
"Bukan tidak ada. Tapi akan lebih baik jika kita jangan menerapkan budaya kolot itu lagi, di cucu-cucu kita. Jangan sampai kisah Ivander dan Sherina kembali terjadi."
Seolah menengahi kontra antara anak dan ibu itu, seorang pria yang baru saja tiba bersama istrinya tersebut langsung memotong pembicaraan mereka.
"Tapi kan kita masih bisa berusaha agar setidaknya mereka tidak sama sepertiku dan Sherina. Kita bisa-"
"Kau pikir salah satu dari mereka tidak ingin berontak dan berbuat sepertimu!? Kau pikir mama tidak berusaha setidaknya sampai kalian saling jatuh cinta dan menerima satu sama lain!?"
Seketika keenam orang tersebut saling terdiam. Suasana seketika berubah menjadi sangat sunyi, tidak ada seorang pun yang ingin kembali memulai pembicaraan.
"Sudah, Ma. Lagipula sekarang kami sudah bahagia. Sherina punya Marvin dan anak-anak. Lalu Ivander memiliki Anne pula. Jadi tidak ada bedanya bukan? Pada akhirnya semua sama-sama bahagia?"
****
Hari pernikahan pun telah tiba.
Sherina menatap wanita dengan wajah yang begitu cantik setelah ditambah dengan polesan make up naturalnya. Tangan dengan cincin berlian yang menghiasi di salah satu jarinya itu, mulai terulur dan menggenggam erat tangan sang mempelai.
"Penantian mu tidak sia-sia, Ann. Aku harap kau bahagia di pernikahanmu kali ini. Aku yakin Ivander sangatlah mencintaimu." Sherina tersenyum manis, yang langsung disambut dengan senyum gugup Anne.
__ADS_1
"Ada kau dan Marvin dibalik ini semua, Sher. Terima kasih banyak." Keduanya saling menyalurkan energi melalui pelukan hangat mereka.
Tak berselang lama, tibalah waktu Sherina mengantarkan Anne menuju Altar. Digandengnya tangan dingin milik Anne, dan berjalan melalui jalanan altar, yang sudah ditaburi bunga oleh kedua putri kecilnya.
Ivander bahkan tidak bisa menahan tangisnya ketika melihat wajah cantik Anne yang tengah berjalan menuju padanya. Rahang pria itu mengeras, dia berusaha dengan kuat untuk menahan air matanya.
"Terimakasih, Tuhan." Hanya itu yang bisa pria itu katakan dalam hatinya.
Sementara Marvin, pria itu memindai dengan seksama sang istri yang terlihat sangat menawan saat menggandeng tangan sahabatnya. Tiba-tiba saja, kilasan masa ketika dirinya menikah dengan Sherina, empat tahun yang lalu kembali memenuhi otaknya.
Seolah mendapatkan ide, pria itu segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Antarkan cincin berlian keluaran terbaru, ke katedral. Sekarang!"
"Kalian akan menjadi anak-anak yang paling bahagia di dunia. Tenang saja, ayah ada di belakang kalian sampai kapanpun itu." Marvin mengelus puncak kepala milik kedua putra Ivander itu secara bergantian.
Setelah kembalinya Sherina dan kedua putrinya ke meja, Marvin segera mencium pipi sang istri dan mendekap pinggangnya. "Cantik." Pujinya yang membuat senyum Sherina tersungging.
Acara pun di mulai. Semua orang mengikuti acara dengan begitu khidmat. Sampai akhirnya setelah semua acar berakhir, dan Ivander kini telah sah menjadi suami Anne, kini giliran Marvin yang berdiri dengan begitu kokoh di atas altar.
"Baiklah, terimakasih atas perhatiannya hingga acara pernikahan sahabat saya berlangsung dengan lancar dan tanpa ada gangguan apapun itu. Dan selanjutnya, saya ingin meminta sedikit waktu Anda semua untuk diri saya sendiri."
__ADS_1
Semua orang yang mendengar ucapan Marvin itu sontak langsung kembali duduk ke tempat masing-masing. Mereka menatap Marvin dengan tatapan bingung, tak terkecuali Sherina yang masih duduk bersama keempat anaknya.
"Kali ini. Di katedral yang suci ini, di hadapan para tamu undangan yang begitu saya hormati, dan di hadapan Tuhan. Izinkan saya untuk kembali mengukuhkan pernikahan saya dengan istri saya, Sherina."
Ucapan Marvin itu nyatanya berhasil membuat Sherina terkejut. Dia akhirnya naik ke atas altar setelah teriakan banyak orang yang ditujukan padanya.
"Sherina, izinkan aku mengambil mu kembali, sebagai istriku di hadapan Tuhan. Aku sangat mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu. Terimakasih sudah menerima pria yang memiliki banyak kekurangan ini. Love you, Sher."
Sherina tidak dapat mengatakan apapun. Semuanya seolah tercekat di tenggorokan. Tepat saat Marvin menyematkan cincin ke jari manisnya, disaat itulah air mata wanita itu pecah.
Di detik itu juga, rius tepuk tangan dan sorakan bahagia menggema di aula katedral. Marvin memeluk sang istri dengan begitu erat, seolah tak ingin kehilangan istrinya lagi.
"Terimakasih banyak, Vin. Aku mencintaimu." Sherina membalas pelukan Marvin dengan tak kalah erat nya.
Tak berapa lama setelahnya, tiba-tiba saja anak-anaknya berebut ingin dipeluk olehnya dan Marvin. Mereka pun akhirnya memilih untuk mengalah dan memeluk putri-putri kecil mereka.
"Kita mulai semua sama-sama ya, Bun? Aku berjanji, tidak akan ada masalah lagi, setelah ini. Kita rawat anak-anak sampai mereka dewasa."
Sherina mengangguk dengan air mata yang tak kunjung surut. "Aku begitu beruntung karena dicintai dengan begitu hebat oleh pria sepertimu, Vin."
__ADS_1
...TAMAT...