
Malam harinya, Sherina tertidur dalam dekapan suaminya. Saat keduanya masih terlelap dalam mimpinya, tiba-tiba ponsel milik Marvin berdering.
"Astaga, ini bahkan masih malam." Marvin perlahan menurunkan kepala istrinya dari atas dadanya, dan bangkit dari tidurnya.
Pria itu menerima telepon sedikit menjauh dari Sherina yang masih tertidur. Samar-samar Sherina mendengar kekhawatiran yang terlontar dari bibir suaminya."Baiklah, aku akan segera ke bandara."
Marvin menutup teleponnya dengan suara rendah. Pria itu menatap istrinya yang bahkan terlihat sangat nyama tidurnya.
Karena tidak ingin membangunkan istrinya hanya untuk menata pakaiannya, pria itu lantas berjalan menuju ruangan yang ada di sebelah kamarnya, di mana pakaiannya dan sang istri berada di sana.
Marvin menyiapkan semuanya sendiri, dan setelah semua selesai, pria itu berjalan kembali ke kamarnya dengan koper yang sudah dirinya seret.
"Sayang," panggil Marvin lembut sembari mengusap rambut istrinya.
Sherina menggeliat sedikit lalu membuka sedikit matanya. Dia menatap wajah gelisah suaminya, dan dengan cepat langsung bangun.
"Kenapa?" tanya Sherina nyaris tanpa suara.
Tangan wanita itu mengelus telapak tangan sang suami yang berada di pipinya. "Aku harus terbang ke Singapura, saat ini. Aku pergi sebentar, ya?"
Sherina mengerutkan keningnya dan menatap Marvin dengan wajah kagetnya. "Kenapa mendadak sekali? Ini bahkan belum masuk dini hari."
Marvin tersenyum tipis, tanpa bisa menghilangkan kekhawatirannya. Dia menggenggam tangan tangan kecil istrinya lalu mengecup keduanya.
"Perusahaan sedang membutuhkan ku. Aku minta maaf karena harus meninggalkanmu lagi," ucap Marvin sembari memeluk istrinya.
Sherina membalas pelukan suaminya dan mengelus punggung kekar milik Marvin. "Tidak masalah, perusahaanmu lebih membutuhkanmu. Aku akan baik-baik saa, di rumah. Ada Ivander dan Anne di sini."
Sherina mencoba menenangkan sang suami. Dirinya juga mengatakan jika banyak pegawai yang menggantungkan hidupnya di perusahaan suaminya.
Keduanya berjalan ke bawah untuk mengantarkan Marvin yang ternyata sudah dijemput oleh sopir kantornya. Marvin kembali memeluk istrinya, sebelum benar-benar meninggalkan Sherina.
"Baik-baik di sini, Sayang. Apapun itu, jangan lupa beri kabar padaku. Jika ada sesuatu, segera hubungi Ivander atau Anne. Kau paham?" Sherina mengangguk paham.
Wanita itu melepas pelukan suaminya dan tersenyum sembari menatap wajah tampan Marvin. "Hati-hati di jalan. Jangan lupa memberi kabar juga padaku. Aku mencintaimu."
Marvin tersenyum lalu mencium bibir istrinya sejenak, sebelum mencium perut sang istri. "Jaga ibu ya, Sayang. Tunggu ayah pulang, oke?"
Sherina tersenyum tipis sambil mengelus belakang kepala suaminya. Tidak lama setelahnya, Marvin berjalan menuju gerbang dan segera pergi ke bandara.
Setelah kepergian Marvin, Sherina tidak langsung naik ke atas dan kembali tidur. Wanita itu justru mencari kegiatan agar dirinya tidak kembali tertidur. Mulai dari menata ulang beberapa hiasan dindingnya, hingga masuk ke kamar putri kecilnya.
"Niskala Denallie Chadsell." Sherina membaca nama putrinya yang bahkan sudah di lukis di dinding kamarnya.
Senyum wanita itu mengembang saat mengingat jika sebentar lagi dirinya dan Marvin akan segera menjadi orang tua.
"Sayang, jika memang benar apa yang kemarin ibu pikirkan, kamu tidak akan kecewa 'kan? Kita harus menerima masa lalu Ayah. Bukan begitu?" Sherina duduk di sofa yang ada di kamar putrinya, dengan tangan yang terus mengelus perutnya.
Lama terdiam, akhirnya Sherina menangis. Sekuat-kuatnya dia, dia tidak akan bisa menyembunyikan rasa sesak ini. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Tidak ada tempat untuknya bersandar walau hanya untuk menceritakan semua masalahnya.
"Apa yang harus ibu lakukan, Sayang? Ibu tidak mungkin menyerah hanya dengan satu masalah seperti ini." Sherina mengusap air matanya dengan rasa sesak yang akhirnya bisa dirinya keluarkan.
__ADS_1
Sherina terus meluapkan emosinya dengan menangis.
Lama kelamaan, Sherina mulai tertidur karena lelah menangis. Dia tertidur di sofa kamar putrinya hingga pagi hari.
Saat samar-samar Sherina mulai terbangun, dirinya bergegas mengambil ponselnya dan melihat, apakah suaminya sudah mengabarinya lagi atau belum.
[Sayang, aku sudah tiba. Aku akan menyelesaikan urusanku, dan segera kembali.]
Sherina tersenyum setelah membaca pesan dari suaminya. Dia membalas pesannya dan kembali meletakkan ponselnya untuk memasak.
Wanita itu mengurangi porsi masaknya karena hanya ada di dia di rumah. Dia menyelesaikan semua kegiatannya dan menoleh saat tiba-tiba bel rumahnya berbunyi.
Sherina berjalan keluar dan membuka gerbangnya. Tepat saat itu, seorang kurir mengantarkan sebuah surat dari rumah sakit padanya.
Sherina menatap amplop berwarna putih yang baru saja dirinya keluarkan dari dalam amplop besar berwarna cokelat. Dirinya juga mengeluarkan beberapa dokumen yang disertakan oleh dokter utusannya sebagai penguatnya.
"Sher, apapun hasilnya kau harus menerimanya. Ingat kata suamimu, tidak ada yang bisa mengubah masa lalu." Sherina menganggukkan kepalanya dengan harapan jika apa yang dirinya pikirkan sejak kemarin tidaklah benar.
Sherina membaca semua tulisan yang ada di selembar kertas tersebut, tak terlewat satupun. Matanya mulai berair diiringi dengan dada yang semakin terasa sesak. Napas wanita itu bahkan tersengal saat membaca hasil akhir dari test tersebut.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa probabilitas Marvin Chadsell sebagai ayah biologis dari Ailey Jennitra adalah adalah lebih dari 99%.
Mata Sherina seketika mengabur setelah membaca kalimat tersebut. Wanita itu bahkan tidak bisa melanjutkan sisa hasil testnya karena merasa jika dirinya seolah ditimpa batu besar.
"Apalagi ini, Tuhan." Sherina berpegangan pada daun pintu agar tubuhnya tidak terjatuh.
Dengan lembut Sherina menghapus air matanya dan berjalan mendekati sofa. Tapi tiba-tiba dirinya merasakan nyeri yang begitu hebat menghantam perutnya.
"Astaga, aku harus segera ke rumah sakit." Sherina mencoba untuk memaksa berjalan dan mengambil ponselnya.
Niat hati ingin pergi ke atas terlebih dahulu, tetapi dirinya menyadari jika ketubannya sudah pecah. Meskipun mendadak Sherina menjadi panik, tetapi dia tetap mengontrol dirinya sendiri.
"Tenang, Sherina. Beri kabar pada suamimu, dan minta bantuan pada Anne." Dengan tubuh yang bergetar, Sherina duduk di atas sofa dan langsung mengubungi suaminya.
"Sayang, apakah ada sesuatu?" Setelah panggilannya diterima, Marvin segera bertanya pada istrinya.
Sherina tidak langsung menjawab, dia meringis kesakitan saat menahan rasa sakitnya. "Tolong segera pulang. Niskala akan lahir," ucap Sherina lirih yang membuat Marvin terkejut.
"Benarkah!? Astaga, baiklah. Aku akan segera pulang. Aku akan meminta bantuan pada Ivander untuk mengantarmu ke rumah sakit."
"Kau berhati-hati lah, aku akan menunggumu." Setelah mati, tidak berselang lama pintu gerbangnya dibuka dari luar.
Datang dua orang dengan satu bayi berusia 8 bulan menuju rumahnya. Mereka segera membantu Sherina untuk pergi ke rumah sakit.
Saat Ivander menggendong tubuh Sherina, Anne yang melangkah terakhir sebelum keluar itu seketika menghentikan langkahnya. Dia menatap bingung pada kertas yang sebagiannya terbasahi dengan air ketuban Sherina.
Jemari lentik milik pria berkebangsaan Jerman itu, mengambil kertas tersebut dan membacanya. Meskipun dirinya tidak memahami artinya, tetapi ketika melihat nama Marvin dan juga nama lain milik seorang wanita, serta jumlah persentasenya membuat Anne menahan napasnya.
Sementara Ivander, dia yang tak kunjung melihat Anne keluar itu, segera menyusul ke dalam. "Kau akan ikut sekarang, kan?"
Tidak menjawab, Ivander ikut melihat apa yang ada di tangan Anne. "Marvin?"
__ADS_1
Kekagetan Ivander itu berhasil membuat Anne penasaran. "Apakah i-"
"Kita harus segera ke rumah sakit. Sherina lebih membutuhkannya." Anne mengangguk dan segera berjalan mengikuti Ivander.
Keduanya menuju ke rumah sakit, dengan Kanwa yang berada di car seat di sebelah Ivander.
Beberapa jam setelah Sherina menunggu di ruang inap untuk menunggu pembukaan, Ivander dan juga Anne masih setia menunggu Sherina. Bedanya Sherina sudah lebih tenang dan dapat mengontrol dirinya.
"Aku akan menyusui Kanwa terlebih dahulu. Jika ada sesuatu pada Sherina, panggil saja aku." Ivander menganggukkan kepalanya sembari menatap kepergian Anne dengan putranya.
Ivander berjalan mendekati Sherina dan duduk tepat di samping wanita yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
"Apakah ada sesuatu yang membuatmu tertekan?" Ivander mengelus puncak kepala Sherina seolah dirinya adalah adiknya.
Sherina dengan wajah pucatnya, menatap Ivander. Dirinya tidak menjawab, bingung.
"Aku ini kakakmu. Lupakan jika kau pernah menjadi istriku. Bukankah kau senang ketika mama dan papa menganggap mu anak?" Ivander mencoba membuka akses supaya Sherina bersedia berbagi dengannya.
Sherina masih belum menjawab. Dia mengalihkan pandangannya dan menatap jendela yang ada di hadapannya. "Marvin seorang ayah."
Ivander terdiam membisu dan menatap mantan istrinya itu dengan tatapan bingung. Sebenarnya setelah membaca surat hasil tes DNA tadi, dirinya sudah tahu. Tapi ketika mendengarnya secara langsung dari Sherina, nyatanya hal tersebut membuat Ivander diam membisu.
"Aku kecewa ketika tahu hal itu. Kecewa karena Marvin menyembunyikan hal sebesar ini dariku. Tapi aku tidak bisa menyalahkan keberadaan gadis itu." Sherina mulai menangis sembari menahan sakitnya.
Ivander memeluk Sherina dan mengelus punggung wanita itu. Dia mencoba menguatkan wanita tersebut, seolah merasakan apa yang Sherina rasakan.
"Kau harus berpikir dengan kepala dingin, Sher. Ini adalah pilihan hidupmu. Aku yakin keputusan apapun yang kau ambil nanti, merupakan keputusan yang paling baik."
Sherina tidak bergeming. Dia memejamkan matanya dengan kepala yang terasa panas. Belum beberapa saat, tapi tiba-tiba mata wanita tersebut terbuka.
"Van, tolong panggilkan dokter. Ini sangat sakit!" Ivander dnegan cepat langsung menekan bel dan berlari keluar.
Anne yang mengetahui jika sesuatu terjadi pada Sherina, segera meletakkan Kanwa yang sudah tertidur. Dia mendekati Sherina yang mulai panik karena pembukaannya bertambah.
Wanita yang sudah memiliki pengalaman itu, mencoba memberikan arahan pada Sherina. Dia memberikan beberapa tips seperti yang dahulu dirinya lakukan ketika melahirkan putranya.
Ketika Ivander datang dengan dokter, Anne segera menyingkir dan membiarkan dokter perempuan itu melihat kondisi Sherina.
"Kita lakukan proses lahirannya sekarang, ya? Kita bisa melakukan secara normal. Untuk suaminya, mohon agar bisa mendampingi selama di dalam ruang bersalin."
Ivander dan Anne saling menatap ketika dokter tersebut membawa pergi Sherina dengan brankarnya. "Mengapa Marvin belum juga datang? Seharunya dia sudah tiba sejak beberapa saat yang lalu, bukan?"
Ivander mengangguk dan segera menghubungi Marvin. Dia mengernyit ketika panggilannya tidak terhubung. Berbagai cara dirinya lakukan namun selalu nihil hasilnya.
Akhirnya dia memerintahkan salah satu orang terpercayanya untuk melacak di mana keberadaan Marvin saat ini.
Tidak lama, ponselnya kembali berdering. Dirinya berharap besar jika Marvin lah yang meneleponnya. Tapi hak tersebut tidak terjadi, justru orangnya lah yang meneleponnya.
"Apakah kau sudah bisa melacak dimana keberadaannya?"
Setelah langsung disambut oleh pertanyaan Ivander, orang tersebut segera menjawab di mana posisi Marvin sekarang.
__ADS_1
"Sial! Bagaimana ini bisa terjadi!? Kirimkan di mana lokasinya!"