Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 138


__ADS_3

Seorang wanita yang sejak tadi hanya bisa memeluk lututnya dan terus menangis itu, membenturkan kepalanya perlahan ke kepala ranjang yang menjadi sandarannya. Di menatap putrinya yang baru bisa terlelap, setelah jam menunjukkan pukul tiga dini hari.


Ya, di rumah pemberian mantan mertuanya inilah Sherina berada sekarang. Dia tidak memiliki tempat lain yang bisa dirinya kunjungi dalam keadaan terdesak, terlebih dengan putri kecilnya yang ikut bersamanya. Nyatanya, rumah yang dahulu pernah dirinya janjikan untuk tidak dia tempati, kali ini dirinya ambah juga.


"Maafkan bunda, Sayang. Bunda meninggalkan kakak mu dengan ayah kalian. Bunda terpaksa melakukannya, Sayang." Sherina meredam suaranya dengan batin yang terkoyak hebat.


Mengingat apa yang sang suami katakan pada dirinya, membuat hati wanita itu kembali berdenyut sakit. Kata-kata yang dia takutkan sejak kesembuhannya dari koma, akhirnya terjadi juga.


Tanpa pria itu katakan, Sherina sudah tahu jika dia tidak akan pernah lagi bisa memiliki anak. Suaminya tidak perlu menekankan hal tersebut padanya. Justru dengan mengatakan hal itu, semakin membuat Sherina merasakan sakit yang semakin bertambah.


Sherina memutuskan untuk berbaring di sebelah sang anak. Dia mendekap gadis kecilnya yang begitu mirip dengan sang suami itu, lalu mengecupnya dengan begitu lembut. Dia beribu kali mengucapkan kata maaf pada sang anak, meskipun belum bisa dirinya katakan secara langsung.


Tanpa menghentikan tangisannya, wanita itu mulai terpejam dengan kedua tangan yang masih terus mendekap tubuh putrinya.


Sementara di rumahnya, Marvin sama sekali tidak mengendurkan dekapannya di tubuh putri pertamanya. Dia benar-benar merasa bersalah karena telah memisahkan kedua putrinya, dan membuat sang istri pergi dari rumah.


Yang ada di benak pria itu adalah, bagaimana caranya meyakinkan sang istri jika apa yang dirinya katakan itu, secara spontan keluar dari bibirnya tanpa ada maksud yang lain. Lagipula dirinya sangat paham dengan apa yang sang istri rasakan setelah semua masalah yang terjadi di rumah tangganya.


"Aku tidak harus mungkin memberitahu Sherina tentang semua ini, bukan?" gumam pria itu sebelum akhirnya terhanyut dengan pikirannya sendiri.


****


Pagi harinya, Sherina dengan mata gelapnya yang saat ini tengah memasukkan semua belanjaan pesanannya e dalam kulkas itu, tidak sadar jika sang anak sudah berdiri di sampingnya. Bocah itu menatap sang ibu yang tengah melamun, lalu memeluk lehernya dengan begitu erat.


"Bunda, Kala mau ayah." Sherina yang seketika tersadar dari lamunannya itu, langsung mengalihkan wajahnya ketika air matanya menetes dengan begitu saja.

__ADS_1


Wanita itu tidak menjawab, dia masih terus memalingkan wajahnya dari sang putri, sampai akhirnya Niskala memeluk tubuh ibunya dengan begitu erat. Gadis berusia empat tahun itu kembali menangis. Bahkan baru beberapa hari dirinya bisa berkumpul dengan kedua orang tuanya, tapi kini mereka berpisah kembali.


Rasanya Sherina ini benar-benar tidak memiliki rasa lelah untuk menangis. Dia lagi-lagi menangis saat putri kecilnya menangis di dekapannya. "Bunda minta maaf, Sayang."


Hanya kata itu yang bisa keluar dari bibir Sherina. Mengingat sang suami hanya akan membuatnya semakin sakit. Nyatanya benar, seribu kebaikan akan hilang ketika muncul satu keburukan.


Wanita itu seakan lupa dengan semua hal yang sudah dirinya dan suaminya lakukan. Mereka saling mencintai satu sama lain, bahkan mereka memiliki banyak impian yang ingin mereka wujudkan bersama-sama.


Dia juga seakan lupa dengan semua kebaikan dan pengorbanan yang suaminya berikan padanya, walau pada nyatanya itu tidak sebanding dengan semua pengorbanan yang Sherina pertaruhkan.


Sherina terus membiarkan sang anak menangis, hingga tiba-tiba dirinya menyadari jika tubuh putrinya sedikit panas. Menyadari hal tersebut, Sherina segera menarik tubuh kecil Niskala darinya, dan langsung mengecek suhu tubuhnya.


"Sayang! Kenapa tiba-tiba kau panas!?" panik Sherina lalu segera menatap wajah pucat putrinya.


Dia segera membawa Niskala dengan rasa panik dan takut yang bercampur menjadi satu. Wanita itu membawanya keluar, dan segera menjalankan mobilnya ke rumah sakit.


Sebelah tangan wanita itu dirinya buat untuk menggenggam tangan kecil milik Niskala. Berulang kali dirinya merutuki kebodohannya karena merasa terlambat menyadari jika sang anak demam tinggi.


Setibanya Sherina di rumah sakit, wanita itu menunggu sang anak di depan ruang UGD dengan jantung yang berdegup dua kali lebih cepat. Dia benar-benar khawatir dengan apa yang terjadi pada sang putri. Yakinlah, keputusannya semalam tadi akan menjadi penyesalan terbesarnya jika sampai terjadi sesuatu yang serius dengan anaknya.


Sherina yang bahkan sampai harus melewatkan jam pergi ke kantornya itu, segera mengambil ponselnya. Dirinya segera memberitahu sang atasan jika hari ini dirinya terpaksa tidak berangkat karena sang anak yang tengah sakit.


Tapi, belum lama setelahnya, tiba-tiba ponsel wanita itu berdering. Dia sedikit terkejut ketika mengetahui jika yang meneleponnya itu tidak lain adalah Kevin, sang atasan.


"Apa yang terjadi pada putrimu? Apakah dia sudah dibawa ke rumah sakit?" tanya pria dengan nada baritonnya itu, sesaat setelah Sherina menerima panggilan teleponnya.

__ADS_1


Sherina sedikit terkejut dengan respon yang Kevin berikan. Dia menahan napasnya untuk beberapa saat, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan yang Kevin tujukan padanya.


"Aku sendiri belum tahu apa yang terjadi. Dan dia juga sudah ku bawa menuju rumah sakit. Hanya tinggal menunggu hasil diagnosis dari UGD." Sherina mencoba untuk menjawab seumum mungkin. Dia tidak ingin atasannya ini terlalu banyak mengerti tentang kehidupannya.


Mendengar hal tersebut, Kevin berniat untuk langsung menjenguknya. Tapi karena Sherina yang lebih dulu melarangnya dengan alasan pekerjaannya lebih penting, membuat Kevin mengurungkan niatnya.


Setelah perbincangannya dengan Kevin selesai, tidak lama setelahnya pintu UGD pun terbuka. Sherina yang sudah diperbolehkan untuk masuk ke dalam itu, segera masuk dan duduk di sebelah sang putri yang sudah terlelap.


Beberapa saat setelah Sherina duduk, seorang dokter yang tadi memeriksa keadaan sang putri, mendatanginya. Dia mengatakan jika Niskala harus di rawat inap terlebih dahulu sampai demam tingginya turun. Takut jika dibawa pulang nanti, panasnya kembali naik drastis.


"Baik, Dok. Lakukan yang terbaik untuk putri saya." Sherina hanya bisa mematuhi apa yang dokter sarankan padanya.


Dia menghembuskan napasnya dalam-dalam dan seketika terdiam ketika dalam tidurnya, Niskala terus menyebutkan ayahnya. Dia tahu, putri kecilnya itu terlalu dekat dengan Marvin.


Sherina masih mencoba untuk tidak menanggapinya, dan terus berdoa dalam hatinya. Tapi semakin lama dirinya berdiam menutup telinga, semakin kuat juga sang anak memanggil ayahnya.


"Ayah." kata tersebut terus keluar dari bibir mungilnya selama beberapa kali.


Sherina yang melihat hal itu, menahan dirinya untuk beberapa saat lalu memejamkan matanya. Tidak ada pilihan lain selain dirinya menghubungi pria itu dan memintanya untuk datang.


Sherina menggigit bibirnya ketika melihat puluhan panggilan masuk yang berasal dari nomor suaminya. Dia juga melihat ratusan pesan dengan puluhan kata maaf yang mendominasinya. Tidak ingin membacanya lebih lanjut, wanita itu segera menekan tombol telepon yang ada di nomor suaminya.


Tidak menunggu lama, panggilan yang Sherina buat pada sang suami langsung diterima dengan cepat. Pria itu terdengar sedikit bahagia dan hendak menyapa sang istri. Tapi belum sempat kata sapaan itu terlontar dari bibirnya, Sherina lebih dulu memotongnya.


"Bisa kau datang ke rumah sakit, sekarang? Niskala terus mencari mu."

__ADS_1


__ADS_2