Nyonya Tak Bertuan

Nyonya Tak Bertuan
BAB 71


__ADS_3

"Tuan Marvin sudah berkemas dan pergi ke bandara, Nyonya." Sherina langsung melemas saat mendengar penuturan sang bibi.


"Saya pikir Nyonya sudah diberitahu oleh Tuan." Wanita itu ikut merasa kalut saat melihat Sherina yang langsung mencelos.


Sherina menggeleng saat bahunya mengendur. Kemana pria itu akan pergi?


"Masih ada waktu! Nyonya, mari kita ke bandara!" Wanita itu tahu bagaimana perasaan kedua majikannya.


"Aku akan mengantar kalian!" Sherina langsung menganggukkan kepalanya dan pergi ke bandara dengan diantar oleh pria tadi.


Dalam perjalanan, wanita yang sudah merawat Marvin sejak kecil itu, tak henti-hentinya mencoba menenangkan Sherina. Wanita itu mulai bisa membaca kondisi. Kedua insan tersebut pasti sedang dalam masalah.


Tak lama setelahnya, mobil tersebut telah tiba di bandara. Dengan cepat Sherina langsung keluar, tanpa mengucapkan sepatah kata apapun pada dua orang lainnya.


Bu Nita yang melihat Sherina berlarian itu merasa sangat khawatir, pasalnya perutnya itu terlihat hampir menggelinding saat dia berlari.


"Nyonya, hati-hati!" Dengan jantung yang berpompa dua kali lebih kencang itu, dia terus mengikuti langkah cepat Sherina.


Wanita dengan mantel sebatas bawah lututnya itu, menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk melihat di mana Marvin berada.


"Marvin," lirih wanita itu dengan rasa sesak yang tak kunjung pergi dari dadanya.


"Aku minta maaf, Vin." Wanita itu menghapus air matanya sambil terus mengedarkan pandangannya.


Tatapan wanita itu seketika terputus, dia mengingat jika tidak mungkin Marvin pergi penggunakan pesawat. Ini sudah tengah malam.


"Ya, semoga aku tidak terlambat!" Wanita itu bergegas menuju ruang VIP yang ada di sana. Dia berharap jika Marvin berada di sana.


Sementara Bu Nita, wanita yang berusia lebih dari setengah abad itu sudah kehilangan jejak Sherina. Dia panik bukan main ketika menyadari jika dia tak lagi melihat keberadaan Sherina.


Wanita hamil yang rambutnya terurai bebas tersebut, melangkah melewati pintu kaca yang begitu besar. Dia melipat bibirnya ke dalam dan langkahnya seketika terhenti ketika melihat seorang pria yang tengah duduk di depan meja resepsionis.

__ADS_1


Dia benar Marvin-nya? Ingin tak percaya pun mustahil. Koper pria itu, dan bahkan hoodie yang dikenakannya sangatlah melekat di pikiran Sherina.


Perlahan wanita itu berjalan mendekat, mendekati Marvin yang tengah fokus dengan ponselnya. Dari kejauhan, Sherina tahu jika pria itu tengah menatap satu persatu potretnya di galeri.


"Marvin?" Tangan kecil Sherina terulur dan menyentuh puncak kepala milik pria tersebut.


Marvin yang merasakan elusan di kepalanya, serta suara favoritnya itu segera mendongak. Mata merahnya bertemu dengan netra sendu milik wanita yang sudah lelah mencarinya.


"Ingin meninggalkan ku, lagi?" Sherina kembali menangis. Dirinya benci dengan sifatnya yang terlalu perasa.


Marvin tidak menjawab. Dia masih menatap wajah indah milik Sherina dengan rahangnya yang semakin mengeras.


"Marvin, ku mohon-" ucapan Sherina terpotong saat pria itu menundukkan kepalanya dan mengambil sesuatu dari dalam saku hoodienya.


Sherina mematung melihat kotak kecil yang Marvin tunjukkan padanya. Pria itu membuka kotak berwarna merah menyala itu, dan menunjukkannya ke calon sang pemilik.


"Ini cincin yang ku pesan untuk cincin pernikahan kita. Kau suka, bukan?" Suara pria itu terdengar sangat berat.


"Tapi berhubung semuanya sudah berakhir. Jadi, ambil ini. Lakukan dengan sesukamu." Marvin mengambil sebelah tangan Sherina, lalu menyimpan kotak tersebut di tangan kecilnya.


Sherina dengan begitu intens, menatap Marvin. Dia memberikan kotak itu lagi pada Marvin. Dia tidak berhak untuk hal tersebut.


"Ambillah, aku tidak membutuhkannya. Aku senang ketika kau sudah menyiapkannya. Tapi, sama seperti yang kau katakan tadi, semuanya sudah berakhir. Jadi, kita sama-sama tidak membutuhkannya."


Sherina mengatakan hal menyesakkan itu dengan nada yang bergetar. Dia mengatakan itu karena Marvin tak kunjung menjawab pertanyaannya.


Marvin mengepalkan tangannya. Dadanya terasa begitu sesak saat Sherina justru mendukung ucapan penuh asalnya. Dia mengeratkan rahangnya dan menatap Sherina dengan tatapan penuh permusuhan.


"Kau terlalu keras kepala, Sher."


"Kau lebih keras kepala, Vin!"

__ADS_1


Keduanya saling tatap untuk beberapa saat. Air mata Sherina bahkan kembali jatuh saat dirinya tidak dapat membohongi hati kecilnya. Dia terlaku mencintai pria itu.


"Kau berbeda, Vin. Marvin yang dulu selalu bersikap dewasa. Dia tidak pernah meragukan Sherina-nya. Dia tidak pernah mengambil keputusan tanpa pemikiran yang panjang."


Kedua netra hitam milik pria itu ditatap dengan begitu intens oleh Sherina. Dia berharap kekeras kepalaan Marvin dapat mencair dengan cepat sebelum waktunya habis.


"Aku tahu aku salah. Tapi ini semua hanya salah paham, Vin. Kau terlalu cepat menyimpulkan semuanya." Sherina masih berusaha agar pria itu dapat mengubah semuanya.


Lagi dan lagi pria yang duduk di hadapan Sherina itu tak menjawab satupun ucapan Sherina. Dia tenggelam dengan pikirannya sendiri.


"Semuanya ada di tanganmu, Vin. Kembalilah seperti semula, dimana kau tidak berani menggapaiku, dan aku tidak mengenalmu."


Sherina tersenyum tipis dan berkata dengan nada yang begitu tenang. Berbeda halnya dengan Marvin. Pria itu merasa jika hatinya seakan diremat dengan begitu kerasnya. Dia tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.


Saat Sherina hendak mengucapkan kata terakhirnya, tiba-tiba asisten pribadi Marvin datang dan memberitahu jika jet pribadi pria itu sudah tiba.


Tanpa berpamitan dan mengucapkan sepatah kata apapun pada Sherina, pria itu segera bangkit dan hendak mendorong kopernya untuk keluar.


"Aku mencintaimu, Vin. Aku sangat mencintaimu," lirih Sherina saat Marvin melewati tubuhnya dengan begitu saja.


Tatapan wanita itu benar-benar kosong. Dipandangnya tembok berwarna krem yang ada di depannya, dengan air mata yang turun semakin deras.


"Aku menyerah. Aku menyerah, Vin." Wanita itu duduk tepat di sebelah kotak cincin yang Marvin tinggalkan untuknya.


Ibu hamil tersebut menundukkan kepalanya dengan air mata yang masih terus menetes. Tangannya dia gunakan untuk menahan tubuhnya, di samping.


"Mama minta maaf, Sayang."


Sherina lama terdiam dengan posisi tersebut. Dia berharap Marvin akan kembali dan meminta maaf padanya, lalu memperbaiki semuanya? Tentu saja, dia sangat mengharapkan hal tersebut.


Tapi nyatanya hal itu sama sekali tak terwujudkan. Sherina mulai putus asa, hingga tiba-tiba dirinya merasakan jika ada seseorang yang datang ke hadapannya.

__ADS_1


Sherina perlahan membuka matanya dan melihat tangan kekar yang tengah membuka kotak cincinnya. Tubuh Sherina bergetar dengan sangat hebat, saat perlahan, pria itu mengeluarkan cincin berlian yang ada di dalamnya, lalu memasangkan cincin tersebut di jari manisnya.


"Bersedia menikah denganku?"


__ADS_2