
"Kau pikir aku akan melepaskanmu dengan begitu saja, Rin? Tentu saja tidak," batin Ivander saat mengetahui di mana keberadaan istrinya, lalu segera bangkit dari duduknya.
"Siapkan tiket pesawat untuk ke Jerman besok. Kita akan berangkat ke Jerman untuk menjemput istriku!"
Tepat saat mengatakan hal tersebut, Nessie yang sudah tiba di kantor suaminya itu, mendengar rencana suaminya. Wanita itu terkejut bukan main saat tahu suaminya akan menjemput Sherina.
"Gawat! Aku harus melakukan sesuatu!" Nessie segera keluar dari ruangan suaminya dan berjalan pergi.
Wanita itu bersumpah, dia tidak akan membiarkan suaminya kembali bertemu dengan Sherina. Dia tahu, suaminya itu kini mulai tersadar bahwa wanita itulah yang dia cintai.
"Sebelum tujuanku tercapai, aku tidak akan membiarkanmu dan Sherina kembali bersama!"
****
Pagi harinya, Ivander yang masih tertidur nyenyak itu tiba-tiba terkejut karena mendengar teriakan seseorang. Pria itu segera bangun dari tidurnya dan bergegas keluar dari kamarnya.
"Tuan!" Teriak orang itu lagi dengan begitu panik, yang membuat Ivander ikut panik.
Ivander yang baru tiba di ujung tangga itu, seketika terbelalak ketika melihat Nessie sudah tergeletak tak sadarkan diri, dengan darah segar yang mengalir dari pangkal pahanya.
"Nessie!" pekik Ivander dengan nada khawatirnya lalu segera turun ke bawah.
__ADS_1
Pria itu langsung mengangkat tubuh istrinya itu, dan membawanya ke rumah sakit. Ivander benar-benar kalang kabut, kali ini. Dia bahkan lupa jika dia memiliki jadwal penerbangan ke Jerman pagi ini.
"Bertahan, Sayang. Kita akan segera sampai." Dengan begitu telaten, Ivander mengelus pipi milik Nessie yang mulai memucat karena sudah kehilangan banyak darah.
"Buka matamu, Sayang. Bertahanlah demi aku," lirih Ivander lagi dan meminta sopirnya agar mempercepat laju mobilnya.
Tak berselang lama, mobil yang ditumpangi oleh Ivander itu telah tiba di rumah sakit. Pria itu langsung membopong tubuh istrinya dan langsung diurus oleh petigas rumah sakit.
Brankar yang digunakan oleh Nessie itu melewati sebuah koridor untuk menuju UGD. Dan tepat saat Nessie dan Ivander melewati koridor tersebut, dua orang yang tengah menunggu antrean itu, segera bangkit dan membuntuti keduanya.
"Ivander?" Suara milik wanita yang sangat Ivander cintai itu berhasil membuat Ivander yang sejak tadi menunduk, langsung mendongak.
"Mama!" Ivander yang melihat kedua orang tuanya berada di hadapannya itu, langsung memeluk ibunya.
Sang mama pun menanyakan apa yang terjadi, sehingga Ivander dapat tiba di rumah sakit sepagi ini. Ivander pun segera menjelaskan semuanya sesuai dengan apa yang pembantunya katakan selama perjalanan menuju rumah sakit tadi.
Mama Ivander berusaha menenangkan anaknya yang baru kali ini dia lihat menangis, setelah dewasa ini. Dia kembali memeluk anak semata wayangnya, berharap agar anaknya tersebut dapat tenang.
"Kau mencintai wanita itu, Van? Apakah rasa cinta yang kau miliki untuk wanita itu lebih besar dari rasa yang kau miliki ketika bersama dengan Sherina?"
Pertanyaan yang diberikan oleh mamanya itu, berhasil membuat Ivander menarik tubuhnya dari pelukan sang mama. Pria itu menatap kedua orang tuanya yang seolah sedang menunggu jawaban dari dirinya.
__ADS_1
"Ivander bingung, Ma. Ivander tidak bisa melepaskan Sherina dengan begitu gampangnya. Sedangkan saat ini Ivander juga memiliki Nessie."
Pria itu berkata jujur pada kedua orang tuanya. Dia memang tidak bisa melepaskan salah satu dari wanita yang kini menjadi istrinya. Satu sisi dia tidak dapat meninggalkan Nessie karena sedang mengandung anaknya, dan juga karena Nessie lah yang dia cintai sejak awal.
Tapi Ivander juga tidak bisa melepaskan Sherina dengan begitu saja. Dia tahu, Sherina adalah wanita yang paling baik yang pernah dia temui. Dia akan sangat menyesal nantinya jika sampai melewatkan wanita tersebut.
"Kau laki-laki, Van. Kau harus bisa memutuskan, mana yang akan kau pilih. Jika kau mendengarkan kedua orang tuamu, maka tinggalkan wanita baru itu! Jujur saja, papa hanya ingin kau memiliki satu istri, dan itu harus Sherina!"
"Ivan tidak bisa, Pa. Karena saat ini Nessie sedang mengandung anak Ivander, cucu mama dan papa!" Ucapan yang dikatakan oleh Ivander itu berhasil membuat kedua orang tuanya terkejut.
Mereka akan mendapatkan cucu sebentar lagi? Mereka berbahagia untuk itu. Tapi ketika mengingat jika wanita yang akan menjadi ibu dari penerus keluarganya adalah Nessie, keduanya menjadi sedikit kurang antusias.
"Papa dan mama menyambut dengan hangat bayi itu. Mau bagaimanapun, dia adalah darah dagingmu, dan kami sebagai orang tua yang benar-benar mengharapkannya, hanya bisa bersyukur. Tapi tidak dengan wanita pilihanmu, Nak."
Ivander tahu akan hal itu. Dia kembali menundukkan kepalanya dan benar-benar menyesal karena takdir sulit ini menimpanya. Dia tidak bisa memilih, dia ingin keduanya!
"Pertahankan istri dan anakmu. Lepaskan Sherina! Biarkan dia bahagia dengan apa yang sudah menjadi pilihannya. Jangan kurung dia di pernikahan penuh luka ini, Van. Sherina berhak bahagia. Dia sudah berkorban banyak untuk keluarga kita."
Ivander tak menjawab. Dia memejamkan matanya sembari mengepalkan tangannya. Rahang kokoh milik pria itu semakin mengeras saat membayangkan jika dia melepaskan wanitanya.
"Ivan tidak bisa, dan Ivan tidak akan pernah mau melepaskan Sherina! Sherina istri Ivan, Pa!" tolak Ivander dengan tegas saat papanya mengulangi perkataannya untuk melepaskan Sherina.
__ADS_1
Tanpa aba-aba, Ivander mendapatkan tamparan dari papanya. Ivander yang ditampar secara tiba-tiba itu, menatap sang papa dengan tatapan kagetnya.
"Sadar, Van! Kau tidak bisa egois, dan kau harus memilih! Lepaskan Sherina, atau relakan Nessie dan anakmu!"