Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 24


__ADS_3

Sesampainya Nessie dan sang suami di rumah, wanita itu meminta bantuan pada sopirnya untuk mengantarkan suaminya langsung ke kamar.


Setelah kepergian sopirnya, Nessie mencoba mendekati sang suami dan berniat untuk menggantikan pakaiannya. Tapi niat baiknya itu justru ditepis oleh Ivander dengan nada kasarnya.


"Mau apa kau?! Pergi dari hadapanku! Jangan pernah berani menyentuhku!" Dengan nada yang masih tak jelas, pria itu mencoba mengusir Nessie dari hadapannya.


Nessie menatap Ivander dengan tatapan datarnya lalu berdecih pelan. "Terserah! Kau ingin aku tak repot-repot mengurusmu, bukan? Dengan senang hati!"


Setelahnya, Nessie segera turun dan masuk ke dalam kamar tamu, yang mulai sekarang akan ditempati olehnya.


Berbeda halnya dengan Sherina. Wanita yang sudah tiba di Jerman sejak beberapa jam yang lalu itu, kini sudah tiba di apartemennya. Wanita yang bahkan sudah bersiap untuk tidur tersebut, masih tak dapat memejamkan matanya.


Dia memikirkan, bagaimana kondisi keluarganya di negaranya. apakah suaminya mencarinya? Apakah kedua mertuanya akan membencinya?


"Sudahlah, Rin. Mari beristirahat, Ivander pasti juga sudah tenang di sana." Sherina menatap cincin pernikahannya yang masih dia kenakan sampai saat ini.


"Tenanglah, aku pasti akan tetap menggunakanmu. Aku tidak akan melepaskanmu hanya karena aku sudah bercerai dengan suamiku."

__ADS_1


Setelahnya, Sherina mengecup cincin yang mana dahulu dipasangkan oleh Ivander di jari manisnya ini. Tak lama setelah itu, Sherina akhirnya tertidur.


****


Sementara Ivander yang sudah terbangun padahal hari masih pagi buta itu, tiba-tiba keluar dari kamarnya. Pria yang belum sadar sepenuhnya itu, mengetuk pintu kamar yang ada di sebelah kamarnya.


"Rin," panggilnya dengan mata yang kembali dia pejamkan.


Tangan kekar milik pria itu masih mengetuk pintu kamar istrinya, dan berharap agar seseorang yang ada di dalam sana segera membuka pintunya.


"Bisakah kau memasakanku lagi, Rin?" Pria yang sudah snagat kelaparan karena sejak kemarin pagi tak menyantap makanan apapun itu, langsung membuka pintu kamar Sherina.


Seketika Ivander langsung menghentikan tangannya yang sedang membuka pintu. Pria itu baru tersadar jika sang istri sudah tak lagi bersamanya.


Ivander menghela napasnya, dan berjalan masuk ke dalam. Pria itu menutup pintunya, dan memutuskan untuk berbaring di kasur milik Sherina. Lantaran masih mengantuk, pria itu kembali memejamkan matanya, dengan guling Sherina yang ada di pelukannya.


Tak lama setelah puas menghirup aroma yang ada di guling Sherina, Ivander mulai membuka matanya. Pria itu menatap ke sekeliling, dan ada rasa rindu yang mendatanginya.

__ADS_1


"Ada apa denganmu, Van?! Seharusnya kau bahagia karena wanita itu pergi, bukan malah seperti ini!" Ivander menutup sebagian wajahnya dengan lengannya.


"Tunggu! Apakah aku menyukai Sherina?!" Dengan kaget, pria itu langsung duduk dan menahan napasnya.


Jika memang benar dirinya memiliki rasa pada Sherina, maka dirinya sudah sangat keterlaluan pada sherina. Bagaimana dia justru menikahi wanita lain dan membiarkan wanita yang kini dia sukai, pergi begitu saja.


"Tidak, tidak! Tidak mungkin kau menyukai wanita itu. Kau harus bisa bertanggung jawab dengan apa yang sudah kau pilih, Van." Ivander menggelengkan kepalanya dan mencoba membuang pikiran konyolnya itu jauh-jauh.


Pria itu mengingat nessie. Dia bahkan sudah menikahi kekasih yang sangat dirinya cintai. Belum lagi, saat ini wanita itu tengah mengandung anaknya.


"Ingatlah, kau punya tanggung jawab sekarang. Nessie sebentar lagi akan memberikan keturunan untukmu!" Setelah mengatakan hal tersebut, Ivander bergegas keluar dari kamar Sherina dan juga menguncinya.


Pria itu menyimpan kunci kamar milik wanita itu, dan mencari di mana keberadaan istrinya saat ini.


Ketika dirinya sampai di depan kamar tamu, Ivander segera membukanya. Dan benar saja, sang istri masih tertidur dengan begitu pulas.


Perlahan pria itu mendekat dan merebahkan dirinya di sebelah Nessie. Pria itu mendekap istrinya dnegan begitu erat, tanpa memikirkan Sherina yang tengah berusaha mati-matian untuk mengalah dan melupakan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2