
Sherina yang sudah diperbolehkan untuk pulang, setelah sehari semalam dirawat di rumah sakit itu, akhirnya merasa lega. Dia senang karena keadaannya dengan bayinya baik-baik saja.
"Apakah ada sesuatu yang akan kau beli, Sayang?" Sherina yang sejak tadi melamun, menatap jendela itu segera menolehkan kepalanya.
Gelengan kepala wanita itu membuat seseorang yang ada di sebelahnya tersenyum tipis. "Sayang, apapun masalahmu jangan pernah kau pikirkan dengan terlalu keras. Kasihanilah cucu mama."
Sherina mengangguk dengan senyum hangatnya. Dia menggenggam tangan wanita yang tengah menggendong cucu pertamanya itu, dengan sangat erat. "Percaya sama Sherina ya, Ma?"
Mama Ivander menganggukkan kepalanya. Dua pria yang ada di depan itu hanya menyimak apa yang kedua wanita itu bicarakan. Beberapa kali Ivander mencuri pandang pada Sherina melalui spion tengahnya.
"Sher, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku. Kau paham?" Ivander menolehkan kepalanya sejenak, yang langsung disambut dengan anggukan Sherina.
"Tentu saja. Terimakasih sebelumnya." Wanita itu mengalihkan pandangannya ke putra Ivander.
"Rencananya, siapa yang akan menjadi ibu susu untuk Kanwa, Ma? Apakah mama sudah mencarinya lagi?" Sherina mengelus pipi bayi itu.
"Belum. Mama bahkan bingung harus dengan cara apa supaya Kanwa bisa mendapatkan ASI lagi." Setelah terdiam beberapa saat, mama Ivander menatap Sherina.
Sherina yang sudah memikirkannya sejak kemarin itu, langsung menyiapkan ponselnya. Wanita itu mengulurkan ponselnya dan mencoba memberikan saran pada mamanya.
"Sherina memiliki kerabat, di dekat rumah. Dia wanita yang sangat baik. Mungkin dia sedikit berbeda dengan kita, karena dia merupakan penduduk asli di sini. Sherina sudah berpikir, dan berani mengusulkan dia ke mama. Kita tidak tahu, Kanwa bisa menerimanya atau tidak. Tapi tidak ada salahnya, jika kita mencoba terlebih dahulu."
Sherina memberikan potret wajah Anne pada mamanya.
__ADS_1
Wanita yang sudah berusia lebih dari setengah abad itu, merasa takjub saat melihat wajah cantik Anne. "Dia sangat cantik dan keibuan."
Sherina menganggukkan kepalanya setuju. Dia menggeser fotonya dan memberi pandangan pada mamanya.
"Dia pernah bercerita jika anaknya dibawa pergi oleh mantan suaminya. Bukankah itu artinya dia sudah bisa menyu*sui?" Mama Ivander mengangguk.
"Berikan mama nomornya. Mama akan menghubunginya, nanti." Sherina menurut dan langsung mengirim nomor Anne.
Lama mereka berbincang, akhirnya mereka telah tiba di depan kediaman Sherina. Mereka semua keluar dan berbincang serta bercanda di rumah Sherina.
Ditengah perbincangan mereka, Kanwa tiba-tiba menarik perhatian semua orang yang ada di sana, ketika dia tertawa lebar saat melihat Anne yang datang mendekat. Ya, Sherina memanggil wnaita itu atas perintah mamanya.
"Hei, lihatlah. Cucuku bahkan sudah bisa tertawa!" Papa Ivander yang melihatnya itu dengan cepat langsung berbicara.
Dia mendekat pada Sherina, dan berdiri di belakang Sherina.
"Anne, ini adalah mamaku. Berikan dia salam," ucapnya sembari menarik tangan Anne agar maju dan tak bersembunyi di belakangnya.
Anne menyapa mama Ivander dengan nada lembutnya, yang membuat ketiganya tersenyum. Berbeda halnya dengan Ivander. Pria itu sama sekali tidak mengeluarkan ekspresi apapun.
Sejujurnya dia tidak yakin dengan wanita ini. Dia berpikir jika tidak akan ada bedanya dengan pengasuh-pengasuh Kanwa yang terdahulu.
Mereka berbincang dengan waktu yang cukup lama, serta membahas tentang niat mama Ivander untuk membawa Anne.
__ADS_1
"Sher, jika aku ikut dengan mereka, lalu dengan siapa kau disini? Aku lebih takut jika terjadi sesuatu denganmu dan bayimu." Anne yang sudah ditunggu di mobil oleh keluarga Ivander itu, masih berdiri sambil menggenggam tangan Sherina.
"Hei tenanglah. Kau masih diperbolehkan untuk menjengukku. Lagipula Kanwa lebih membutuhkanmu. Tunjukkan jika kau bisa merawatnya. Bukankah kau pernah mengatakan padaku, jika kau merindukan anakmu? Anggap Kanwa adalah putramu, An."
Setelah dimantapkan oleh Sherina, wanita itu akhirnya pergi bersama dengan Ivander. Dalam sisa sinar senja, wanita itu menatap kepergian mobil BMW berwarna hitam yang menjauh dari halamannya.
Setelah benar-benar puas berada di luar rumah, Sherina segera melangkahkan kakinya untuk masuk. Dia menutup pintunya, dan berjalan menuju ke pintu yang ada di bawah tangga.
Tangan wanita itu terulur dan membuka pintunya. Dia seketika mencium aroma khas milik ayah dari putrinya. "Vin?"
Air mata wanita itu seketika merembes saat dia mengingat Marvin. Dia akui jika dia kalah. Dia bahkan sudah kembali merindukan pria itu. "Aku menyesal karena mengatakan itu."
Dia menatap ruangan itu dengan dada yang begitu sesak. Setelah beberapa saat, dia memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Dia tak lupa mengunci pintunya agar dapat kembali ke kamarnya.
Malam harinya, Sherina yang merasa jika dia sangat lelah itu, memutuskan untuk segera pergi tidur. Dia tidur menghadap ke jendela yang terutup oleh tirai, sambil menatap kosong. "Kau tak merindukanku, Vin?"
Jika boleh mengaku, dirinya begitu menyesal setelah dengan bodohnya dia memutuskan hubungan dengan Marvin secara tidak langsung. Bukan hanya menyesal, bahkan hal tersebut menjadi hal paling dirinya benci.
Setelah mengatakan hal tersebut dengan lirih, perlahan wanita itu mulai memejamkan matanya. Dia tidak memperdulikan air matanya yang masih membasahi kedua pipinya.
Tepat saat tengah malam, Sherina samar-samar melihat pergerakan dari balik cahaya bulan yang masuk melalui celah ventilasi di kamarnya. Entah salah melihat atau efek mimpi, dia melihat seseorang yang tengah melepas kemejanya dengan begitu kasar di depan sana.
"Sayang,"
__ADS_1