Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 80


__ADS_3

"Sayang, kita letakkan ini di sebelah ranjang kita saja. Kalau sudah sedikit besar nanti, baru kita pindahkan ke kamarnya." Marvin menatap ranjang bayi yang terletak di kamar putrinya.


Sherina memiringkan kepalanya dan menimang saran yang diberikan oleh suaminya. "Kau menginginkan seperti itu? Baiklah!"


Sherina dan suaminya akhirnya memindahkan ranjang kecil milik putrinya tanpa bantuan orang lain. Mereka akhirnya memindahkan beberapa barang yang bahkan sudah tertata rapi di kamar putri mereka, sesuai keinginan Marvin.


"Nah, seperti ini. Aku suka melihatnya." Marvin meletakkan kedua tangannya di pinggang, dan menatap istrinya dengan senyum mengembang.


"Kau lelah, Sayang?" tanya Marvin sambil mendekati Sherina yang tengah duduk di atas ranjang.


Sherina tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya dan membalas uluran tangan suaminya. Marvin berjongkok di depan istrinya, dan menegadahkan kepalanya untuk menatap wajah lelah istrinya.


"Aku minta maaf, ya? Seharusnya aku membereskannya sendiri." Marvin mengecup perut istrinya lalu menjadikan paha istrinya sebagai bantalan.


"Kapan perkiraan tanggal lahirannya?" Sherina mengelus belakang kepala suaminya dan memijatnya perlahan.


"Minggu-minggu ini." Marvin yang mendengarnya, segera mendongak.


Wajahnya yang terlihat sangat bahagia itu, menyingkirkan semua rasa lelahnya. "Aku ini ayah macam apa, bagaimana bisa aku tidak tahu jika putri kecilku ini akan segera lahir."


Sherina menatap wajah milik suaminya. Entah mengapa, tapi dirinya percaya jika firasat seorang istri, terlebih lagi ibu, tidak akan pernah salah. "Vin, kenapa aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi pada keluarga kita? Aku tahu ini hanya perasaanku, tapi kenapa seolah-olah aku benar-benar takut jika hal ini benar terjadi."


Marvin tidak berekspresi, wajahnya datar seketika. Tangan besar milik pria itu terangkat dan menggenggam tangan Sherina dengan erat.

__ADS_1


"Kita menikah pada dasarnya untuk menjalani hidup ini bersama-sama. Apapun nanti yang terjadi, kita hadapi sama-sama. Kau tahu bukan, setiap orang memiliki masa lalu. Seberapa pahitnya masa lalu pasangan kita, mau tidak mau harus kita terima. Kita tidak bisa mengubah masa lalu, kan?"


"Pun kalau kita memiliki masalah, entah itu masalah bersama atau hal lain, kita usahakan agar hal pertama yang harus dilakukan adalah berbicara satu sama lain. Kita meminimalisir kesalah pahaman di antara satu sama lain juga. Aku sudah mengambilmu sebagai istriku, di hadapan semua orang dan di hadapan Tuhan. Aku tidak lagi memiliki wajah untuk membuat diriku malu."


Sherina paham dengan apa yang dikatakan oleh suaminya. Dia tersenyum lembut dengan tatapan teduhnya.


"Aku tahu. Apa yang kau katakan ini benar." Dia mengelus rahang suaminya dan tersenyum bersama.


"Baiklah, aku akan masak makan malam terlebih dahulu." Sherina beranjak dari duduknya, meninggalkan Marvin yang masih duduk di lantai.


Sherina berjalan dengan setengah kesadarannya. Tatapan kosong wanita itu menyiratkan jika dirinya memiliki sedikit beban di pikirannya.


Wanita itu memasak makanan kesukaan suaminya, setelah mencoba menyingkirkan pikiran buruknya. Setelah smeua matang, dirinya memanggil sang suami yang masih berada di atas.


Wanita itu menatap perutnya dengan wajah sendunya. Dirinya tidak bisa membohongi diri sendiri. Nyatanya pikirannya benar-benar mengusik ketenagannya.


"Hmm, aromanya sangat lezat. Apakah kau memasak makanan kesukaanku?" Marvin turun dari tangga dan menghampiri meja makan yang sudah tertata masakan Sherina.


"Ya, aku memasak ayam kunyit kesukaanmu. Aku juga menggoreng beberapa untukmu." Sherina mengambilkan nasi untuk suaminya dan memberikan untuk Marvin.


Sherina duduk dengan tenang, dan memakan masakan buatannya. Wanita itu beberapa kali mencuri oandang pada suaminya yang sangat fokus dengan makanannya.


Sherina berdehem perlahan sebelum menegakkan tubuhnya. "Aku mempercayaimu, Vin."

__ADS_1


Marvin yang hendak menyuapkan makanannya lagi ke dalam mulut itu, seketika menghentikan tangannya. Dia menatap istrinya dengan alis yang mengerut.


"Kenapa, Sayang? Apa yang kau katakan?" Seolah tidak mendengar ucapan Sherina, pria itu bertanya kembali pada istrinya.


Sherina mendadak merasakan jika lidahnya terasa kelu. Dia merasakan sesak luar biasa ketika tidak bisa langsung menjawab pertanyaan suaminya.


"Aku percaya padamu. Aku percaya jika tak ada sedikitpun yang kau sembunyikan dariku." Sherina meremas tangannya di bawah meja sembari membalas tatapan bingung suaminya.


Marvin benar-benar tidak berpikir jika saat ini ada yang mengganggu pikiran istrinya. Dia meletakkan sendok dan garpunya, lalu menarik tangan Sherina agar diangkatnya menuju atas meja.


"Sayang, dengarkan aku. Aku tidak pernah menyembunyikan apapun itu darimu. Aku sudah terbuka denganmu. Aku menghargaimu sebagai pasanganku." Marvin menatap istrinya dengan penuh keyakinan.


Sherina mengangguk, dia tersenyum. Mencoba meyakinkan dirinya jika itulah yang sebenarnya. Marvin tidak akan pernah berbohong padanya.


"Ya, kau benar. Kau tidak akan pernah menyembunyikan sesuatu dariku. Aku percaya itu." Sherina membalas genggaman tangan suaminya.


Dia berulang kali menghirup napasnya dalam-dalam. Hal itu berhasil membuat Marvin tidak merasa jika dia baik-baik saja.


"Ada apa? Kenapa kau merasa seperti itu? Apakah ada sesuatu yang harus kita bicarakan? Jika memang ada, katakanlah. Aku tidak ingin ada masalah yang terpendam sendiri. Kita harus membicarakannya dan menyelesaikannya dengan cepat."


Sherina terdiam untuk beberapa saat. Dia berpikir keras, sebelum akhirnya dia menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak ada apa-apa. Tenanglah."


Marvin percaya pada istrinya. Dia meminta Sherina agar melanjutkan makannya dan segera kembali ke atas untuk beristirahat.

__ADS_1


'Semoga itu semua tidak benar.'


__ADS_2