Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 55


__ADS_3

Beberapa bulan bahkan sudah berlalu.


Wanita yang perutnya sudah membesar itu, saat ini tengah menguleni adonan kuenya seperti biasa. Meskipun perutnya menghalanginya karena memberi jarak ke meja ulennya, dia sama sekali tidak merasa masalah.


"Astaga, Nak. Kenapa kau bahagia sekali, pagi ini? Apakah kau memiliki kabar baik untuk ibu, hm?"


Tangannya yang penuh dengan tepung berwarna putih itu, mengusap pelan perutnya menggunakan punggung tangannya.


"Anne?" Panggil Sherina dengan lembut sembari menolehkan kepalanya untuk mencari Anne.


Wanita itu mengernyit, ketika tak kunjung mendapatkan jawaban Anne. Dia perlahan meletakkan wadah berisi adonannya, dan berjalan mencari Anne.


"Anne? Dimana kau?" Dia berjalan mencari keberadaan wanita itu, hingga ke belakang rumah.


"Dia memang benar-benar memiliki kebiasaan yang unik." Sherina menggelengkan kepalanya dan kembali ke meja ulennya.


Dengan pertimbangannya, Sherina pun meneruskan pemanggangan kuenya tanpa bantuan dari Anne. Dia memasukkan adonannya ke loyang miliknya, dan memasukkannya ke dalam oven.


Ya, enam bulan sudah Sherina menggeluti dunia perkue-an ini. Dia memutuskan membangun toko kue miliknya, karena tak memiliki kegiatan untuk menghabiskan waktunya.


Saat sedang menunggu kue yang baru saja dia masukkan ke dalam oven itu matang, tiba-tiba suara pintunya diketuk dari luar. Di susul dengan suara panggilan dari seorang pria, yang menyuarakan namanya.


"Sherina?"


Dengan cepat Sherina langsung berjalan keluar dan membukakan pintunya. "Apakah itu orang yang selalu memesan kue milikku?"

__ADS_1


Sherina pantas saja merasa bingung. Pada saat ini, seharusnya Anne sudah berangkat untuk mengantarkan pesanan tetap yang pemilik toko kopi kota pesan padanya.


Pada awalnya wanita itu pun bingung. Karena sejak berdirinya toko kuenya, dirinya sedikit kesulitan untuk mempromosikan kue buatannya.


Tapi anehnya, dengan tiba-tiba Anne memberi kabar bahwa pemilik dari coffeeshop di kota memesan kuenya dengan jumlah yang sama setiap harinya. Jumlah yang cukup banyak untuk Sherina, sebagai pemula.


"Tunggu sebentar," sebelum membuka pintunya, Sherina membersihkan tangannya dan langsung membukanya.


Betapa terkejutnya wanita yang rambutnya disanggul asal itu, ketika melihat siapa yang bertamu sepagi ini.


"Ivander?" Dengan wajah kagetnya, Sherina menatap Ivander dengan tatapan terkejutnya.


Bagaimana bisa pria itu tahu keberadaannya, meskipun dia sama sekali tak memberi satupun celah kepada siapapun itu untuk mengetahui dimana tempat tinggalnya yang baru.


"Kau puas, setelah berhasil membuat suamimu kebingungan mencari keberadaan mu?" Pria yang lengan kemejanya digulung hingga ke siku itu, menatap Sherina dengan tatapan yang begitu dalam.


"Kenapa kau kemari? Lagipula kita tak lagi memiliki urusan. Jadi pergilah, biarkan aku hidup dengan tenang."


Ivander yang mendengar ucapan bernada pengusiran dari istrinya itu, menggelengkan kepalanya. Dia maju dan meraih tangan kecil milik Sherina.


"Kau ini masih istriku, Rin! Kau harus mengikuti apa yang suamimu katakan padamu!" Ivander berniat membawa pergi Sherina dengan cepat.


Tidak mudah baginya untuk menemukan Sherina. Sehari setelah dirinya menemukan Sherina, dia langsung berniat untuk menjemputnya dan membawa pergi istrinya tersebut.


Sherina terkejut mendengar penuturan Ivander. Tubuhnya menegang dengan tak percaya.

__ADS_1


"Ingat, kita sudah bercerai! Kau tak lagi berhak dalam hidupku! Kau bukan lagi suamiku. Pergilah!" Sherina mencoba mengibaskan tangan Ivander yang terus saja menggenggamnya.


Ivander mencoba menyabarkan dirinya dan melepas tangan Sherina. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam amplop yang dia bawa dan menyerahkannya pada Sherina.


"Ini adalah akta pernikahan kita. Aku tidak benar-benar meyetujui gugatan ceraimu, dahulu. Aku menipumu dan mengirimkan akta perceraian palsu padamu. Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Sher."


Sherina menggeleng. Ini tidak mungkin, bukan? Apa yang Ivander katakan ini? Dia masih istri sah dari pria tersebut?


"Tidak. Ini tidak mungkin. Kita sudah bercerai, aku yakin itu. Kau bukan suamiku lagi." Sherina seketika merasa dunianya berputar dengan begitu cepat.


"Tidak, aku tidak berbohong sayang. Kau masih istriku. Pulanglah, kita akan hidup bersama lagi."


Sherina merasakan jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Apakah semua ini lelucon? Jika memang bukan, seberapa banyak dosa yang akan dia tanggung atas kesalahannya ini.


Sherina menurunkan pandangannya dan menatap perutnya yang mulai membesar itu. Dia masih istri Ivander dan saat ini dia tengah mengandung anak dari pria lain?


"Tidak. Aku tidak mau. Pergilah! Aku bukan istrimu!" Mendadak Sherina merasakan kegugupan yang begitu luar biasa.


Entah apa yang dirasakan oleh ibu hamil tersebut, hingga dia merasa tidak nyaman saat Ivander ada di hadapannya.


"Tenanglah. Aku akan menerima bayi itu seperti anakku sendiri. Kau tahu? Mama mengatakan jika anakku sangat mirip denganku. Kau harus segera melihatnya, dan pulang bersamaku."


Sherina tetap menolak. Dia hendak masuk kembali ke dalam dan menutup pintunya. Tapi dengan begitu kasar, Ivander menghentikannya dan menarik Sherina kembali.


"Pulanglah! Apakah kau tak mendengarkan ucapan suami mu, hah!?" Saat Ivander hampir berhasil membawa Sherina, dirinya dikejutkan dengan suara yang berasal dari belakang tubuhnya.

__ADS_1


"Sentuh dia sekali lagi, maka akan ku hancurkan keluargamu!"


__ADS_2