
Sudah dua minggu sejak kepergian Sherina dan Marvin ke rumah sakit. Wanita itu mulai mengikuti permintaan dokternya yang mengatakan jika dirinya harus memperbanyak istirahat demi kandungannya.
"Sayang, hari ini aku mungkin akan pulang sedikit terlambat. Jadi jangan menunggu ku hingga pulang. Okay?" Marvin berjalan masuk ke kamarnya, dan menatap sang istri yang tengah berbaring di atas ranjang.
"Lewat dari jam makan malam?" tanya Sherina dan mengangkat tangannya untuk mengelus tangan kekar suaminya.
Pria itu duduk di sebelah Sherina dan mengelus kening sang istri. Pria yang baru saja selesai membantu Bu Nita untuk memandikan kedua putrinya itu, tersenyum hangat dan menganggukkan kepalanya.
"Jangan lewatkan makan malam mu. Istirahat jika sudah waktunya. Mengerti?" Sherina mengangguk patuh, dan menarik napasnya dalam-dalam.
"Baiklah, aku paham. Jaga dirimu, jangan lupa makan. Aku dan anak-anak menunggumu." Marvin mengecup kening istrinya singkat, dan segera bergegas untuk pergi ke kantor.
Beberapa saat setelah kepergian Marvin, Sherina mendapati jika ponselnya bergetar. Dia dengan cepat langsung mengambil ponselnya dan membaca satu pesan yang masuk.
[Selamat pagi, Bu Sherina. Saya ingin mengonfirmasi jadwal check up ibu, hari ini dapat dilaksanakan. Kami menunggu kedatangan ibu ke rumah saki untuk pengecekan lanjutan, sesuai arahan dari dokter di pertemuan sebelumnya.]
Sherina mendadak terdiam setelah membaca pesan tersebut. Dirinya benar-benar lupa jika memiliki jadwal check up ke rumah sakit.
"Astaga, bagaimana ini? Apakah aku harus menelepon Marvin?" bimbang Sherina sembari memikirkan apa yang harus dirinya lakukan.
"Tidak tidak, dia baru saja berangkat. Marvin tidak akan pergi ke kantor jika tidak ada sesuatu yang mendesak." Sherina mencoba untuk bangun, dan membalas pesan yang berisi konfirmasi tersebut.
Setelah mencoba untuk bangun, wanita itu segera mengganti pakaiannya dan meminta sopir rumahnya untuk mengantarkannya.
"Bu, saya pamit ke rumah sakit dulu ya? Saya titip anak-anak dahulu. Mungkin tidak sampai siang, saya sudah di rumah." pamit Sherina pada Bu Nita sebelum dirinya keluar dari rumah dengan bantuan wanita tersebut.
"Non Sherin hati-hati ya. Kabari ibu kalau ada apa-apa." Wanita itu menatap cemas pada Sherina yang sudah duduk di dalam mobil.
Akhirnya Sherina berangkat menuju rumah sakit, setelah mengirimkan pesan pada suaminya.
Tidak ada sesuatu yang terjadi padanya, bahkan hingga pemeriksaannya selesai. Setelah semua selesai, Sherina pun pamit pulang, tinggal menunggu hasilnya keluar.
__ADS_1
Sherina berjalan menuju lift, setelah memberi kabar pada sang sopir untuk menjemputnya.
"Aku tidak menyangka jika akan selama ini. Untung saja tadi aku minta agar ditinggal saja." Sherina berjalan dengan hati-hati dan masuk ke lift yang sangat sepi.
Dia berdiri dan menekan lantai paling bawah yang ada di gedung tersebut, agar segera tiba di lobby. Tapi belum sampai di bawah, tiba-tiba lift terhenti dan masuk seseorang di lantai 3.
Sherina mengernyit ketika dia tidak merasa asing dengan bentuk tubuh orang tersebut. Tapi karena tidak ingin memiliki pikiran yang tidak-tidak, Sherina hanya mengabaikannya dan berdiri di depan pria tersebut.
Tapi anehnya tidak lama setelah itu, lampu tiba-tiba mati, di susul dengan lift yang langsung berhenti secara mendadak.
"Astaga, apa yang terjadi!?" panik Sherina ketika lift seketika menjadi gelap gulita.
Wanita itu segera merogoh tasnya dan mencari-cari di mana keberadaan ponselnya. Namun belum juga tangannya menjumpai ponselnya, tiba-tiba Sherina tidak bisa bernapas.
Tangan wanita itu sontak memukul sesuatu yang menyumbat hidung dan mulutnya. "Mmmhh!"
Sherina terus memberontak dengan memukulkan tangannya secara terus menerus.
****
Malam harinya, Marvin yang bahkan sudah lelah setelah seharian bekerja itu, langsung masuk ke rumah. Kening pria itu mengernyit ketika mendapati jika Bu Nita dan sang sopir tengah memasang wajah khawatir, dengan air mata yang sudah menetes di pipi wanita paruh baya tersebut.
"Loh, ada apa ini? Kenapa ibu menangis?" Marvin segera mendekat dan memeluk wanita yang sudah dirinya anggap sebagai ibu kandungnya itu.
"Non Sherina belum pulang, Den. Sudah dari pagi tadi belum pulang juga." Dalam sela tangisnya wanita itu mencoba menjelaskan pada Marvin dengan nada takutnya.
"Belum pulang gimana, bu? Bukannya Sherina di rumah seharian ini? Dia tidak memilki jadwal untuk keluar." Marvin mencoba melepas pelukannya dan menatap pria yang berdiri di sebelah Bu Nita.
"Tadi Bu Sherina bilang kalau ada janji ketemu dokter, Pak. Saya mengantarkan jam sembilan dan diminta untuk pulang dahulu. Setelah tiga jam, Bu Sherina mengirim pesan pada saya untuk menjemput. Tapi setelah saya tunggu satu jam lamanya di lobi, bahkan saya sudah masuk dan mencari tetap saja tidak ada, Pak."
Marvin mendadak merasa kaget mendengar penjelasan sang sopir. Dia dengan cepat langsung naik ke kamarnya dan mencari keberadaan sang isti ke seluruh rumah.
__ADS_1
Pria itu sudah kesetanan dalam mencari istrinya. Dia berteriak, bahkan berlarian untuk mencari keberadaan SHerina.
"Sayang!?" panggil pria itu mulai putus asa, yang membuat dua orang yang sedari tadi menatapnya, merasa cemas.
"Kenapa Ibu tidak langsung mengabari Marvin?! Marvin sudah bilang, kalau ada apapun itu entah penting atau tidak, selalu beri kabar pada Marvin!" Tanpa sadar Marvin mulai membnetak wanita yang sudah merawatnya sejak kecil itu.
"Sudah ibu lakukan, Den.Ibu telepon ke nomor pribadi Aden, ke nomor bisnis juga. Tapi semuanya nihil." Bu Nita menunjukan puluhan riwayat panggilan ke nomor Marvin.
Dengan cepat Marvin mengambilnya dan merasa begitu bodoh. Ya, dia sangat bodoh!
Tangan pria itu segera membuka tas kantornya dengan kasar, dan melemparkan apapun itu yang ada di dalamnya dengan perasaan kalut.
"Bapak juga. Kenapa tidak langsung datang ke kantor?! Ini sangat membahayakan istri saya, Pak!" Dengan fokus yang masih tertuju pada tasnya, pria itu berganti menanyai sang sopir.
"Sudah, Pak. Saya sudah sampai di kantor dan memaksa untuk masuk. Tapi resepsionis Bapak mengatakan jika Bapak sedang tidak dapat diganggu oleh apapun dan siapapun. Bahkan setelah saya mengatakan jika Bu Sherina hilang, mereka masih tidak mempercayai saya. Mereka mengira saya pembohong."
Tubuh pria itu seketika melemas ketika melihat puluhan pesan dan panggilan dari Bu Nita dan sopirnya. Tangannya beralih menekan pesan yang dikirimkan oleh sang istri, pukul 9 tadi.
[Sayang, aku ke rumah sakit terlebih dahulu ya? Aku minta maaf karena harus pergi tanpamu. Siang nanti aku pasti sudah pulang. Jadi, sampai jumpa di rumah. Aku mencintaimu.]
Pria itu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, dengan tatapan kosongnya. Ini semua terjadi karena salahnya. Andai dia tidak memberikan peraturan itu kepada resepsionisnya, mungkin dia bisa segera menemukan sang istri. Andai juga ponselnya tidak dirinya senyapkan, mungkin semua tidak akan serumit sekarang.
Saat keadaan rumah sedang panik-paniknya, Ivander tiba-tiba datang dengan setumpuk berkas di tangannya. Tatapan pria itu seketika membeku ketika melihat ekspresi semua orang.
"Vin? Ada apa?" tanya Ivander berdiri di posisinya.
Marvin menolehkan kepalanya dengan tatapan kosongnya. "Sherina diculik." jawabnya singkat yang membuat Ivander terkejut bukan main.
"Apa!? Diculik katamu?" tanya Ivander memastikan apa yang baru saja Marvin katakan.
Marvin tidak menjawab, pikirannya seketika tertuju pada satu hal.
__ADS_1
"Lacak keberadaan Diko! Dia yang melakukan semua ini!"