Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 16


__ADS_3

"Mau tidak mau, kita harus pindah ke luar negeri agar kau bisa menikah dengan wanita itu sampai anak itu lahir. Paling tidak itu akan membantu kita dalam berbohong pada papa dan mama."


Ivander tidak menyangka, Sherina dengan begitu gamblangnya memberikan ide tersebut. Bahkan wajahnya terlihat begitu santai saat mengatakan jika suaminya harus menikah dengan orang lain.


"Kau bercanda, Rin?" tanya Ivander lagi yang langsung disambut dengan gelengan kepala dari Sherina.


"Aku tidak bercanda. Akhir Minggu ini kita datang ke rumah papa mama, sekalian pamitan." Sherina yang sedang berjalan menaiki tangga itu menolehkan kepalanya ke belakang pada suaminya.


Setelah kepergian Sherina, pria yang masih duduk di meja makan itu menghembuskan napasnya dengan begitu dalam. Entah mengapa, dirinya merasa tidak senang dengan rencana Sherina.


"Ini yang kau inginkan, bukan? Lantas mengapa kau tidak berbahagia dengan hal ini?" tanya Ivander pada dirinya sendiri, sembari mengepalkan tangannya.


Setelah lama terdiam, Ivander pun segera bangkit dan membawa piring kotornya ke belakang, sesuai permintaan Sherina. Selesai itu, Ivander menyusul Sherina yang bahkan sudah masuk ke dalam kamar.


***


Pagi harinya, Sherina yang selesai berganti pakaian kerjanya, segera keluar dari kamar. Saat Sherina telah tiba di meja makan, dirinya melihat sang suami yang juga baru selesai berganti pakaian kerja.


Wanita itu kembali mengalihkan atensinya untuk memasukkan bekalnya ke dalam tas makannya. Setelah itu, wanita tersebut berjalan menuju dapur untuk membuatkan teh hangat.


"Minumlah, aku masih menyisakan makanan di dapur. Jika kau ingin sarapan, kau bisa mengambilnya." ujar Sherina sembari menyuguhkan teh manis buatannya.

__ADS_1


Ivander lalu duduk di kursi sembari menatap Sherin yang terlihat buru-buru. "Apakah kau bisa menyiapkan sarapan untukku?"


Sherina yang hendak melangkahkan kakinya untuk pergi itu, seketika menghentikan langkahnya. Wanita itu menatap jam tangannya sembari melipat bibinya ke dalam.


"Baiklah, tunggu sebentar!" Sherina segera meletakkan kotak makannya lalu segera menyiapkan sarapan untuk suaminya.


Sembari menunggu Sherina mengambilka sarapan untuknya, Ivander meminum teh yang tadi Sherina buatkan untuk dirinya. Seumur pernikahannya yang hampir menginjak dua tahun, baru kali ini dirinya menghabiskan waktu yang sedikit lebih lama dengan istrinya.


"Ini, makanlah. aku harus pergi sekarang." Setelah sarapan untuk suaminya tersaji, Sherina pun bergegas untuk pergi ke kantor.


Ivander menatap kepergian Sherina dengan tatapan datarnya. Benar, istrinya itu selalu berangkat pagi-pagi ke kantor. Berbeda dengan dirinya, yang masih santai walau jam kerja sudah dimulai.


Ivander segera menyantap sarapannya dan bergegas ke kantor setelah semua selesai. Saat sedang mengunci pintu, dirinya dikejutkan dengan kedatangan Nessie.


"Aku sudah sarapan. Dan aku akan segera berangkat," jawab Ivander saat Nessie memegang tangannya.


Wanita itu menangkap sesuatu yang berbeda dari kekasihnya. Sejak kapan Ivander sarapan di rumah? Hal itu jarang terjadi bahkan mungkin tidak pernah terjadi.


"Kau sarapan? Apakah kau memesan makanan sendiri?" tanya Nessie sembari mengikuti Ivander yang tengah berjalan menuju mobilnya.


"Sherina yang memasak." Jawab Ivander lalu segera masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Nessie yang melihat hal tersebut, bergegas mengikuti apa yang Ivander lakukan. Dia duduk di samping Ivander yang mulai menyalakan mobilnya.


"Ini masih pagi, Sayang. Kenapa kau terburu-buru?" Wanita yang tengah mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah kekasihnya itu, sedikit terhenyak ketika Ivander menjauhkan wajahnya.


"Ingat, jam kerja hampir tiba! Kau tak seharusnya bersantai-santai saat datang ke kantor. Apalagi jabatanmu sebagai sekretarisku," kesal Ivander yang kemudian langsung melajukan mobilnya ke kantor.


Tak lama setelahnya, mereka telah tiba di kantor. Saat mereka masuk dan melewati lobi, beberapa orang yang ada di sana sempat membicarakan keduanya. Hal itu sempat terdengar di telinga Ivander.


Saat Ivander hendak menegur mereka, Nessie lebih dulu menahan Ivander dengan menggandeng jemari milik pria itu. Hal itu sontak membuat Ivander menatapnya dengan tajam karena gunjingan orang yang juga melihatnya.


"Apa yang kau lakukan!" Ivander menghempaskan tangan milik Nessie begitu mereka tiba di dalam lift.


Nessie benar-benar terkejut dengan apa yang kekasihnya lakukan. Dia tak habis pikir mengapa Ivander terlihat tak menyukainya.


"Apa yang ku lakukan? Harusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan ini!" tegas Nessie yang benar-benar tak terima dengan apa yang Ivander lakukan.


"Kau dengar bukan jika mereka semua sedang membicarakan skandal kita? Lalu kenapa bukannya menyanggah tapi kau justru menunjukkannya pada mereka semua?!" bentak Ivander dengan perasaan marahnya.


Nessie menggelengkan kepalanya tak percaya sembari tersenyum miring. Apa yang salah dengan pria ini.


"Aku sudah cukup sabar dengan semua sikapmu ini, Van! Apa yang membuatmu berubah?! Apa karena wanita murahan itu?!" ungkap Nessie dengan menggebu.

__ADS_1


Ivander yang hendak menjawab itu, menahan dirinya. Dia mengepalkan tangannya hingga uratnya menonjol.


"Kau terlalu berisik! Aku benci wanita yang terlalu banyak mengatur sepertimu!"


__ADS_2