Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 72


__ADS_3

Sherina menatap kedua mata gelap milik pria itu. Tangan besar milik pria tersebut, menggenggam dengan hangat tangan kecilnya.


Sherina terdiam dengan air matanya yang kembali menetes. Dia merasa jika apa yang tengah terjadi padanya ini hanyalah sebuah mimpi.


"Sherina, kau tidak mendengarku?" ulang Marvin dengan suara yang semakin berat.


Wanita itu terlampau bahagia, sampai-sampai dia hanya mampu menatap wajah pria tersebut. "Vin,"


Belum jadi Sherina berbicara, Marvin lebih dulu berdiri dan menarik Sherina untuk ikut berdiri.


Ibu hamil tersebut terkejut ketika pria yang sejak tadi berada di hadapannya itu memintanya untuk berdiri. Dia mendongakkan kepalanya untuk bisa membalas tatapan tajam milik pria itu.


"Kali ini tidak ada penolakan. Ikut aku!" Pria itu membawa Sherina keluar dari ruang VIP yang ada di bandara tersebut, dan berjalan menuju ke tempat di mana tadi dirinya datang bersama dengan Bu Nita dan juga pemilik dari rumah yang dirinya beli.


"Marvin..." panggil wanita itu dengan lirih, ketika merasa jika tarikan yang Marvin berikan padanya terlalu membuatnya berjalan dengan tergesa.


"Bisakah kau perlahan sedikit? Aku sedikit kesusahan mengikuti langkahmu." Marvin yang mendengar ucapan Sherina itu, dengan cepat langsung menghentikan langkahnya. Dia menolehkan kepalanya ke belakang dan menatap wajah merah milik Sherina.


Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, pria itu segera menggendong tubuh Sherina dan membawanya berjalan keluar. Sherina bahkan terkejut ketika pria itu dengan begitu entengnya, membawa dirinya yang berbadan dua hingga mereka telah tiba di mobil.

__ADS_1


Selama dalam perjalanan, keduanya tidak berbicara satu sama lain. Hanya ada keheningan yang menyapa Sherina serta Marvin.


"Pergi ke katedral terdekat!" ucap Marvin pada sopirnya yang langsung membuat Sherina menolehkan kepalanya.


Antara terkejut dan kebingungan, wanita itu tidak bisa membohongi perasaannya saat dia mendengar perintah Marvin pada sopirnya.


Sherina menatap tangannya yang saat ini masih digenggam dengan erat oleh Marvin, yang mana terdapat cincin pemberian pria itu.


"Marvin," ucap Sherina mencoba memanggil Marvin, yang sama sekali tidak diindahkan oleh pria itu. Dia menggenggam tangan Marvin dan berharap jika pria itu menoleh padanya.


"Kau percaya padaku?" tanya Marvin tanpa menolehkan kepalanya pada Sherina, yang membuat ibu hamil tersebut terdiam.


Hati Sherina sedikit menghangat ketika mendengar ucapan Marvin. Dia menolehkan kepalanya dan mengangguk dengan yakin. Ya, belajar dari kesalahan yang kemarin, dirinya tidak ingin membuat hubungannya dengan Marvin berada di ambang kehancuran kembali.


Tidak lama setelahnya, mereka telah tiba di sebuah katedral mewah yang ada di pusat kota. Marvin manggang tangan Sherina, dan meletakkan jari-jarinya di antara jari-jari tangan Sherina sebelum akhirnya melangkah mendekat. Mereka melewati deretan bangku, setelah memasuki gereja tersebut.


Meskipun Sherina masih dibalut dengan kebingungan, wanita itu mencoba percaya kepada Marvin. Dia berulang kali menarik nafasnya, untuk meyakinkan dirinya. Hingga akhirnya mereka telah tiba di depan altar.


Sherina berdiri menghadap Marvin, dengan perasaan yang tidak dapat dirinya gambarkan. Tidak ada seorang pun, selain dirinya dan Marvin, serta sopir yang mengantarkan mereka masuk. Maklum saja, jam menunjukkan pukul 1 dini hari.

__ADS_1


"Sherina, berjanjilah di hadapan Tuhan. Berjanjilah agar kau tidak akan pernah mengkhianatiku, tidak akan pernah mengecewakanku, dan tidak akan pernah meninggalkanku. Tetaplah berada di sampingku, dalam semua keadaanku."


Sherina menahan napasnua saat melihat tatapan tulus milik pria-nya. Dia merasakan keyakinan pria itu, saat Marvin semakin mengeratkan genggamannya di tangannya.


"Sher, aku begitu mencintaimu. Aku bersumpah tidak akan pernah memiliki penggantimu, bahkan jika kau sudah pergi sekalipun. Aku berharap agar kau mempercayai perasaanku, yang bahkan Tuhan-pun sudah mengetahui semuanya dengan sebenarnya. Berjanjilah, Sher."


Wanita itu menitikkan air matanya saat melihat air mata Marvin turun membasahi rahang kokohnya. Perlahan Sherina mulai membalas genggaman Marvin.


"Vin, tanpa kau minta pun aku akan tetap melakukannya. Aku berhanji akan selalu berada di sampingmu dalam keadaan senang, susah, sehat, atau bahkan ketika kau sakit. Tidak akan ada penggantimu lagi setelah ini. Aku berjanji tidak akan pernah mengecewakanmu, tidak akan mengkhianatimu, dan tidak akan pernah meninggalkanmu. Percayalah."


Marvin menangis haru di hadapan Sherina. Pria itu tidak malu menunjukkan sisi bahagianya di hadapan Sherina. Bibir pria itu sedikit terangkat ketika Sherina mengangkat tangannya dan menghapus air mata pria itu.


"Jangan menangis. Aku mencintaimu," ucap Sherina dengan senyum bahagianya, yang langsung disambut oleh pelukan Marvin.


Pria itu memeluk Sherina dengan begitu erat, sambil berulang kali mengucap syukur. "Aku mencintaimu, Sher. Sangat-sangat mencintaimu."


Sherina hanya mengangguk, dan membiarkan tubuhnya merasa tenang berada di pelukan pria itu. Marvin melepaskan pelukan mereka, setelah merasa puas memeluk Sherina.


Tatapan keduanya bertemu. Napas keduanya juga kian memburu, seiring dengan wajah Marvin yang mulai mendekat. Pria itu mencium bibir Sherina dengan sangat lembut.

__ADS_1


"Kita kembali ke Indonesia. Kita mulai semuanya dari awal,"


__ADS_2