
Sherina yang sudah mulai terpejam itu, menghela napasnya ketika merasakan pelukan di belakang tubuhnya.
"Sudah kembali? Dari mana?" tanya Sherina tanpa membuka matanya.
Marvin yang mengetahui jika sang istri ternyata belum tidur, segera bangkit dari posisinya. Dia menatap Sherina yang masih betah memejamkan matanya.
"Kau belum tidur, Sayang? Mmm ... Aku kira kau meninggalkanku." Marvin mengecup bahu istrinya, dan memeluk tubuh berisi milik Sherina.
Sherina tidak menjawab pertanyaan retoris tersebut, dan lebih memilih untuk menjadikan tangannya sebagai bantalannya. Dia mengabaikan Marvin untuk beberapa saat.
Marvin kembali berbaring, menghadap sang istri yang justru memunggunginya. Pria itu menciumi punggung istrinya dengan penuh cinta. Tangannya yang kekar terulur untuk menyentuh tangan kecil milik Niskala.
"Sayang, kamar Ailey kita pisah saja atau dijadikan satu dengan Niskala?" Meskipun dirinya tahu jika sang istri sudah mulai tertidur, Marvin tetap saja mengajukan pertanyaan pada istrinya.
Sherina rasa dirinya sudah tidak mampu menjawab pertanyaan yang diucapkan oleh suaminya. Dia membuka matanya sejenak, sembari menarik napas.
__ADS_1
Matanya yang merah seolah memberi tahu jika dirinya hampir kepalang tidur. Tapi ucapan suaminya benar-benar mengganggunya.
"Bagaimana jika mereka dijadikan dalam satu kamar saja? Selain hal itu memudahkan kita dalam hal pengawasan, hal itu juga membantu mereka menjalin ikatan batin. Bagaimana menurutmu?"
Sherina hanya berdehem dan mengiyakan apa yang suaminya katakan. Dia semakin pusing ketika pria yanng berada di belakang tubuhnya ini terus-terusan memberinya pertanyaan yang bahkan tidak harus dijawab untuk mengetahui jawabannya.
"Marvin ... AKu mohon biarkan aku istirahat sebentar. Aku benar-benar lelah, Vin."Sherina berkata dengan suara lelahnya.
Marvin sadar akan hal itu. Dia mengendurkan pelukannya pada Sherina, dan berharap agar Sherina tidak merasa terganggu dengannya.
"Jangan dilepas! Peluk saja." Sherina yang merasa jika suaminya hendak melepaskan pelukannya itu, segera menahan tangan kekar milik Marvin yang hendak terlepas.
"Ailey dan Niskala mulai masuk playground, kemudian sekolah menengah, kuliah, bekerja, lalu menikah. Hmm, sebentar lagi kita akan menua, Sayang."
Marvin mengelus perut istrinya, dan membayangkan betapa senangnya dirinya ketika menyaksikan kedua putrinya tumbuh dewasa.
__ADS_1
Marvin terdiam karena tidak mendapati sahutan dari istrinya. Dia tersenyum sejenak, dan tiba-tiba dirinya teringat akan sesuatu.
"Sayang, jangan tidur terlebih dahulu. Jawab satu pertanyaanku ini. Terakhir!" ucap Marvin sembari menggoyangkan tubuh istrinya
Sherina menghembuskan napasnya dengan sedikit kasar. Tidak tahu lagi dengan cara apa untuk membuat suaminya paha dengan kondisinya.
"Bagaimana tanggapanmu jika seorang suami memutuskan untuk menikah lagi?" tanya Marvin sembari menaikkan kepalanya, dan dirinya letakkan di lengan sang istri.
Dalam sejenak, Marvin mengaduh kesakitan ketika mendapat satu cubitan di telinganya.
"Sayang! Aku mohon lepaskan, Sayang! Ini sakit!" Marvin mengelus punggung Sherina dengan perlahan, saat wanita itu kini tengah menatapnya dengan mata merahnya./
"Menikah lagi kau bilang? Sepertinya kau sudah bosan hidup ya..." Sherina membalikkan tubuhnya, dengan tangan yang masih menjewer telinga suaminya.
"Bu ... Bukan aku, Sayang! Aku hanya bertanya!" teriak Marvin mencoba menjelaskan pada istrinya.
__ADS_1
"Aakh! Sayang aku mohon!" minta Marvin memelas pada istrinya agar dilepaskan oleh Sherina
"Berani kau macam-macam. Aku akan memotong barangmu sampai habis!"