Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 107


__ADS_3

"Van, aku sudah menyiapkan kantong berisi asi untuk Kanwa. Jangan lupa dengan jadwal makanannya juga. Aku harus segera pulang, sekarang." Nessie yang terlihat tengah terburu-buru itu, menyempatkan untuk menolehkan kepalanya dan melongo saat melihat jika Ivander sama sekali tidak menggubrisnya.


Pria yang tengah menyandarkan tubuhnya di sofa itu, menatap kosong pada jendela yang ada di seberangnya. Entah apa yang Ivander kini tengah pikirkan, tetapi Nessie tidak ingin mengetahuinya.


"Van! Kau mendengarkan ucapan ku, kan?" panggil Nessie tidak sabaran yang langsung membuat Ivander tersadar dari haluannya.


"Ah, iya. Aku mendengarnya. Kau bisa pergi, sekarang. Biar aku yang mengurusnya." Ivander menegakkan tubuhnya dan menatap Nessie yang sudah hendak pergi.


"Jaga putramu. Aku akan menemuinya lagi setelah pulang dari Jepang. Jika ada apapun itu, langsung tanyakan saja padaku atau minta bantuan suster." Nessie menyampirkan selempangan tasnya di bahu, dan berjalan menjauhi Ivander serta putranya.


Ivander hanya mengangguk tipis, dan menatap kepergian Nessie dengan tatapan datarnya. Tatapannya beralih pada sang putra yang dengan begitu antengnya tengah menatapnya.


"Halo jagoan, papa! Hmm, kau tahu jika papa sangat merindukanmu?" Ivander bangkit dari duduknya dan menggendong tubuh sang putra yang sedikit berisi.

__ADS_1


Tidak ada yang mengira, pria yang dahulunya dikenal dengan aura susah diaturnya itu, kini menjadi bapak-bapak yang sangat mengemong anaknya.


"Tidak lucu bukan, jika papa merindukanmu, tapi kau justru merindukan ibu sambungmu?" Ivander menciumi leher sang putra yang membuat Kanwa kegelian.


"Ngomong-ngomong soal bibi Anne, papa baru ingat sayang. Sebentar, ayo kita hubungi dahulu." Ivander membawa putranya ke atas, dan masuk ke kamarnya.


Pria itu mengambil ponselnya, dan meletakkan sang putra di atas kasur. Dia mendial nomor seseorang, dan menunggu jawaban dari sana.


"Sudah, Tuan. Hari ini tadi, Nyonya Anne sudah bisa bertemu dengan putranya. Mereka masih tinggal di rumah yang dahulu, dan melanjutkan usaha bakery milik Nyonya Sherina."


Ivander terdiam sejenak mendengar penjelasan dari orang tersebut. Ada rasa lega yang langsung menyeruak di dalam hatinya ketika tahu jika anak yang selama ini Anne perjuangkan bisa kembali bersamanya.


Tapi tidak munafik, ada rasa penyesalan yang menggerogoti hatinya ketika membayangkan bagaimana kehidupan Anne setelah ini. Ingin rasanya Ivander membawa wanita itu kembali, dan membiarkannya membesarkan sang putra di sisinya.

__ADS_1


"Pesan kue darinya setiap hari, dan berikan target pesanan rutin untuknya. Selanjutnya, kau masih perlu menunggu aba-aba dariku."


Ivander mematikan panggilannya setelah membicarakan beberapa hal lain dengan orang tersebut. Pria itu menatap sang putra yang hanya bisa pasrah berbaring sembari bermain dengan jemari gembulnya.


"Kau rindu dengan bibi Anne?" tanya Ivander pada anaknya, seolah sang anak dapat menjawab pertanyaannya.


"Baiklah-baiklah papa tahu kau rindu pada bibimu yang cantik itu."


"Apa? Kau ingin bertemu dengannya? Kau ingin menemui bibi Anne bersama dengan papa? Hmm,"


Andai Kanwa sudah bisa berbicara dan mereaksi apa yang papanya ucapkan, paling pria itu sudah tertawa terbahak-bahak nantinya. Bagaimana bisa papanya mengatakan hal tersebut, seolah si bocah yang menginginkannya. Padahal jika ditelisik, justru sang papa lah yang menginginkannya.


"Tunggu kau sampai sudah bisa masuk sekolah, ya? Setelah itu kita jemput bibi Anne untuk kita berdua."

__ADS_1


__ADS_2