saat Marvin mengelus sisi kepalanya. Pria itu menatapnya lekat, lalu mendekatkan wajahnya untuk mengecup kening wanita-nya.
Sherina memejamkan matanya saat Marvin menciumnya. Dia menangis semakin deras lalu memeluk pinggang pria itu.
"Aku mengira jika dia adalah kau, Vin. Aku bersumpah," jelas Sherina sambil mengeratkan pelukannya.
Dia benar-benar takut jika Marvin tidak mempercayainya dan menilainya dengan yang tidak-tidak. "Kau tahu jika aku sangat mencintaimu, Sher?"
Sherina mengangguk. Dia mendongakkan kepalanya dengan tubuh yang bergetar hebat. Dia berharap Marvin memberinya kesempatan untuk menjelaskan semuanya.
"Aku tahu kau sangat mencintaiku. Kau sangat-sangat mencintaiku. Aku tahu," jawab Sherina dengan yakin yang sama sekali tidak disahuti lagi oleh pria itu.
"Aku kecewa, Sher. Jujur, ini terlalu menyakitiku. Aku tahu apa yang aku putuskan ini belum tentu baik untukku atau untukmu. Tapi percayalah, dengan ini, secara tidak langsung kau menegaskan padaku jika kau tak lagi menginginkan ku. Apakah aku seburuk itu, Sher?"
Sherina menggeleng dengan tegas. Dia tidak pernah mengatakan jika dirinya tidak menginginkan pria itu. Justru Marvin lah yang dirinya inginkan.
"Tidak! Aku minta maaf. Aku bisa menjelaskan semuanya, Vin. Aku mohon," ucap wanita itu sambil menggenggam tangan besar milik Marvin. Dia terus menggelengkan kepalanya dengan air mata yang tak kunjung reda.
"Aku mencintaimu, Vin. Aku mencintaimu." Luruh sudah tembok wanita itu.
Dia menangis dengan tubuh yang lunglai saat melihat Marvin pergi meninggalkannya dengan langkah besar.
"Marvin!" Teriaknya lalu segera menyusul Marvin.
__ADS_1
Dia sama sekali tidak memperhatikan langkahnya hanya untuk menyusul Marvin yang pergi. Wanita itu terpeleset di tangga yang ada di teras, saat mobil Marvin mulai menjauh dari halaman rumahnya.
"Marvin!"