
Seorang wanita yang masih terbaring di atas brankar itu, perlahan merasakan sesuatu yang menyerang sistem pernapasannya dengan tiba-tiba. Dia merasakan jika dadanya seolah terangkat teratas lengkap dengan rasa sakit yang luar biasa, menghantam tubuhnya.
Dalam hitungan detik, kedua mata wanita itu terbuka. Napasnya yang tidak teratur, diiringi dengan mata yang masih buram itu membuatnya mulai mengatur ritme napasnya.
Sherina sejenak memejamkan matanya untuk meredam rasa sakitnya, dan menormalkan pernapasannya. Setelah beberapa saat terdiam, wanita itu mulai membuka kedua netranya dengan perlahan.
Rasa ingin bicara yang ada di bibirnya, sama sekali tidak bisa dirinya keluarkan. Entah mengapa dia sama sekali merasa tidak memiliki energi, walau hanya untuk mengeluarkan sepatah kata pun.
Dia sadar jika saat ini dirinya berada di rumah sakit. Hanya ada suara alat pendeteksi jantung, dan beberapa alat yang lain, yang memenuhi telinganya.
Perlahan air mata wanita itu menetes, ketika satu persatu ingatannya mulai kembali. Sherina membasahi bibirnya yang berada di dalam alat nebulizer yang menutupi mulutnya. Dia mulai menatap sekeliling, dan sama sekali tidak menjumpai tanda-tanda keberadaan suaminya.
"Vin," panggil Sherina lirih tanpa suara, sembari mencoba mengangkat sebelah tangannya.
__ADS_1
Dia mulai menangis, meskipun tanpa suara. Dia mencari suaminya, pria yang sangat dirinya cintai. Tapi apa dayanya, Marvin tidak ada di sana dan hanya ada dirinya seorang.
Karena terlalu lelah, Sherina pun mulai menyerah. Dia mencoba meraih bel yang ada di sampingnya, meskipun hasilnya sangat nihil. Yang ada dirinya hanya bisa mengotori lantai karena tidak sengaja menjatuhkan vas kecil yang ada di nakas sebelah. Akhirnya Sherina menyerah, dia tidak lagi melakukan apapun.
Tidak berselang lama setelah itu, suara langkah kecil milik seseorang mulai berjalan memasuki ruangan milik Sherina. Sherina yang tidak dapat langsung peka akan hal itu, masih setia memejamkan matanya dan mengembalikan energinya.
Langkah kaki tadi seketika berhenti, dan dia berdiri menatap kekacauan yang ada di hadapannya. Mata tenang itu mulai memindai apa yang kemungkinan baru saja terjadi, dan menatap Sherina yang sudah berubah posisi, dengan selimut yang sedikit terbuka.
Suara batuk milik perempuan yang masih berbaring di atas ranjang itu, nyatanya berhasil membuat tubuh orang tersebut menegang. Dia memastikan apa yang baru saja dirinya dengar dengan berjalan mendekat.
"Bunda..."
Mata wanita itu seketika terbuka ketika mendengar suara yang begitu tenang menyapa pendengarnya. Dia dengan cepat langsung mencari asal suara tadi, dan lebih terkejut lagi ketika melihat siapa yang memanggilnya.
__ADS_1
"Kakak kangen, Bun." Tubuh ideal gadis itu dengan cepat langsung mendekat dan memeluk sang ibu dengan begitu erat.
Gadis itu menangis dengan tersedu-sedu di pelukan ibunya. Pukulan hebat saat ini tengah Sherina rasakan. Tubuhnya membeku, otaknya tidak dapat bekerja dengan cepat, dan napasnya seketika tercekat dalam waktu singkat.
"Ailey mau tidur sama Bunda, sama Kala. Kita pulang, Bun..." Dia tidak dapat lagi mengatakan hal lain. Hanya itu yang selalu dirinya inginkan.
"Ailey?" tanya Sherina dengan bingung, yang membuat gadis dengan rambut sepunggung itu menarik tubuhnya dari pelukan sang ibu.
Dia menatap ibunya dengan tatapan kecewanya. Gadis kecil itu mengambil tangan ibunya, dan membawanya ke pipi merah mudanya.
"Bunda lupa sama Ayiy? Ini Ailey, Bunda. Anak bunda," tegas Ailey dengan air matanya, yang membuat Sherina mematung. Air matanya turun semakin tak terkendali ketika menyadari jika semuanya sudah berubah.
"Empat tahun, Bun. Kakak lewatin empat tahun kakak, tanpa bunda. Ailey mau bunda," imbuh bocah berusia 7 tahun itu dengan tatapan berharapnya.
__ADS_1
Empat tahun? Apa yang terjadi padanya? Dia bahkan meninggalkan putrinya untuk terakhir kalinya di usia yang masih kecil. Lalu kenapa tiba-tiba bayi kecilnya itu berubah menjadi gadis yang begitu cantik dan manis.
"Kakak janji sama bunda, kakak bakal jagain bunda. Sekalipun bunda bukan ibu yang melahirkan Aiy, tapi bunda dan Kala tetap keluarga Aiy. Jangan benci Ailey ya bunda."