Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 52


__ADS_3

Ivander yang baru berhasil membuka pintu rumah Sherina itu, terkejut karena melihat Sherina tengah menangis. Dengan cepat dia langsung mendekat dan memeluk istrinya tersebut.


"Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?" Pria itu mengeratkan pelukannya pada Sherina.


Wanita itu masih diam, tak menjawab. Ia menumpahkan segala masalahnya di pelukan Ivander. Setelah hampir satu bulan dia memendam semuanya sendirian, dia merasa ada pundak yang menopangnya.


Ivander membiarkan Sherina merasa lega dengan menangis, lalu mengelus punggung kecil milik istrinya.


Selama membiarkan Sherina puas menangis, diam-diam pria itu menuntaskan rasa rindunya pada wanita yang bahkan sampai saat ini masih menjadi istrinya.


"Tenanglah, aku ada di sini." Ivander mengelus puncak kepala Sherina dengan penuh kasih.


Setelah beberapa saat, akhirnya Sherina mulai tenang. Wanita yang masih sesenggukan itu, menatap Ivander karena pria itu telah melepas pelukannya.


Hati pria itu membiru tatkala melihat wajah tirus istrinya. Bagian bawah matanya yang menggelap membuat Ivander merasa gagal menjadi suaminya.


"Sudah lega? Kau sudah bisa bercerita?" Dengan begitu lembut pria itu berkata sambil menyusuri wajah cantik di hadapannya itu dengan mata tajamnya.

__ADS_1


Sherina menghembuskan napasnya penuh dengan ketakutan sambil mengangkat tangan kananya. Yang mana terdapat hasil tesnya tadi. Tangannya yang bergetar hebat menunjukkan jika dia benar-benar ketakutan dengan apa yang menimpanya sekarang ini.


Sherina menunjukkan testpack tersebut pada Ivander, dengan tatapan kosong.


Dalam sekejap, tubuh Ivander menegang. Tatapannya terpaku pada benda yang pernah Nessie tunjukkan padanya, beberapa bulan yang lalu.


Entahlah, Ivander merasa dunianya berhenti seketika. Dia berharap jika hal itu hanyalah sebuah candaan.


"Kau mengandung?" tanya Ivander dengan tatapan kosongnya pada Sherina.


Wanita itu mengangguk, dan kembali menundukkan kepalanya. Dia menangis, malu dengan apa yang terjadi padanya.


"Siapa yang melakukan hal ini padamu? Apakah ini karena malam itu?" Tenggorokan pria itu terasa seperti tercekik.


Sherina terdiam. Dia tidak mungkin dengan gamblangnya mengatakan, jika Marvinlah ayah dari bayi yang sedang dirinya kandung. "Setelah aku mencoba menyadarkanmu."


Setelah mengatakan hal itu, Sherina mencoba bangun dari posisinya. Meninggalkan Ivander yang masih menekuk sebelah lututnya dengan tatapan kosongnya.

__ADS_1


"Pulanglah, aku ingin beristirahat." Sherina berkata lemah, sambil menghapus air matanya.


"Apakah pria itu Marvin? Diakah ayah dari bayimu?" Dari ucapan pria itu, terdengar sebuah kekecawaan yang begitu besar saat dia mengatakannya.


Sherina menatap Ivander yang matanya mulai memerah. Dia tak menjawab, dan langsung pergi dari hadapan Ivander dengan begitu saja.


"Astaga!" Ivander mengusap wajahnya dengan kasar, sambil menghembuskan napasnya dengan begitu berat.


"Ini semua salahku!" Ivander benar-benar menyesal. Ini semua terjadi karenanya.


Apakah ini karma dari perbuatannya di masa lalu? Masa di mana dirinya menghamili wanita lain. Dan saat ini istrinya dihamili oleh pria lain?


Ivander seketika merasa kehilangan akalnya. Tatapan pria itu begitu kosong. Tidak ada hal lain yang dirinya pikirkan selain istrinya yang saat ini tengah mengandung anak dari laki-laki lain.


Dia pulang ke rumahnya dan menghabiskan waktunya, untuk merenung di dalam kamarnya yang gelap. Dia memikirkan bagaimana kedepannya.


Apakah dia memang harus melepaskan Sherina, setelah ini? Tapi jujur saja, pria itu masih tidak rela jika harus melepaskan Sherina.

__ADS_1


"Jika kau melepaskannya, setelah tahu jika dia sedang mengandung anak dari pria lain, itu berarti cintamu tidak tulus. Seolah-olah kau hanya mengincar kegadisannya saja, tidak dengan hatinya. Kalau kau memang benar-benar mencintai istrimu, apapun kondisinya akan kau terima. Toh itu juga karenamu, 'kan?"


__ADS_2