
Sherina berdiri termenung, menatap putrinya dari balik kaca besar yang memisahkan mereka. Memikirkan, semua ucapan penuh kemarahan dari sang suami, ketika di telepon tadi.
Benarkah dirinya egois? Dia hanya memikirkan apa yang menurutnya benar, tanpa ingin tahu semuanya dengan lebih jelas. Dia melakukan apapun tanpa dirinya pikirkan apa konsekuensi yang akan dirinya dapat di masa depan nanti.
Sherina mengalihkan pandangannya ketika air matanya menetes. Menyadari jika ada seseorang yang memanggilnya, wanita itu segera menolehkan kepalanya dan seketika matanya berbinar.
Gadis dengan rambutnya yang tergerai indah itu, berjalan dengan cepat pada dirinya. Dengan senyum lelahnya, Sherina membalikkan tubuhnya dan memeluk putrinya tersebut.
"Bunda..."
Sesuai dengan tebakannya, benar saja jika gadis kecilnya itu menangis ketika berada di dekapannya. Sherina memejamkan matanya sejenak, dan mengelus punggung kecil yang bergetar itu.
Sherina membuka kedua matanya, dan di saat itulah tatapannya dengan tatapan tajam milik suaminya bertemu. Sherina menahan napasnya untuk beberapa saat, dan mengeluarkan napasnya dengan begitu saja ketika sang suami tidak menampilkan ekspresi lain seperti yang dirinya pikirkan.
Ada sedikit rasa bersalah yang entah kenapa langsung menyerbu hatinya. Dia kembali mengelus surai panjang milik sang putri, dengan penuh rasa bersalah.
"Jangan tinggalin kakak sendiri, Bun... Kakak takut." Ailey berbisik di dekapan sang ibu, yang membuat rasa bersalah itu semakin penuh.
"Bunda minta maaf, Sayang. Maafkan bunda." Sherina mengecupi seluruh puncak kepala milik gadis itu.
Sementara itu, Marvin yang sudah berada di dalam ruang rawat sang putri tersebut, berjalan dengan hati-hati. Mendekat pada ranjang yang terlihat begitu besar ketika diisi dengan putri kecilnya.
Hati Marvin bergetar dengan hebat ketika mendengar panggilan yang selalu Niskala berikan padanya, terucap dari bibir kecilnya. Mata indahnya yang tertutup rapat, dengan bulu mata lentik yang begitu lebat, membuat tangan kekar sang ayah terulur. Dia mengelus puncak kepala milik gadis itu dengan penuh kasih.
Menyesal. Hanya itulah yang dapat mendeskripsikan perasaannya saat ini. Ingatannya tentang masa-masa di mana dirinya dan Sherina sedang begitu bahagia-bahagianya ketika Niskala lahir ke dunia, kembali melintas.
Rasanya dia begitu asing dengan sang putri, akhir-akhir ini. lebih tepatnya setelah Sherina koma dan terbaring di rumah sakit selama bertahun-tahun. Empat tahun, dirinya sedikit tidak memperhatikan kedua putrinya.
__ADS_1
"Sayang. Ini ayah," bisik Marvin sembari mengecup kening sang putri, dengan begitu hangat.
"Ssst... tenanglah, ayah ada di sini, sayang." Marvin mengelus dada Niskala, seolah tengah menenangkan sang putri, agar tidak terus memanggilnya.
Sherina yang sejak tadi menatap interaksi antara sang suami dengan putri kecilnya itu, semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Ailey. Bocah itu terlalu lelah menangis, sehingga dia tidur di pangkuan sang ibu.
Sherina memundurkan kepalnya, dan mengintip wajah tenang sang putri yang menempel di dadanya. Tubuhnya yang menempel sempurna dengan tubuh kecil sang putri itu, berhasil memberikan ketenangan yang sejak semalam Ailey cari.
Sherina menarik napasnya dalam-dalam dan kembali menempelkan telinganya di kepala sang anak. Dia kembali menatap ke depan dan menatap pria yang dahulu sangat dirinya cintai itu, dengan begitu tenang.
Detik itu juga, seolah sadar jika tengah ditatap oleh sang istri, Marvin segera menolehkan kepalanya dan menatap sang istri. Tatapan keduanya bertemu untuk beberapa saat, sampai akhirnya Sherina memutus tatap, ketika Marvin berjalan keluar.
Selesai mengecup dahi putrinya, pria itu berjalan keluar dan melangkahkan kakinya menuju sang istri yang tengah duduk dengan Ailey yang ada di pangkuannya.
Sherina menundukkan kepalanya, dan segan menatap sang suami. Wanita itu bahkan sudah menyiapkan dirinya jika nanti sang suami akan memarahinya lagi.
Lantaran sudah beberapa saat Marvin tak kunjung mengucapkan sepatah kata apapun, Sherina segera mengangkat kepalanya dan menatap kedua mata gelap milik sang suami.
"Sopan begini?" tanya Marvin langsung to the point, yang membuat Sherina tidak mengeluarkan sepatah kata apapun.
Dia hanya membalas tatapan tajam suaminya dengan tatapan datar tanpa ekspresi. Dia tahu pria yang berdiri di hadapannya ini, tidak semata-mata hanya mengucapkan hal tersebut.
"Kau masih menganggap ku sebagai suami mu?" tanya pria itu lagi yang langsung membuat Sherina kembali menundukkan kepalanya.
Dia menggigit bibirnya dengan begitu erat, tanpa berniat untuk kembali mendongakkan kepalanya. Seketika dirinya di sadarkan dengan semua perbuatan sepihaknya. Dia tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi, mendengar penjelasan dari pria itu secara langsung.
"Masih ingat ucapanku? Aku tidak suka jika lawan bicaraku menundukkan kepala ketika berbicara!" tegas Marvin dengan nada rendahnya, seolah tidak menerima tindakan Sherina yang menundukkan kepala ketika berbicara dengannya.
__ADS_1
Seolah tidak mendengar apa yang suaminya katakan, wanita itu masih tetap menunduk. Dia tidak memiliki cukup keberanian untuk menatap dua mata hitam itu.
"Kau pikir keadaan anak-anak bisa kau sepelekan? Tidak bisakah kau bersikap egois terhadap dirimu sendiri? Jangan membawa anak-anak dalam tingkah labil mu itu!" bentak Marvin lagi, tidak memedulikan jika saat ini kondisinya adalah sebaliknya.
Sherina lah yang saat ini tengah marah padanya. Dia yang membuat Sherina pergi dari rumah, tengah malam, dan mengakibatkan putrinya harus di rawat di rumah sakit.
"Kau bisa egois! Kau bisa tidak lagi memedulikan aku," Napas Sherina seketika tercekat di tenggorokan ketika mendengar ucapan suaminya.
"Tapi tidak dengan anak-anak! Mereka tidak hanya membutuhkan mu, sebagai seorang ibu. Tapi mereka juga membutuhkan aku! Tolong bersikap dewasa, sedikit saja! Jika ada apapun itu, bicarakan empat mata, bukan malah berperang dengan isi kepala kau sendiri!"
Sherina memejamkan matanya semakin dalam. Isi kepalanya seketika bertambah seiring dengan semua ucapan yang keluar dari bibir suaminya. Sherina tidak hanya memperingati dirinya sendiri, dia juga mulai menyadarkan dirinya agar melakukan seperti apa yang pria itu katakan padanya.
"Bisa angkat kepalamu?" tanya pria itu lagi, meminta agar Sherina menatap kedua matanya. Tidak berarti apa-apa memang, tapi setidaknya dia dapat tahu apa yang sebenarnya sang istri rasakan melalui tatapan matanya.
Sherina masih diam tak bergeming. Dia fokus dengan pikirannya sendiri, dan mengabaikan ucapan suaminya.
"Baiklah, mungkin kau akan terus keras kepala sesuai dengan keinginanmu sendiri. Tidak masalah jika kau sudah tidak menganggap aku sebagai suamimu, tidak menghormatiku, dan bahkan tidak mengindahkan perkataanku."
Cukup berselang lama dari permintaan terakhirnya itu, Marvin kembali mengeluarkan suaranya. Dia menggertakkan rahangnya untuk beberapa saat, memikirkan keputusan yang akan dirinya ambil setelah ini.
"Sesuai permintaanmu, aku mengalah. Lakukan apa yang kau mau, apapun itu. Tapi untuk anak-anak, biar aku yang mengatasinya. Aku akan membuatmu mudah menemui mereka. Dan untuk pengajuan yang kau bicarakan, kau bisa melakukannya juga."
Jantung Sherina seketika berhenti berdenyut. Matanya membeku, mendengar perkataan sang suami. Dengan napas yang terasa begitu sesak, wanita itu mengangkat kepalanya, dan menatap wajah pria itu dengan mata yang mulai memanas.
Alis wanita itu mengerut, melihat ekspresi yang begitu tenang dari pria yang sampai saat ini masih berdiri di hadapannya. Perlahan namun pasti, kepala wanita itu mulai menggeleng tak percaya.
Sherina semakin kalut ketika pria itu mengambil ailey dengan paksa, dan membawanya ke gendongannya. Seolah tidak dapat mengucapkan sepatah kata ap
__ADS_1
"Lakukan apapun itu yang kau mau. Perlu kau tahu, Demi Tuhan, aku tidak pernah berpikir untuk berpisah darimu. Tapi sepertinya, jika melakukan hal itu maka kau akan bahagia, maka lakukanlah. Kau berhak mendapatkan yang lebih baik dariku, Rin."