
Dalam diamnya, Sherina sejak tadi menahan tawanya. Dia berusaha memejamkan matanya dengan bibir yang dilipat ke dalam.
"Sayang ..." ujar Sherina yang sudah lelah menahan kesalahpahaman yang ditunjukkan oleh suaminya.
Marvin yang sejak tadi sedan berusaha menenangkan emosinya, dengan tak menatap wanitanya itu, segera menolehkan kepalanya saat Sherina memanggilnya.
Wajah tegang milik pria beranak satu itu, seketika mengendur saat melihat istrinya yang tengah tertawa tanpa suara. Sherina bahkan harus menahan perut bagian bawahnya saking gelinya dirinya.
"Kenapa kau tertawa? Apakah ini lucu?" Dengan nada sengitnya, Marvin bertanya pada Sherina.
"Astaga, Sayang. Kau benar-benar sangat lucu. Sepertinya kau terlalu marah, sampai-sampai tidak sadar jika sejak tadi aku menahan tawaku dengan susah payah." Suaranya yang bahkan hampir tidak terdengar itu, berhasil membuktikan jika kini Sherina benar-benar merasa geli.
Marvin kebingungan. Dia menatap Sherina dengan tatapan tajamnya, dan menunggu wanita itu berhenti tertawa. Di sela tawanya, Sherina membuka amplop tersebut dan memberikannya pada sang suami.
__ADS_1
Mata tajam pria itu seketika melirik kepada Sherina setelah mengetahui apa yang ada di dalam amplop tersebut. "Puas tertawanya?"
Sherina mencoba menghentikan tawanya, dan menarik napasnya dengan teratur. Marvin menatapnya dengan kepala yang dia miringkan sedikit.
"Itu surat hak asuh, Sayang. Kenapa kau bisa berpikir jika aku ingin bercerai darimu?" Tangan kecil milik wanita itu mengelus rahang milik sang suami yang mulai ditumbuhi oleh jambang halusnya.
Marvin mengerucutkan bibirnya, dan mencium tangan sang istri sembari menolehkan kepalanya. "Ini tidak lucu, Sayang. Kau tidak tahu seberapa paniknya aku, tadi."
Sherina menganggukkan kepalanya, mengerti apa yang dipikirkan oleh sang suami. Dia memajukan wajahnya, dan mengecup singkat pipi milik suaminya.
"Aku beruntung memilikimu, Sher. Aku tidak akan pernah melepaskan mu, apapun itu masalahnya." Sherina mengangguk dan mengelus lengan kekar milik Marvin.
Pria itu membaca surat yang ada di tangannya, dan membacanya. Dia benar-benar tidak menyangka jika istrinya sudah bertindak sejauh ini.
__ADS_1
"Ailey Jennitra Chadsell. Nama yang indah seperti milik putri kita, bukan?" Sherina membacakan hasil idenya untuk menambahkan marga suaminya, di belakang nama anak sambungnya.
"'Kenapa kau melakukan semua ini, Sher?" tanya Marvin sembari menolehkan kepalanya, dengan mata yang masih tertuju dengan surat hak asuh milik gadis berusia 3 tahun yang tidak lain merupakan putri kandungnya.
"Dia tidak bersalah. Dia sama seperti Niskala. Aku menempatkan putriku, jika berada di posisinya." Sherina membalas tatapan suaminya yang sangat amat intens menatapnya.
"Vin, bagaimana pun dia merupakan anakmu. Jangan hiraukan ibu yang sudah melahirkannya. Fokuslah membesarkannya, tanpa membedakan dengan putri kita. Terima dia dengan lapang, maka aku akan melakukannya juga. Tolong hargai keputusanku, Vin."
Marvin terdiam, bingung hendak menyahuti perkataan istrinya dengan apa. Mengapa hati istrinya begitu besar. Sampai-sampai dia bisa menerima semua ini dengan begitu mudah?
"Aku tidak yakin jika kau sepenuhnya manusia, Sher. Kau terlalu sempurna. Bagaimana kaku bisa dengan tenang menerima anak itu, bahkan sampai mengambil langkah ini tanpa membicarakannya denganku?" ucap Marvin sembari menyelipkan anak rambut milik istrinya ke belakang telinga.
"Awalnya tidak semudah itu, Vin. Kau mungkin lupa darimana asal usulku dahulu. Aku besar tanpa pengakuan dari ayahku, Vin. Aku tahu bagaimana rasanya. Jadi, mari kita mulai semua dari awal. Kita bisa melewati semua ini, Vin. Masalah ini belum seberapa, dibandingkan dengan betapa kuatnya hubungan kita."
__ADS_1
Marvin menganggukkan kepalanya dan mengecup pelipis milik istrinya. "Sesuai permintaanmu, Sayang."