Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 48


__ADS_3

Dengan begitu kasarnya, Ivander kali ini menahan leher milik Sherina. Wanita itu bahkan hampir kehabisan oksigen, jika dia tak menendang bagian utama Ivander.


Sherina menatap pria yang saat ini tengah terhuyung ke belakang, karena aksinya baru saja. Sherina dengan cepat langsung membenarkan bajunya yang sudah tak layak pakai, sembari berlari keluar dari toilet tersebut.


Air mata wanita itu masih terus berjatuhan, saat dia mencoba menjauh dari kamar mandi. Tubuhnya bergetar begitu dirinya berhasil menyandarkan tubuhnya dibalik tembok.


Sesaat setelah dirinya memastikan jika Ivander tak mengejarnya itu, meluruhkan tubuhnya ke lantai. Dia memeluk tubuhnya dengan tangisnya.


Dia tidak menyangka dengan apa yang Ivander lakukan padanya. Tak tahu apa salahnya, Ivander tiba-tiba menyerangnya dengan begitu menjijikan.


Sherina menangis dengan begitu histeris. Dia tidak menyangka, pria yang dia cintai itu hampir saja melecehkannya. Meskipun kini status mereka masih suami istri, tapi berbeda konsepnya karena yang Sherina tahu adalah jika keduanya sudah resmi bercerai.


Jantung wanita yang tengah menundukkan kepalanya ke lututnya itu, seketika berhenti saat merasakan jika ada yang mengelus kepalanya.


"Sayang, aku mencarimu sejak tadi. Kenapa kau berada di sini?" Suara itu. Ya, Sherina yakin itu adalah Marvin.


Dengan cepat Sherina langsung mendongakkan kepalanya dan memeluk, pria yang tengah berjongkok dihadapannya.


"Antarkan aku pulang, Vin. Aku takut," isak Sherina dalam dekapan Marvin.


Sementara Marvin yang mendengar tangisan Sherina dan baru menyadari penampilan wanita itu, seketika terkejut. Apa yang terjadi pada wanitanya ini.


"Apa yang terjadi padamu?! Siapa yang melakukan ini padamu, hm?" Dada pria itu seketika bergemuruh.

__ADS_1


Dia mengepalkan tangannya dengan sangat erat. Pria itu menggeretakkan giginya, saat mendengar Sherina menyebutkan nama Ivander.


"Dia yang melakukan ini padamu?! Tunggu disini, aku akan menghajarnya!" Marvin yang sudah berdiri dan hendak menyusul masuk ke dalam kamar mandi itu, segera dicegah oleh Sherina.


"Tidak! Kita pulang saja! Aku mau pulang," minta Sherina pada pria yang saat ini kembali memeluknya.


Karena tak ingin membuang waktunya, Marvin pun meyetujui permintaan Sherina. Pria itu segera melepas jasnya dan memakaikannya pada Sherina.


Setelah dia berhasil menutupi tubuh bagian atas milik Sherina, pria itu segera menggendongnya dan segera keluar dari klub.


Sherina benar, kemarin. Seharusnya dia tak membawa serta Sherina pada acara tersebut. Dia menyesal, karena dengan hal itu dia telah memberikan kesempatan pada pria biadab seperti Ivander untuk menyentuh wanitanya.


Selama dalam perjalanan, Sherina hanya terdiam dan memeluk tubuhnya. Wanita itu menatap keluar jendela dengan tatapan kosongnya. Tak ada percakapan antara keduanya di sepanjang jalan.


Wanita itu langsung menolehkan kepalanya ke samping, dan melihat perubahan wajah Marvion yang mulai memerah. "Sesuatu terjadi padamu?"


Marvin yang mendengar pertanyaan Sherina itu, menggelengkan kepalanya. Dia menahan sesuatu dari dalam dirinya, dengan melipat bibirnya ke dalam.


'Sial! Sepertinya ada yang memberikan sesuatu di minumanku!' batin pria itu sembari memejamkan matanya.


Keadaan jalanan yang macet itu, membuat Marvin bertahan mati-matian dengan dirinya.


"Aargh! Kenapa lama sekali!" teriak Marvin frustasi sembari memukul kemudinya.

__ADS_1


Sherina yang tiba-tiba melihat perubahan sikap Marvin, seolah menjaga jaraknya. Dia menatap Marvin dengan tatapan yang sama, seperti saat dirinya datang ke rumah Marvin malam itu.


"Vin," panggil Sherina lirih, yang membuat pria itu lagsung tersadar.


"Apa yang terjadi padamu?"


Pria itu hanya menggeleng lemah, dan mencoba meredamkan hasratnya. Dia berulang kali memejamkan matanya, dan berharap agar mobilnya dapat kembali berjalan.


Tak lama setelahnya, mobil yang ditumpangi oleh Sherina dan Marvin kembali berjalan.


Selama dala perjalanan, Marvin tak berhenti mengumpat karena tak tahan dengan apa yang memaksa untuk keluar dari dalam dirinya. Sherina sedikit gusar, karena pria itu mulai membawa mobilnya dengan keceepatan tinggi saat jalanan mulai sepi.


Pria itu menghembuskan napasnya dengan gusar dan mencengkeram kemudi mobilnya. Yang pada awalnya mereka sudah memutuskan untuk kembali ke rumah Sherina, tetapi kali ini Marvin mengubah keputusannya.


Pria itu membawa mobil sportnya memasuki perumahan elit di kawasan itu. Sherina tak mengatakan apapun, meskipun dalam hatinya dia kebingungan dengan apa yang Marvin lakukan.


"Kau bawa saja mobilku, pulang. Aku minta maaf karena tidak bisa mengantarmu pulang lebih dulu."


Setelah mengatakan hal tersebut, Marvin langsung keluar dari mobil dengan tergesa. Pria itu melangkahkan kakinya dengan cepat untuk masuk ke dalam rumah.


Sherina memutuskan untuk segera menyusul Marvin. Dia penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada pria itu. Dari gejala yang dia lihat tadi, dia seperti merasa teringat dengan sesuatu.


Sherina membuka pintunya, dan berjalan menuju kamar pria itu. Langkah cepat wanita itu mulai menapaki lantai, ketika mendengar teriakan Marvin.

__ADS_1


"Aargh!" Sheirna dengan begitu terkejutnya menatap apa yang dilakukan oleh pria itu.


__ADS_2