
Ketika Sherina mencoba hidup dengan damai kembalj setelah Marvin kembali padanya, berbeda halnya dengan Ivander. Pria yang benar-bebar kehabisan cara untuk membuat Sherina kembali padanya itu, sejak kemari mengurung diri di dalam kamar.
Baru kali ini Ivander merasa menyesal dengan ala yang dia pilih. Andai saja dia tak memilih wanita berhati busuk seperti Nessie, mungkin sekarang ini dia dan Sherina sudah bahagia.
"Tuan. Aya ingin mengatakan jika tuan muda demam. Sepertinya dia tidak benar-benar cocok dengan asi nya yang sekarang."
Ivander yang mendengar aduan dari baby sitter Kanwa, seketika menghela napasnya. Dia benar-benar bingung dengan putranya. Dirinya sudah mencari lebih dari 5 ibu pengganti bagi putranya itu.
Ya, setelah tahu jika Kanwa adalah anak kandungnya, pria itu menepati apa yang dahulu dirinya katakan pada Sherina. Dia mengusir Nessie dari rumah setelah dirinya tak berhasil mendapatkan Sherina lagi.
"Kemana lagi aku harus mencari pengganti wanita itu!?" Ivander mengusap wajahnya kasar lalu segera keluar dari kamarnya.
Dia berjalan menuju kamar putranya dan menggendong bayi tampan itu. Dia menatal wajah putranya yang begitu mirip dengannya, lalu segera pergi ke rumah sakit.
__ADS_1
Sementara itu, Sherina yang baru saja selesai memasak tiba-tiba dikejutkan dengan apa yang saat ini berada di hadapannya.
"Marvin!?" Wanita itu segera mengalihkan tatapannya sesaat setelah dia melihat tubuh atletis milik pria itu.
Marvin yang melihat refleks menggemaskan dari Sherina, tersenyum tiba-tiba. Dia berjalan mendekat, dan menatap Sherina dengan tatapn bingungnya.
"Kau kenapa, Sayang? Kenapa langsung berbalik, hm?" Marvin berdiri di hadapan Sherina dan menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan wanita itu.
"Pakai pakaianmu. Apa yang kau lakukan?" Dengan begitu sabar Sherina menghela napasnya.
Sherina melotot dan memukul lengan kekar milik pria itu. Dia menggelengkan kepalanya dan membiarkan Marvin tertawa mengejek padanya.
"Aku berencana untuk menambah tato. Menurutmu, aku harus menambahkannya di mana?" Dengan begitu entengnya, pria itu bertanya kepada Sherina yang tengah membawa makanannya ke meja.
__ADS_1
"Kau tato saja dahimu itu. Jangan lupa blok semua bagiannya, supaya kau lebih tampan!" Sherina benar-benar tak habis pikir dengan pria itu.
Marvin berdecak dan memaksa Sherina untuk serius. Dia berulang kali mengatakan jika itu akan menjadi tato terakhinya. Tapi meskipun pria itu memberikan banyak alasan, Sherina tetap menolaknya.
"Menurut dengan perkataanku, atau hapus namaku dari tato sebelumnya?" Sherina menatap Marvin dengan tatapan tajamnya, yang langsung membuat Marvin terdiam.
Baiklah-baiklah, pria itu tidak berani melawan dengan apa yang sudah Sherina putuskan. Dia rasa nantinya akan ada bibit suami takut istri setelah dirinya menikahi Sherina.
"Kau tahu, sejauh ini hanya kau yang mampu melarang ku melakukan ini dan itu." Sherina yang mendengarnya hanya tersenyum tipis.
Dia berjalan ke seberang Marvin dan menyiapkan makanan untuknya dan juga Marvin. Pria itu menatap Sherina dengan tatapan dalamnya, dan menghentikan aktivitas wanita tersebut. Dia menggenggam kedua tangan milik Sherina.
"Sher, kau masih mengingat ucapanku malam itu bukan? Aku benar-benar ingin kau menjadi istriku. Aku bersyukur karena akhirnya kau bisa menoleh padaku dan memberikan kesempatan padaku. Aku benar-benar bersyukur atas hal itu."
__ADS_1
Keduanya terdiam selama beberapa detik di meja makan.
"Maukah kau mewujudkan semua mimpiku dan membesarkan putri kita bersama-sama? Sampai tua nanti."