Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 15


__ADS_3

Pada akhirnya Sherina pun turun ke bawah dan segera memasakkan untuk suaminya. Sekesal apapun dirinya pada sang suami, Sherina masih mengingat tugasnya sebagai seorang istri.


Mereka sama sekali tidak berbicara sepatah kata apapun. Ivander diam-diam mengamati istrinya yang terlihat begitu cekatan saat memasakkan untuk dirinya. Aneh rasanya, ini pertama kalinya dirinya meminta Sherina untu memasak.


"Apakah kau jadi mengajukan berkas perceraian ke pengadilan?" Entahlah, kenapa tiba-tiba Ivander ingin menanyakan hal tersebut pada Sherina.


Sherina yang sedang menyiapkan nasi gorengnya ke piring itu, seketika menghentikan tangannya. Helaan napas berat dari Sherina membuat Ivander terdiam.


Sherina membawakan nasi goreng buatannya, dan duduk di seberang suaminya. Wanita itu tidak menjawab. Dia memberi isyarat agar suaminya segera menyantap nasi goreng buatannya.


Ivander yang tak kunjung mendapatkan jawaban dari Sherina itu, segera menikmati nasi goreng buatan istrinya. Pria itu berhasil dibuat terkejut dengan rasa nasi goreng yang baru saja Sherina buatkan.


"Setelah aku pulang dari rumah sakit, tempo lalu, papa berubah pikiran. Memang pada awalnya, keputusan papa sudah bulat. Agar kita berpisah dan kau tidak dianggap sebagai pewaris utama papa. Tapi karena usaha mama, akhirnya papa luluh."


Saat Ivander masih fokus dengan makanannya, perhatian pria itu tertuju pada apa yang Sherina katakan. Ivander menghentikan kegiatannya, dan minum terlebih dahulu.


"Apa yang mama lakukan?" tanya Ivander sembari menggeserkan piringnya dan menghadapkan tubuhnya penuh ke istrinya.


Sherina menurunkan bahunya yang sejak tadi tegang, dan menghembuskan napasnya. "Lanjutkan makanmu, ini sudah terlalu malam untuk membahas hal ini."


Sherina yang tak ingin memperpanjang obrolannya denga suaminya itu, memutuskan untuk bangun dari duduknya. "Aku akan tidur, setelah selesai makan kau bisa membawa piring kotornya ke belakang."


Saat Sherina melewati suaminya dan berniat untuk segera kembali ke atas, tiba-tiba Ivander memegang tangannya.


"Aku mohon, Rin. Beri tahu aku," pinta Ivander dengan sungguh-sungguh.


Sherina menatap kedua bola mata indah milik suaminya. Benar, baru kali ini dia melihat perlakuan lembut sang suami. "Ini demi kebaikan kita berdua juga,"


Apa yang dimaksud Ivander? Kita berdua? Dirinya sama sekali tidak diuntungkan engan syarat yang diberikan oleh papa mertuanya. Dia di sana hanya untuk mempertahankan rumah tangga yang sudah dia bangun.


"Papa mau, kita harus sudah memiliki anak sebelum bercerai. Nantinya dia akan menjadikan anak itu sebagai penggantiku di surat waris." Jawab Sherina yang langsung membuat Ivander terdiam.

__ADS_1


Sherina yang melihat perubahan raut wajah dari pria itu pun mengembalikan mimik wajahnya ke datar. Nyatanya Ivander sama sekali tidak dapat berkutik.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan! Akui saja anak yang sekarang dikandung oleh Nessie sebagai anak kita. Mudah bukan?" ujar Sherina sembari menepuk bahu suaminya, agar sang suami tak cemas.


Tapi nyatanya hasil dari tepukannya di bahu tadi, membuat pria yang tengah kelaparan itu menjerit. "Arggh!"


Ivander yang sontak memekik itu membuat Sherina terkejut. Wanita itu baru tersadar jika bahu suaminya masih dalam proses penyembuhan.


"Astaga! Maafkan aku!" ujar Sherina dengan panik sembari menyentuh bahu suaminya.


Refleks wanita itu mendekatkan wajahnya dan menuip luka yang kini merembes darahnya. Sherina benar-benar merasa jika dirinya begitu bodoh.


"Aku minta maaf, aku benar-benar lupa!" Sherina meminta maaf dengan begitu tulus.


Posisi mereka saat ini benar-benar sangat dekat. Bahkan Ivander dapat melihat wajah istrinya itu dengan begitu dekat. Pria itu masih mengamati reaksi yang baginya sedikit berlebihan.


Luka itu tidak begitu terasa baginya. Dia menjerit hanya karena kaget, tadi. Tapi respon yang diberikan oleh Sherina benar-benar tidak diirnya duga.


Sherina terdiam dan menatap Ivander dengan tatapan kagetnya. Perlahan wanita itu memundurkan wajahnya dan berdiri dengan tegap.


"Kau berbicara apa?" tanya Sherina dengan degup jantung yang benar-benar tidak menentu.


Ivander yang terkejut dengan apa yang dirinya katkan itu, seketika menjadi gugup. 'Apa yang ku katakan? Kenapa kau bodoh sekali, Van?' batin pria itu.


"A ... aku mengatakan jika kau cantik. Apakah salah?" ulang Ivander yang semakin membuat Sherina terkaget.


Sherina perlahan menggelengkan kepalanya. Benar apa yang Ivander katakan, tidaklah salah jika Ivander mengatakan hal itu padanya.


"Ti ... tidak. Itu tidak salah sama sekali." Sherina yang gugup itu menjawab ucapan Ivander sembari mengalihkan pandangannya.


"Aku akan mengambilkan perban yang baru untukmu." Setelah mengatakan hal itu, Sherina langsung pergi dari hadapan suaminya.

__ADS_1


Sementara Ivander langsung menggigit bibir bawahnya karena benar-benar malu. 'Arggh, ini benar-benar gila!'


Begiitu juga dengan Sherina, wanita itu benar-benar salah tingkah setelah mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya tadi.


Setelah beberapa saat, Sherina kembali ke meja makan dan Ivander sudah melanjutkan makannya. Wanita itu meletakkan kotak obatnya di sebelah Ivander, dan bersiap untuk mengganti perban milik suaminya, yang sudah penuh dengan darah.


"Mau ku bantu menggantikan perbanmu?" tanya Sherina sembari menatap Ivander yang masih asyik mengunyah makanannya.


Ivander hanya mengangguk, "Kau berhak melakukannya." ujarnya disela saat dirinya sedang mengunyah.


Sherina menggelengkan kepalanya, dan membuka kaos bagian bahu milik Ivander. Ivander membantu istrinya, dan nyatanya hal itu benar-benar sangat membantu.


"Jika itu yang papa mau dan sudah kau setujui, lalu bagaimana caranya untuk mengelabui papa dan mama tentang kehamilanmu?" tanya Ivander setelah selesai makan dan mendongakkan kepala untuk menatap sang istri.


Sherina yang sedang mengoleskan salep di bahu suaminya itu, seketika berhenti dan menatap kedua netra milik suaminya.


"Bagaimana lagi? Kita harus berpura-pura. Katakan saja jika aku sudah mengandung," jawab Sherina dengan begitu enteng, tetapi berbeda dengan Ivander yang merasa tidak masuk akal dengan ide Sherina.


"Lalu bagimana kalau sampai mama datang dan ternyata perutmu tak kunjung membesar, hm? Ku kira kau pandai," sanggah Ivander sembari menggelengkan kepalanya.


"Diamlah atau ku pukul bahumu ini lagi!" Ivander tak menjawab. Pria itu terdiam dan masih bingung bagaimana cara untuk membohongi kedua orang tuanya.


Keduanya sama-sama terdiam, hingga Sherina telah selesai menggantikan perban milik suaminya. Sherina membereskan semuanya, dan membawa kotak obatnya.


"Mau tidak mau, kita harus pindah ke luar negeri agar kau bisa menikahi wanita itu sampai anak itu lahir."


Ivander terdiam mendengar apa yang Sherina katakan. Bahkan pria itu tak melihat sedikitpun rasa kecewa di wajah Sherina.


"Apa yang kau katakan?" Ivander mencoba meyakinkan pendengarannya dengan tatapan tak percayanya.


"Iya, aku memintamu untuk menikahi wanita itu. Bukankah anak yang ada dikandungannya itu merupakan anakmu? Maka nikahi dia. Saat dia lahir nanti, kita kembali kemari dan kita selesai. Mudah bukan?"

__ADS_1


__ADS_2