
Sherina sama sekali tidak dapat mengucapkan sepatah kata apapun. Dia mematung, menatap sang suami yang terlihat tidak lagi memperdulikannya.
"Vin-" ucapan Sherina seketika terputus ketika tiba-tiba datang seseorang yang langsung memanggil namanya ketika tiba di koridor yang tidak jauh dari tempatnya duduk saat ini.
Tubuh Sherina seketika menegang ketika melihat tatapan kedua pria yang ada di hadapannya bertemu. Dia hendak berdiri dan mengucapkan sesuatu pada suaminya, tapi lebih dulu Marvin pergi dari hadapannya.
Kevin yang baru saja tiba, dan melihat suami Sherina langsung pergi begitu dirinya tiba itu, langsung terdiam. Instingnya mengatakan jika ada sesuatu yang tengah terjadi antara Sherina dengan suaminya.
Sherina menatap kepergian sang suami dengan perasaan yang berkecamuk. Kakinya seakan tidak dapat digerakkan, begitu juga dengan bibirnya yang terasa kelu.
Kevin dengan cepat mendekat, dan menatap Sherina yang masih berdiri mematung. Pria itu terdiam untuk beberapa saat, menatap guratan penuh ketakutan yang menyiratkan jika wanita di hadapannya ini tidak ingin kehilangan suaminya.
"Pergi, dan selesaikan semuanya. Kau berhak atas hidup dan rumah tanggamu, Sher." Ucapan pria yang sejak tadi menatapnya itu, membuat Sherina tersadar dan menolehkan kepalanya.
Air mata wanita itu menetes saat mendapatkan anggukan kepala dari pria yang tidak lain merupakan atasannya ini.
"Aku akan menjaga Niskala, untukmu. Semoga Tuhan masih menyelamatkan rumah tanggamu." ucap Kevin mencoba mensupport Sherina, dengan senyum tipisnya.
Setelah menimbang, Sherina pun segera menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan dan segera berjalan cepat untuk menyusul suaminya. Dengan tidak sabarnya, Sherina menekan tombol lift yang masih terus berjalan. Wanita itu sedikit gelisah, takut jika suaminya sudah lebih dulu pergi meninggalkan rumah sakit.
Tak ingin hal tersebut terjadi, Sherina segera beralih menuju tangga darurat dan turun hingga 8 lantai banyaknya. Dia tidak memikirkan apa risiko yang bisa dirinya dapat ketika kakinya dengan tergesa-gesa menuruni satu persatu anak tangga yang berjumlah ratusan itu.
Tepat setelah kakinya menginjak anak tangga terakhir, wanita itu masih bergegas melangkahkan kakinya dengan cepat ke lobi. Kepalanya meradar dengan cepat, mencari di mana keberadaan sang suami dan juga putrinya.
__ADS_1
"Astaga, Marvin..." lirih wanita yang begitu ketakutan setelah mendengar keputusan suaminya.
Benar, apa yang dirinya katakan pada sang suami selama ini, semata-mata keluar dengan begitu saja dari bibirnya. Dia tidak benar-benar menyadari apa yang alam bawah sadarnya katakan.
Mengetahui jika sang suami tidak lagi berada di rumah sakit, dengan cepat wanita itu bergegas menuju mobilnya. Dia langsung melajukan mobilnya menuju rumahnya.
Entah mengapa perasaan wanita itu, kali ini tidak dapat diekspresikan. Ada rasa kalut, bingung, dan ketakutan yang bercampur menjadi satu. Sherina menggenggam kemudinya dengan begitu erat untuk menyalurkan sesuatu yang tidak dapat dirinya gambarkan.
Tidak memerlukan waktu yang lama, akhirnya mobil Sherina pun tiba di halaman rumah. Dia dengan cepat langsung keluar dari mobil dan berlari ke dalam, ketika melihat mobil sang suami sudah terparkir di depan mobilnya.
"Marvin!" panggil wanita itu, dengan sedikit panik.
Langkah cepat wanita itu seketika terhenti, ketika melihat sang putri yang berdiri di ujung tangga dengan air matanya. Dia dengan cepat langsung mendekat dan menekuk kedua lututnya. Sherina memeluk putrinya dengan begitu erat, membiarkan gadis kecilnya menumpahkan semua air matanya.
"Kakak tenang, okay. Bunda lakuin ini demi kakak sama Niskala. Sekarang kakak masuk ke kamar, ya? Bunda mau bicara sama ayah dulu." Sherina mengelus puncak kepala anaknya, yang langsung dituruti oleh gadis itu.
Sherina memejamkan matanya sejenak, dia mencoba menahan rasa sesak yang begitu berat di dadanya. Wanita itu melipat bibirnya ke dalam, dan menarik napas dalam-dalam.
Sherina mulai bangkit dan menaiki anak tangga yang ada di rumahnya. Dia terus menatap pintu kamarnya, hingga setelah tiba di depan kamar, wanita itu sedikit mematung melihat apa yang dilakukan oleh sang suami.
Sherina menggigit bibirnya, dan mulai masuk ke dalam kamar. Mata wanita itu perlahan terasa sedikit memanas. Dia masih menatap punggung kekar yang saat ini tengah membelakanginya.
"Marvin apa yang kau lakukan?" tanya wanita itu dengan susah payah, pada sang suami.
__ADS_1
Marvin yang mendengar pertanyaan sang istri itu, menghentikan tangannya dan mengeratkan rahangnya. Dia menatap lurus ke depan untuk beberapa saat, sebelum akhirnya kembali memasukkan pakaiannya ke dalam koper.
"Marvin hentikan!" Sherina mencoba menghentikan suaminya meskipun suaranya sudah mulai bergetar.
Seolah tidak mendengar ucapan sang istri, Marvin terus melanjutkan kegiatannya. Dia terus mengeluarkan pakaiannya dari dalam lemari, tidak menghiraukan Sherina yang mulai meneteskan air matanya.
Lantaran tidak lagi bisa bersabar, Sherina mendorong kopernya hingga terjatuh, dan berdiri di hadapan Marvin. Mata wanita itu sudah memerah, dengan air mata yang juga telah membasahi kedua pipinya.
"Aku bilang berhenti, Marvin!" Sherina mengabaikan sosoknya yang terlihat begitu menyedihkan saat ini. Dia menatap kedua mata tajam yang juga tengah menatapnya saat ini.
"Sherina, menyingkirlah!" Hanya dua kata itu yang keluar dari bibir pria tersebut.
Sherina menatap tak percaya pada sang suami. Dia bernapas dengan tersengal, dengan perasaan tak habis pikir dengan sang suami.
"Aku bertanya, apa yang kau lakukan?" tanya wanita itu lagi pada pria yang saat ini tengah menatap bibirnya, yang mulai bergetar.
Marvin memindai wajah wanitanya itu dengan seksama. Dia kembali mengeratkan rahangnya sebelum memundurkan tubuhnya satu langkah.
"Sesuai yang aku katakan, aku akan pergi. Aku mengalah untukmu dan anak-anak." ucap Marvin sebelum akhirnya berjongkok dan merapihkan kopernya yang sengaja dijatuhkan oleh sang istri.
Sherina menggeleng tak percaya. Tubuhnya serasa tidak bernyawa saat ini. Sebegitu engganya kah sang suami untuk mempertahankan semuanya? Tidak inginkah pria itu mencoba memperbaiki semuanya dan menjelaskan pada dirinya jika memang terjadi kesalahpahaman di antara mereka?
"Baiklah, jika memang itu yang kau mau. Kau ingin kita berpisah bukan? Biarkan aku yang keluar dari rumah ini, ini rumahmu dan aku tidak berhak untuk apapun itu. Jadi mari kita selesaikan semua ini, sekarang juga."
__ADS_1