
Selesai menidurkan kedua putrinya, Sherina mulai bangkit dari posisinya. Dia berjalan membersihkan meja rias milik putrinya yang mulai beranjak besar.
Air mata wanita itu jatuh dengan begitu saja. Dia merasa gagal menjadi ibu yang baik untuk kedua putrinya. 4 tahun sudah dirinya melewatkan waktu untuk membesarkan Ailey dan Niskala.
Tatapan wanita itu sekarang beralih menuju cermin yang ada di hadapannya. Dipindainya tubuh yang saat ini terlihat sangat kurus, sepertinya karena sudah lama dirinya tidak mendapat karbo.
Dia kembali menangis, mengingat bagaimana menyedihkannya nasib yang dirinya terima selama ini. Mulai dari tidak di hargai dalam pernikahan, lalu diselingkuhi hingga wanita lain hamil, kemudian merasa bahagia karena akhirnya ada pria yang mencintainya sebesar Marvin. Tapi nyatanya itu semua hanya kebohongan, bahkan setelah dirinya mati-matian menerima kenyataan jika suaminya telah memiliki anak dengan wanita lain.
Tidak ingin meneteskan air matanya untuk sang suami, Sherina beranjak menuju ke balkon dan menatap rumah yang ada tepat di depannya itu, dengan perasaan tenang. Setidaknya masih ada Ivander dan Anne yang bisa dirinya repotkan.
"Astaga, aku hampir melupakannya." Sherina yang mengingat sesuatu itu, segera menutup pintu balkon, dan berjalan keluar dari kamar.
Tepat ketika dirinya membuka pintu kamar, Sherina terkejut karena Marvin sudah berdiri di sana. Pria itu menatapnya dengan tatapan penuh harapnya, yang sama sekali tidak di gubris oleh Sherina.
"Sherina? Aku ingin membicarakan sesuatu padamu. Bisa kita bicara terlebih dahulu?"
Dengan wajah datarnya, Sherina hanya diam dan tidak menjawab ucapan suaminya lalu memilih untuk pergi dengan begitu saja.
Marvin yang tiba-tiba ditinggalkan oleh Sherina itu, berniat menghentikannya. Tapi Sherina lebih cepat berjalan dan naik ke kamarnya yang berada di atas.
Marvin sedikit lega ketika melihat snag istri yang berjalan naik ke kamar mereka. Dia segera membuntuti dan berniat untuk membicarakan semuanya pada Sherina, malam ini.
Pria itu sedikit gugup sebelum masuk ke dalam kamar. Tapi setelah mengumpulkan semua keberaniannya, dia pun melangkah masuk ke kamar yang pintunya tidak tertutup.
"Sherina?" panggil Marvin mencoba mencari keberadaan sang istri, lantaran dirinya tidak terlihat berada di kamar saat ini.
Dia terus berjalan, hingga sampai di ruangan yang ada di sebelah kamar mandi. Menemukan Sherina yang tengah sibuk memilah beberapa dokumen penting yang memang disimpan di sana.
Melihat Sherina yang mulai mengambil beberapa dokumen pentingnya, membuat Marvin sedikit terkejut. Apa yang akan dilakukan oleh seng istri dengan semua dokumen-dokumen penting itu.
"Sherina, apa yang kau lakukan?" tanya Marvin dengan sedikit membungkukkan badannya, dan menempatkan kepalanya di atas puncak kepala milik sang istri.
Sherina masih diam membisu, sama sekali tidak menjawab pertanyaan yang Marvin berikan padanya. Setelah semuanya selesai dia pilih, Sherina pun bangkit dan beranjak ingin pergi.
"Sherina." Tahan Marvin yang langsung mencekal lengan Sherina, dengan perasaan yang tidak bisa dirinya jabarkan.
Sherina mengeratkan rahangnya dan masih berusaha untuk tidak menatap wajah suaminya. Tapi dengan paksa Marvin menghimpit rahangnya dengan kedua tangannya, dan menghadapkannya pada pria itu.
"Aku bertanya padamu. Apa yang kau lakukan?" tanya Marvin lagi dengan begitu lembut sembari menatap kedua mata tegas milik istrinya.
Pria itu mencoba menyelami perasaan yang sebenarnya milik istrinya. Tapi dia gagal. Tidak ada sesuatu yang sedikit hangat dari tatapan wanita itu.Marvin yang tiba-tiba ditinggalkan oleh Sherina itu, berniat menghentikannya. Tapi Sherina lebih cepat berjalan dan naik ke kamarnya yang berada di atas.
Marvin sedikit lega ketika melihat snag istri yang berjalan naik ke kamar mereka. Dia segera membuntuti dan berniat untuk membicarakan semuanya pada Sherina, malam ini.
__ADS_1
Pria itu sedikit gugup sebelum masuk ke dalam kamar. Tapi setelah mengumpulkan semua keberaniannya, dia pun melangkah masuk ke kamar yang pintunya tidak tertutup.
"Sherina?" panggil Marvin mencoba mencari keberadaan sang istri, lantaran dirinya tidak terlihat berada di kamar saat ini.
Dia terus berjalan, hingga sampai di ruangan yang ada di sebelah kamar mandi. Menemukan Sherina yang tengah sibuk memilah beberapa dokumen penting yang memang disimpan di sana.
Melihat Sherina yang mulai mengambil beberapa dokumen pentingnya, membuat Marvin sedikit terkejut. Apa yang akan dilakukan oleh seng istri dengan semua dokumen-dokumen penting itu.
"Sherina, apa yang kau lakukan?" tanya Marvin dengan sedikit membungkukkan badannya, dan menempatkan kepalanya di atas puncak kepala milik sang istri.
Sherina masih diam membisu, sama sekali tidak menjawab pertanyaan yang Marvin berikan padanya. Setelah semuanya selesai dia pilih, Sherina pun bangkit dan beranjak ingin pergi.
"Sherina." Tahan Marvin yang langsung mencekal lengan Sherina, dengan perasaan yang tidak bisa dirinya jabarkan.
Sherina mengeratkan rahangnya dan masih berusaha untuk tidak menatap wajah suaminya. Tapi dengan paksa Marvin menghimpit rahangnya dengan kedua tangannya, dan menghadapkannya pada pria itu.
"Aku bertanya padamu. Apa yang kau lakukan?" tanya Marvin lagi dengan begitu lembut sembari menatap kedua mata tegas milik istrinya.
Pria itu mencoba mencari sesuatu yang mungkin istrinya berikan lewat matannya. Tapi dia gagal. Tidak ada sesuatu yang sedikit hangat dari tatapan wanita itu. Hanya ada tatapan dingin tanpa rasa cinta yang wanta itu berikan padanya.
"Sayang-"
"Berhenti bersandiwara dan menyingkirlah. Kau menghalangi jalanku!" ucap Sherina ketus, yang membuat hati pria itu mencelos.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Jadi aku mohon padamu, lepaskan tanganmu!" tegas Sherina lalu menatap kedua mata milik suaminya dengan tajam.
Marvin menggelengkan kepalanya, dan langsung memeluk sang istri. Dia mulai menangis ketika berhasil memeluk tubuh kecil istrinya.
"Jangan seperti ini. Ku mohon..." lirih pria itu dada yang terasa begitu sesak dan suaranya tercekat di tenggorokan.
Sherina memejamkan matanya untuk sesaat. Dia rindu suaminya yang dahulu sangat mencintainya. Yang selalu bersikap manis padanya, dan memerlukannya dalam hal apapun .
"Marvin, lepaskan aku." Sherina kembali berucap dengan begitu tenang, setelah berusaha untuk menahan panas di matanya.
"Tidak. Aku tidak akan melepaskan mu. Aku minta maaf." Marvin kembali menggeleng seperti anak kecil, tak ingin melepaskan pelukannya.
Sherina terdiam untuk beberapa saat, sembari memikirkan rencana yang sudah dirinya rancang, sejak beberapa hari yang lalu.
"Aku akan mencari pekerjaan. Jadi kau tidak perlu lagi bertanggung jawab atas aku, dan putriku."
Tubuh Marvin seketika membeku, mendengar pernyataan Sherina. Sherina dapat merasakan jika suaminya menahan napasnya untuk beberapa saat.
Marvin menarik tubuhnya dari Sherina dan menatap kedua bola mata jernih yang saat ini tengah menetapnya itu. Marvin terdiam beberapa saat lalu menggelengkan kepalanya dengan sedikit tidak percaya.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak mengizinkannya. Kau istriku dan kau tanggung jawabku sampai kapanpun itu."
Marvin berkata dengan serius dan juga memegang kedua lengan milik istrinya.
Sherina tersenyum miris lalu mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Nyatanya ketika dirinya ditetap oleh suaminya itu, dia tidak bisa berbohong. Terlalu banyak kenangan manis yang mungkin sedikit sulit dihapus, walaupun dirinya sudah merasa kecewa dengan suaminya.
"Kau masih menganggapku sebagai istrimu?" tanya Sherina dengan tidak percayanya, yang membuat Marvin tidak dapat menjawab pertanyaan istrinya tersebut.
"Vin, dengarkan Aku. Aku mungkin sangat kecewa dengan semua yang aku tahu dari Ivander dan Anne. Tapi jangan pernah salahkan mereka dalam hal ini," ucap Sherina mencoba memulai pembicaraannya, dengan pria yang saat ini masih berstatus bagi suaminya.
"Kau tahu bukan? Tiba-tiba masuk rumah sakit dan dinyatakan koma, bukanlah permintaanku pada Tuhan. Jika ditanya, mungkin sama orang tidak akan pernah mau jika diberi kesulitan seperti itu. Aku tidak mau harus menginap di rumah sakit selama bertahun-tahun, menelantarkanmu sebagai suamiku, dan tidak bertemu dengan anak-anakku. Tapi aku bisa apa? Tuhan yang sudah memberikannya padaku."
"Andai saat itu aku bisa berbicara, aku hanya ingin mengatakan padamu, jika aku membutuhkanmu. Aku membutuhkan supportmu, agar setidaknya aku masih bisa bertahan sampai aku bangun nanti." Sherina membawa telunjuknya ke dada bidang suaminya, dan menekannya di sana.
"Tapi nyatanya aku tidak bisa melakukannya Vin. Dan kau pun tidak peka akan hal itu." Sherina membiarkan air matanya mulai menetes di pipinya.
"Jadi, setelah aku pikir-pikir mungkin kau tidak lagi membutuhkanku. Secara, empat tahun sudah berlalu. Dan kau pasti sudah mulai terbiasa dengan ketidakhadiranku dalam hidupmu. Benar?" Sherina menarik napasnya dengan panjang, sembari tersenyum tipis.
Marvin menggeleng. Hatinya seperti diremat habis saat mendengar ucapan istrinya. Semua ucapannya seakan tertahan di tenggorokan.
"Aku membutuhkanmu. Aku minta maaf," ucap Marvin hampir tanpa suara, dengan pelupuk mata yang sudah dipenuhi dengan air mata.
"Tidak... kau tidak lagi membutuhkanku. Aku lihat, kedekatan mu dan Alissa benar-benar sangat manis. Dia menyiapkan sarapan untukmu, membuatkan teh hangat setiap kau pulang bekerja, selalu datang kemari untuk berangkat bersama, dan bahkan dia membantu memasangkan dasimu. Sama seperti saat dulu aku melakukannya. Hmm... Jadi perannya sudah cukup melekat bagimu."
Sherina tersenyum tipis mengingat semua rekaman video CCTV yang dia lihat beberapa hari yang lalu, di rumah sakit.
Marvin semakin dibuat menyesal dengan semua perkataan Sherina. Dia mengatakannya dengan begitu tenang dan tanpa emosi, yang hal tersebut berhasil membuat Marvin berada dalam ambang malunya.
"Kita masing-masing dulu ya, Vin? Coba kau renungkan apa yang kau inginkan ke depannya. Katakan padaku apapun itu hasilnya. Perlu aku tekankan, aku tidak akan melarangnu, jika kau memilih wan-"
"SHERINA!" bentak Marvin dengan nada rendahnya, yang membuat ucapan Sherina terpotong.
"Aku sudah pernah bilang padamu untuk tidak membawa-bawa kata menjijikan itu! Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah sudi melakukannya!" Marvin seakan mendidih setelah mendengar jika Sherina dengan kedua tangannya menerima jika nanti Marvin memilih wanita itu.
"Dan aku tidak akan goyah dengan keputusanku!" Sherina menjawab ucapan suaminya dengan tegas juga.
"Aku tetap ingin lepas dari tanggung jawabmu! Dan kau tidak bisa melarangnya!"
Sherina segera pergi dari hadapan suaminya, dan berjalan turun ke bawah.
Dia terus berjalan, meskipun Marvin terus saja memanggilnya. Ketika tiba di kamar tamu, yang dahulu dia gunakan untuk menjadi kamar Marvin ketika tidak bisa berjalan, dia segera menutup pintunya dengan sedikit kasar, namun dengan cepat Marvin menahannya.
Tangan besar pria itu langsung membuka pintunya, dan dengan cepat langsung masuk ke dalam. Pria itu menutup pintunya, dan mengunci tubuh Sherina ke sudut tembok.
__ADS_1
"Kau bilang aku tidak bisa melarangmu, hm?" bisik Marvin tepat di sebelah telinga Sherina, yang membuat wanita itu menahan napasnya untuk beberapa saat.