
Setelah kepergian Ivander, Sherina kembali masuk ke dalam. Wanita itu melanjutkan aktivitasnya seperti biasa, mulai dari membersihkan rumah hingga memasak.
Ketika Sherina selesai memasak, Marvin berjalan keluar dari kamar Sherina dengan tubuh segarnya. Handuk yang menutupi bagian atas tubuh pria itu, tak menutupi semuanya dengan sempurna.
"Maafkan aku, aku menggunakan kamar mandimu." Dengan wajah bantalnya, pria itu berdiri tepat di belakang Sherina.
Sherina yang tak tahu jika Marvin belum mengenakan bajunya itu, seketika terperanjat. Dengan cepat Sherina membalikkan kepalanya sembari memejamkan matanya.
"Kau sudah selesai?" Marvin mengekor pada Sherina yang kini tengah membawa sayur terakhirnya menuju meja makan.
"Sudah. Sekarang, kau pakai bajumu dan segera makan." Wanita itu selalu mengalihkan pandangannya saat Marvin berupaya mendekat padanya.
"Kau tak perlu menahan matamu itu untuk tak menatapku. Aku tidak sepenuhnya telanjang, sayang. Dan lagipula aku masih gerah. Nanti saja," ucap pria itu lalu duduk di kursi.
Sherina menghela napasnya lalu segera duduk di hadapan Marvin. Wanita itu mengambilkan nasi serta lauk untuk Marvin karena pria itu menyodorkan piringnya pada dirinya.
"Kau tahu? Tadi Ivander datang kemari untuk mengantarkan bingkisan." Sherina menatap Marvin yang tengah menyantap makanannya.
__ADS_1
"Dia tahu jika ada aku di sini?" tanya Marvin yang langsung diangguki oleh Sherina.
"Lalu bagaimana responnya?" tanya Marvin lagi, sambil menyuapkan makanannya ke dalam mulut.
Sherina menghela napasnya. "Sangat lucu. Dia melarangku membawamu kembali ke rumah. Takut jika kau berbuat yang tidak-tidak denganku. Bahkan dia sempat menuduhku dengan alibinya yang sangat menjengkelkan."
Sherina yang memang belum lapar itu, hanya menopang dagunya dengan sebelah tangannya. Wanita yang baru melihat tato di tubuh pria itu, diam-diam mencoba melihat apa saja yang Marvin jadikan sebagai referensi tatonya.
"Apa yang akan ku lakukan? Memperkosamu? Jika aku mau, aku bahkan sudah melakukannya sejak malam itu. Tapi aku sudah bilang padamu bukan? Aku tidak akan pernah melakukan hal itu tanpa persetujuan darimu,"
Sherina yang kembali diingatkan dengan malam itu, seketika menatap Marvin dengan wajah yang menggelap. Wajah masam wanita itu berhasil membuat Marvin terkekeh.
Tak ingin mengungkit lebih dalam lagi, Marvin kembali melanjutkan makannya. Membiarkan Sherina mengamati tubuhnya.
"Bukankah itu tulisan cina? apa bunyinya?" Sherina yang melihat tulisan cina diantara potret yang lain itu, mencoba bertanya pada Marvin.
"Sherina Denallie."
__ADS_1
Sherina termangu mendengar jawaban dari Marvin. Itu namanya. Bahkan pria itu sampai mengabadikan namanya ditubuh kekarnya itu.
"Sejak kapan kau menulisnya?" Tanya Sherina lagi dengan wajah yang begitu tenang.
"Tiga tahun lalu, sepertinya. Satu hari setelah peresmian startupku. Kau tahu? Mama bahkan sampai tak habis pikir dengan apa yang ku lakukan. Yang masih ku ingat, mama pernah bilang jika kau mustahil menjadi milikku. Jadi hal itu sia-sia saja, katanya."
Sherina tersenyum tipis sambil menurunkan tangannya. Dia melipat kedua tangannya dan menghembuskan napasnya perlahan.
"Jika apa yang dikatakan oleh mama mu itu benar adanya, bagaimana cara kau menghapusnya? Tidak mungkin bukan, istrimu akan kau suguhi dengan namaku di sepanjang hidupnya?" Sherina mencoba bertanya dengan pertanyaan konyol.
"Biarkan saja dia sampai muntah karena melihat namamu setiap hari. Tapi ku rasa hal itu tidak akan terjadi. Jika benar kau tidak bisa menjadi milikku, maka aku tidak akan menikah. Aku akan melajang seumur hidup."
Sherina tak habis pikir dengan apa yang dipikirkan oleh Marvin. Sebegitu dalamnya kah perasaan pria itu padanya? Wanita itu terdiam beberapa saat, hingga tiba-tiba Marvin berbicara.
"Kau besok datang denganku, ya? Aku rasa akan kurang sopan jika tak menghadiri undangan dari mantan suamimu itu." Sherina tersadar, dan sedikit menimbang dengan tawaran pria itu.
"Sebaiknya kau saja. Aku kurang nyaman dengan tempatnya. Bukankah itu di klub?" Sherina mencoba menolak ajakan dari Marvin.
__ADS_1
"It's okay, Sayang. Kau akan pergi bersamaku."