
Anne sama sekali tidak menjawab satupun pertanyaan yang Ivander berikan padanya. Dia mengeratkan genggaman tangannya di handle koper miliknya. Wanita itu menghela napasnya untuk beberapa saat, sebelum Ivander kembali berkata sesuatu padanya.
"JIka kau marah karena aku memiliki salah padamu, aku minta maaf, Anne. Kau tahu jika aku tidak akan pernah mengakui kesalahanku dan meminta maaf terlebih dahulu, tetapi kali ini aku benar-benar tulus. Aku minta maaf,"
Anne yang membelakangi Ivander itu hanya menatap datar ruang tamu yang sama sekali belum berubah. Dia memejamkan matanya sejenak, masih menghormati Ivander yang terus berbicara dengannya.
"Dan untuk Nessie, dia-"
"Van, cukup! Aku ingin kau dan aku memiliki batasan yang jelas, mulai saat ini. Anggap aku sebagai pekerjamu, tidak lebih! Aku tidak akan mencampuri bahkan ingin tahu dengan semua masalahmu. Jadi lakukan hal yang sama juga padaku. Tolong kerja samanya, Van."
Anne membalikkan tubuhnya dan menatap pria itu dengan serius. Sementara sang empu, dia mengepalkan tangannya erat-erat mendengar jawaban dingin yang Anne berikan padanya.
Tidak ada sahutan yang Ivander berikan. Mereka berdua sama-sama terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Anne menatap wajah penuh arogansi milik pria itu, dan menghembuskan napasnya.
__ADS_1
"Boleh saya masuk ke kamar Kanwa, Tuan?" ucap Anne dengan senyum damainya.
Ivander tida menyukai panggilan itu, jujur saja. Tapi ketika melihat senyum tulus yang dahulu Anne selalu berikan padanya, membuat pria itu merasa sedikit cukup.
Senyum tipis milik pria itu muncul di bibir tipisnya. Dia mengangguk tipis, dan memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana.
"Tentu saja."
"Sayang .... lama tidak bertemu, boy." Anne langsung duduk di tepi ranjang, dan mengelus punggung Kanwa yang tegah tengkurap dengan mainan yang ada di tangan kecilnya.
Ivander mengikuti Anne yang masuk ke dalam kamar putranya, dan berdiri di ambang pintu. Pria itu mengamati Anne yang terlihat sangat merindukan putranya.
"Kau tumbuh dengan begitu cepat. Kemarilah, ibu merindukanmu..." Anne segera mengangkat Kanwa dan mendudukannya di pangkuannya.
__ADS_1
Wanita itu memeluk Kanwa dengan begitu erat. Anne mengecup kening bayi berusia satu tahun lebih itu dan mendekapnya lagi.
"Bukannya aku sudah membelikan tiket pesawat untuk putramu juga? Lalu di mana dia?" Ivander yang baru menyadari jika Anne datang sendiri itu pun bertanya padanya.
Anne menahan dirinya untuk beberapa saat, dan memejamkan matanya. Wanita itu sudah berharap jika Ivander dapat memahami apa yang tadi dirinya katakan. Dia hanya ingin menjalani pekerjaannya dengan profesional, tanpa mencampurkan urusan pribadinya.
"Van, aku mohon tolong dengarkan aku sekali lagi. Aku hanya ingin bekerja dengan tenang, tanpa melibatkan kehidupan pribadiku. Jadi, tolong pahami ini baik-baik." Anne tidak menolehkan kepalanya untuk menatap Ivander.
Ivander mengeratkan rahangnya kuat-kuat, dan melihat punggung kecil milik wanita itu. Dia beralih menuju ruang tamu, di mana koper milik Anne berada.
Dia membawanya masuk ke dalam kamar Kanwa dan menata semua pakaian Anne dengan sukarela. Anne yang melihat hal itu sedikit terkejut. Ada apa dengan pria itu, dia bahkan menata pakaiannya tanpa berbicara sedikitpun.
"Kau tidur dengan Kanwa. Setelah ini, bersihkan dirimu. Kita ke rumah sakit setelah menjenguk Niskala dan Ailey."
__ADS_1